SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

ikhtilaf


Ikhwan
6 years ago

assalamualaikum.. ana try dari timor leste mau bertanya ustadz
bagai mana menyikapi perbedaan pendapat tentang isbal...?
di kalangan masyarakat ada yg berangapan menurunkan pakaian dibawah mata kaki (isbal) tidak megapa, jika tidak berniat sombong.. bahkan itu rebawa sampai ke dalam megerjakan sholat. ini terjadi pada orng2 pekerja kantoran. bahkan tidak sedikit masyarakat umun juga berprilaku demikian.
apakah sholatnya ini sah atau tidak..??
dan bukanya dalam mengerjakan sholat kita tidak di perbolehkan mengulung atau melipat pakaian kita... Jazakallah
Redaksi salamdakwah.com
6 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Memang ada perbedaan pendapat terkait hukum Isbal yang tidak disertai kesombongan. Namun pendapat yang rajih -wallahu a'lam- isbal diharamkan, baik itu disertai kesombongan ataupun tidak. Diantara dail yang menguatkan keharaman isbal secara umum adalah:

1. Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam

مَا أَسْفَلَ مِنَ الكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ.

Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka. HR. Bukhari no.5787

2. Hadits:

عَنْ عَمْرِو بْنِ فُلَانٍ الْأَنْصَارِيِّ، قَالَ: بَيْنَا هُوَ يَمْشِي قَدْ أَسْبَلَ إِزَارَهُ، إِذْ لَحِقَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَدْ أَخَذَ بِنَاصِيَةِ نَفْسِهِ وَهُوَ يَقُولُ: " اللهُمَّ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ " قَالَ عَمْرٌو: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي رَجُلٌ حَمْشُ السَّاقَيْنِ، فَقَالَ: " يَا عَمْرُو، إِنَّ اللهَ قَدْ أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ، يَا عَمْرُو " وَضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَرْبَعِ أَصَابِعَ مِنْ كَفِّهِ الْيُمْنَى تَحْتَ رُكْبَةِ عَمْرٍو، فَقَالَ: " يَا عَمْرُو، هَذَا مَوْضِعُ الْإِزَارِ " ثُمَّ رَفَعَهَا، ثُمَّ ضَرَبَ بَأَرْبَعِ أَصَابِعِ مِنْ تَحْتِ الْأَرْبَعِ الْأُوَلِ، ثُمَّ قَالَ: " يَا عَمْرُو، هَذَا مَوْضِعُ الْإِزَارِ " ثُمَّ رَفَعَهَا ، ثُمَّ وَضَعَهَا تَحْتَ الثَّانِيَةِ فَقَالَ: " يَا عَمْرُو، هَذَا مَوْضِعُ الْإِزَارِ "

Dari Amru bin Fulan Al Anshari ia berkata, "Bahwa saat Amru berjalan dengan kainnya yang musbil (melebihi kedua mata kaki), tiba-tiba Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjumpainya, maka beliau memegang ubun-ubunnya seraya mengatakan: "ALLAHUMMA 'ABDUKA IBNU 'ABDIKA IBNU AMATIKA (Ya Allah! Hamba-Mu, anak hamba-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu." Amru berkata, "Aku lalu berkata, "Wahai Rasulullah, aku adalah seorang yang kecil betisnya." Maka beliau bersabda: "Wahai Amru, sesungguhnya Allah 'azza wajalla telah memperbaiki penciptaan segala sesuatu. Wahai Amru, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sambil menepuk bagian belakang lutut Amru dengan empat jari tangannya yang sebelah kanan seraya berkata, 'Wahai Amru, di sinilah posisi kain." Kemudian beliau pun mengangkat dan meletakkannya di bawah jarinya yang kedua seraya bersabda: "Wahai Amru, di sinilah posisi kain." HR. Ahmad no.17782. Dihasankan oleh Al-Albani di silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah 6/405

Orang yang kainnya terjulur melebihi mata kaki saat shalat telah melakukan dosa, namun shalatnya tetaplah sah. Imam an-Nawawi menerangkan:
Ulama' bersepakat tentang larangan seseorang shalat sedangkan pakaiaan atau lengan bajunya tergulung....semua ini terlarang dengan kesepakatan ulama', Makruh di sini adalah makruh Tanziih (bukan keharaman.pent), seandainya seseorang shalat dan keadaannya seperti itu maka dia telah berbuat buruk akan tetapi shalatnya tetap sah. Al-Minhaaj syarh shahih Muslim bin Al-hajjaaj oleh imam An-Nawawi 4/209

Memang ada larangan melipat kain kala shalat, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الجَبْهَةِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَاليَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ القَدَمَيْنِ وَلاَ نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعَرَ».

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Aku diperintah (oleh Allah) untuk bersujud pada tujuh tulang, yaitu pada dahi –dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menunjuk dengan tangannya pada hidung beliau-, dua (telapak) tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua telapak kaki. Dan kami tidak (boleh) menahan pakaian dan rambut”. HR. Bukhari no. 812 dan Muslim no.490

Namun bila terpaksa memilih antara isbal dalam shalat atau melipat celana/kainnyanya saat shalat maka melipat kain inilah yang dilakukan karena ancamannya tidak seperti isbal.

Untuk menghindari larangan tadi Seharusnya seorang laki-laki muslim memendekkan kain atau celana yang ia pakai sehingga kain itu tidak melampaui mata kaki, baik itu di kala shalat ataupun di luar shalat. Wallahu ta'ala a'lam
© 2021 - Www.SalamDakwah.Com