SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Mensikapi Informasi Orang Yang Kesurupan?Mengatasi Kesurupan?


Ikhwan (Lampung)
6 years ago

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Disekolah kami sering terjadi siswa kesurupan, Waktu kesurupan dia mnceritakan sikap dan kejelekan orang lain (seakan akan dia mengetahui apa yg selama ini disembunyikan orang lain), kemudian dia menasehati temannya dengan hal yg baik (menyuruh membaca Al-Qur'an setiap pagi dan melarang siswi berpakaian ketat).
pertanyaan kami:
1. Bagaimana sikap kami terhadap siswa tersebut apakah apa yg disampaikan dapat dipercaya, atau mengiakan apa yg dia inginkan ?
2. Bagaimana mengobati orang kesurupan dan mencegah kesurupan ?

Demikian pertanyaan Kami atas jawaban ustaz kami haturkan jazakumullahu khairan katsira.

(muh. yusuf muis)
Redaksi salamdakwah.com
6 years ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

1. Terkait informasi yang diberikan oleh orang yang kesurupan (hakikatnya adalah informasi dari jin) maka selayaknya kita tidak membenarkan dan mendustakannya kecuali bila kita memiliki bukti yang mendukung atau mendustakan informasi tersebut.

Ibnu Taimiyyah menerangkan:
Adapun bertanya kepada jin dan bertanya kepada orang yang bertanya kepada jin (jika maksudnya adalah membenarkan semua informasi mereka dan mengagungkan mereka) maka ini diharamkan, telah ada riwayat di shahih Muslim dan yang lainnya dari Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami dia berkata:
“Ya Rosululloh, perkara-perkara yang dahulu pada zaman jahiliyyah kami mengerjakannya adalah kami mendatangi dukun” Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam berkata:
“Jangan kalian mendatangi dukun”.

Dan juga di shahih Muslim, dari Ubaidillah, dari Nafi' dari Shafiyyah dari beberapa isri Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
“Siapapun yang pergi ke peramal dan bertanya kepadanya tentang sesuatu maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari."

Adapun jika bertanya kepada mereka untuk menguji dan memeriksa kebenarannya (dan penanya memiliki keterangan untuk membedakan kejujuran dari kedustaannya) maka ini dibolehkan sebagaimana diriwayatkan dalam ash-Shahihain:
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya (kepada Ibnu Shayyad): “Apa yang datang kepada mu?”
Ibnu Shayyad menjawab: “Datang kepadaku yang jujur dan yang dusta.”
Rasulullah berkata kepadanya:Apa yang kamu lihat? Dia menjawab: aku melihat arsy di atas air
Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadanya (bermaksud menguji): “Aku sembunyikan sesuatu untukmu?” Ibnu Shayyad menebak: “Ad-Dukh (asap/kabut).”
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tetaplah di tempatmu. Engkau tidak akan melampaui apa yang telah Allah takdirkan padamu. Engkau hanyalah seorang dukun. Majmu' al-Fatawa 19/62-63

Terkait anjurannya untuk mentaati syariat seperti membaca al-Qur'an dan menutup aurat maka itu memang seharusnya dilaksanakan oleh seorang mukmin meski tanpa ada perkataan dari orang yang kesurupan terkait hal itu.

2. Mengobati orang yang kesurupan bisa dilakukan dengan meruqyahnya (dengan ayat-ayat al-Qur'an atau dzikir-dzikir dan doa yang shahih). Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa pernah ditanya:
Cara mengatasi gangguan jin yang biasa kami lakukan di Mesir adalah dengan pergi ke gereja khususnya gereja Maria Garges atau dengan pergi ke tukang sihir dan pembohong (peramal.pent) yang tersebar di berbagai pelosok desa, dan terkadang cara itu memang bermanfaat. Apakah hal ini boleh dilakukan? Perlu diketahui bahwa orang yang terkena gangguan jin tersebut kalau tidak segera diatasi maka dia akan meninggal dunia. Lalu bagaimana cara mengobati penyakit ini sesuai dengan yang diajarkan oleh syariat Islam. Kami mengetahui bahwa setiap penyakit ada obatnya, kecuali kondisi tua. Kami mohon diberi jawaban yang detail mengenai cara penyembuhannya?

Mereka menjawab:
Pergi ke gereja, tukang sihir, atau peramal untuk menyembuhkan gangguan jin hukumnya tidak boleh.
Adapun cara menyembuhkan yang diperbolehkan adalah ruqyah syar`i yaitu dengan membaca Al-Qur`an, seperti surah al-Fatihah, surah al-Ikhlas, surah al-Falaq, surah an-Naas, Ayat Kursi serta dzikir dan doa yang diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 1/292-293 pertanyaan ketiga dari fatwa no 8122

PERTANYAAN TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com