SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Shalat Tarawih 20 Rakaat Yang Dilakukan di Makkah-Madinah


Ikhwan (Bekasi)
6 years ago

Ustadz, dalam hadits yang Shohih Rasulullah Shallallho 'alayhi wassallam biasa melakukan shalat malam 11 raka'at... Lalu, bagaimana hukumnya orang yg melakukan shalat malam/tarawih 20 raka'at? Yg saya pernah cek, hadits yg menyatakan 20 raka'at adalah dho'if... Kalau begitu, bagaimana dengan tarawih di Makkah-Madinah yang 20 raka'at?
Redaksi salamdakwah.com
6 years ago

Masalah jumlah raka'at shalat Tarawih adalah termasuk masalah fiqih yang memang diperselisihkan oleh para Ulama', dan masalah ini tidaklah sesederhana yang penanya bayangkan, selayaknya penanya membaca buku dan keterangan Ulama' lain yang memiliki pendapat yang berbeda dari buku atau keterangan yang ia baca sebelumnya. Diantara pendapat yang menerangkan bolehnya melaksanakan shalat Tarawih 20 raka'at adalah pendapat Lajnah Daimah, mereka pernah ditanya:
Apa pendapat para ahli fiqih terkait shalat Tarawih, apakah sunnahnya dua puluh raka'at atau delapan rakaat?
Apabila yang benar menurut sunah adalah delapan rakaat, mengapa di Masjid Nabawi dilaksanakan dua puluh rakaat dan masyarakat secara umum menjadikannya dalil atas kesunahan tarawih dua puluh rakaat?

Mereka menjawab:
Shalat tarawih adalah ibadah sunnah yang dianjurkan oleh Rasululullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Banyak dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat (malam) tidak pernah lebih dari sebelas rakaat, baik pada bulan Ramadhan maupun selainnya. Abu Salamah pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu 'anha perihal salat yang dilakukan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pada bulan Ramadhan. Aisyah menjawab, 

مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ تَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ؟ قَالَ: «تَنَامُ عَيْنِي وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي

"Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengerjakan salat malam tidak pernah lebih dari sebelas rakaat, baik pada bulan Ramadhan maupun selainnya. Beliau shalat empat rakaat yang tidak perlu diragukan kualitas dan lama pelaksanaannya. Kemudian, beliau salat empat rakaat yang tidak perlu diragukan kualitas dan lama pelaksanaannya. Kemudian beliau salat tiga rakaat." Aisyah bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum salat witir?" Beliau menjawab, "Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidak."(Muttafaq 'Alaih).

Ada juga hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah salat tiga belas rakaat pada beberapa malam. Oleh karena itu, pernyataan Aisyah radhiyallahu 'anha

مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

"Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat (malam) baik di dalam bulan Ramadan maupun di luar Ramadan, tidak pernah lebih dari sebelas rakaat." harus ditafsirkan bahwa pernyataan Aisyah tersebut maksudnya adalah yang sering Nabi shallallahu alaihi wa sallam laksanakan.

Ini adalah hasil dari memadukan hadis ini dengan riwayat lain (yang menyebutkan bahwa beliau pernah salat malam lebih dari sebelas rakaat). Dengan demikian, diperbolehkan menambah rakaat shalat tarawih lebih dari sebelas rakaat, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak pernah membatasi jumlah rakaat salat malam. Namun ketika ditanya perihal salat malam, beliau menjawab,  "Salat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu subuh, hendaklah dia salat satu rakaat sebagai witir (penutup) salat yang telah dilaksanakan sebelumnya."
(Muttafaq 'Alaih).

Beliau tidak membatasi rakaat shalat malam hanya sebelas rakaat atau bilangan tertentu lainnya. Itu menunjukkan adanya keleluasaan mengenai rakaat salat malam, baik pada bulan Ramadhan maupun selainnya.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 7/194-196 fatwa no.3953

والله تعالى أعلم بالحق والصواب
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com