SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Syubhat Tentang Ucapan Aamiin, Ucapan Assalamu Alaika Dalam Tasyahhud, dan Tentang Waktu Shalat Fardhu


Ikhwan (Lampung)
6 years ago

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Ada beberapa hal yang kami tanyakan tentang sholat fardhu;
1. Menurut orang syiah ucapan aamiiin dalam sholat haram karena bukan bahasa Al-quran sehingga kalau diucapkan membatalkan sholat
2. Tidak boleh mengucapkan Assalamu alaika ayyuhannabiyyu, karena ucapan salam hanya dibaca diakhir sholat, kalau dibaca sebelum selesai sholat, maka sholatnya batal.
alasannya "sholat dimulai dari takbir dan diakhiri dengan salam".
3. Waktu sholat fardhu hanya tiga (pagi, siang,malam) sebagaimana dalam Al-quran
Redaksi salamdakwah.com
6 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

3 pernyataan yang disebutkan di pertanyaan di atas bertentangan dengan dalil-dalil yang shahih dan tegas sehingga tidak boleh diamalkan. Kami di sini hanya akan membawakan 1 hadits shahih untuk setiap pernyataan yang dibawakan di atas.

1. Riwayat hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِذَا قَالَ الإِمَامُ: {غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7] فَقُولُوا: آمِينَ، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ المَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Apabila imam melafalkan:

{غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ}

Maka ucapkanlah: Aamiin. Sesungguhnya barang siapa yang ucapannya (aamiin.pen) bertepatan dengan Aamiin nya Malaikat maka dosanya yang telah lalu akan diampuni. HR. Bukhari no.728 dan Muslim no. 410 dan lafadzh ini adalah lafadz Bukhari

2. Riwayat hadits:

حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، قَالَ: حَدَّثَنِي شَقِيقٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْنَا: السَّلاَمُ عَلَى اللَّهِ قَبْلَ عِبَادِهِ، السَّلاَمُ عَلَى جِبْرِيلَ، السَّلاَمُ عَلَى مِيكَائِيلَ، السَّلاَمُ عَلَى فُلاَنٍ وَفُلاَنٍ، فَلَمَّا انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ، فَقَالَ : " إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلاَمُ، فَإِذَا جَلَسَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاَةِ فَلْيَقُلْ: التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، فَإِنَّهُ إِذَا قَالَ ذَلِكَ أَصَابَ كُلَّ عَبْدٍ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، ثُمَّ يَتَخَيَّرْ بَعْدُ مِنَ الكَلاَمِ مَا شَاءَ

Telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Syaqiq bin Salamah, ia berkata, ” Abdulloh berkata, “Jika kami sholat di belakang Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, kami membaca:

السَّلاَمُ عَلَى جِبْرِيلَ، السَّلاَمُ عَلَى مِيكَائِيلَ، السَّلاَمُ عَلَى فُلاَنٍ وَفُلاَنٍ

Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada malaikat Jibril dan Semoga kesejahteraan terlimpah kepada malaikat Mika’il, dan semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada si fulan dan si fulan

Lalu Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam menoleh ke arah kami seraya bersabda: “Sesungguhnya Alloh, Dialah As-Salaam. Maka jika seseorang dari kalian sholat, hendaklah ia membaca:

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

(Segala penghormatan hanya milik Alloh, juga segala pengagungan dan kebaikan. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada engkau wahai Nabi dan juga rahmat dan berkah-Nya. Dan juga semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada kami dan kepada hamba-hamba Alloh yang shalih).

Sesungguhnya jika kalian mengucapkan seperti ini, maka kalian telah mengucapkan salam kepada seluruh hamba Alloh yang shalih di langit maupun di bumi. (Dan lanjutkanlah dengan bacaan):

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

(Aku bersaksi tidak ada Rabb yang berhak disembah selain Alloh, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya’).” HR. Bukhari no.831 dan yang lainnya

3. Kadangkala syariat yang diterangkan oleh Allah ta'ala dalam al-Qur'an bentuknya global dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menerangkan perinciannya. Meski di Qur'an tidak disebutkan lima waktu secara tegas namun Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan perincian waktu shalat sebanyak lima waktu. Imam Muslim meriwayatkan:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي مُوسَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ " أَتَاهُ سَائِلٌ يَسْأَلُهُ عَنْ مَوَاقِيتِ الصَّلَاةِ، فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ شَيْئًا، قَالَ: فَأَقَامَ الْفَجْرَ حِينَ انْشَقَّ الْفَجْرُ، وَالنَّاسُ لَا يَكَادُ يَعْرِفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ بِالظُّهْرِ، حِينَ زَالَتِ الشَّمْسُ، وَالْقَائِلُ يَقُولُ قَدِ انْتَصَفَ النَّهَارُ، وَهُوَ كَانَ أَعْلَمَ مِنْهُمْ، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ بِالْعَصْرِ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ بِالْمَغْرِبِ حِينَ وَقَعَتِ الشَّمْسُ، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ، ثُمَّ أَخَّرَ الْفَجْرَ مِنَ الْغَدِ حَتَّى انْصَرَفَ مِنْهَا، وَالْقَائِلُ يَقُولُ قَدْ طَلَعَتِ الشَّمْسُ، أَوْ كَادَتْ، ثُمَّ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى كَانَ قَرِيبًا مِنْ وَقْتِ الْعَصْرِ بِالْأَمْسِ، ثُمَّ أَخَّرَ الْعَصْرَ حَتَّى انْصَرَفَ مِنْهَا، وَالْقَائِلُ يَقُولُ قَدِ احْمَرَّتِ الشَّمْسُ، ثُمَّ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى كَانَ عِنْدَ سُقُوطِ الشَّفَقِ، ثُمَّ أَخَّرَ الْعِشَاءَ حَتَّى كَانَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَوَّلُ، ثُمَّ أَصْبَحَ فَدَعَا السَّائِلَ، فَقَالَ: الْوَقْتُ بَيْنَ هَذَيْنِ "

“Telah menceritakan kepada kami Abu bakr bin Abi Musa dari ayahnya dari Rasûlullah shallallahu alaihi wa sallam, sesungguhnya telah datang seseorang yang menanyakan tentang waktu-waktu shalat, namun Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menjawabnya. Abu musa berkata : Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukan shalat shubuh ketika terbit fajar (shâdiq), sedangkan orang-orang pada waktu itu (terbit fajar) hampir tidak dapat melihat satu sama lainnya. Kemudian Beliau memerintahkan si penanya (orang badui), lantas Beliau melakukan shalat dhuhur ketika matahari mulai bergeser (ke barat), ketika itu (matahari mulai bergeser ke barat) ada orang berkata: Waktu siang telah berjalan separuh, padahal Nabi lebih mengetahui dibanding mereka, kemudian Beliau memerintahkan si penanya. Kemudian Beliau melakukan shalat ‘ashar sedangkan matahari masih tinggi (belum terbenam), kemudian Beliau memerintahkan si penanya. Setelah itu Nabi melakukan shalat maghrib ketika matahari telah terbenam, kemudian Beliau memerintahkan si penanya. Kemudian Beliau melakukan shalat ‘isya ketika mega merah telah sirna. Pada keesokan harinya, Beliau mengakhirkan shalat shubuh. Beliau salam dari shalat shubuh, ketika orang-orang bekata matahari telah terbit, atau hampir terbit. Kemudian Beliau mengakhirkan shalat dhuhur hampir mendekati waktu ‘ashar kemarin. Kemudian Beliau melakukan shalat ‘ashar, Beliau salam ketika orang-orang berkata matahari telah memerah. Kemudian Beliau mengakhirkan shalat maghrib sampai hampir mega merah sirna. Beliau juga mengakhirkan shalat ‘isyâ sampai 1/3 malam, kemudian Beliau memasuki waktu shubuh. Beliau memanggil si a’raby yang bertanya, Beliau bersabda : Waktu shalat adalah diantara dua waktu ini (hari ini dan kemarin).” (H.R. Muslim no.614 dan yang lainnya)

PERTANYAAN TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com