SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Hukum Hormat Bendera


Ikhwan
8 years ago

Ustadz yang saya cintai karena Allah.

1.Bagaimana hukum penghormatan terhadap Bendera dan atasan yang pangkat lebih tinggi seperti dalam kemiliteran baik TNI maupun POLRI ??

2.Bagaimana hukum jika ada seorang pemuda yang melihat ada seorang gadis yang hampir tenggelam meminta tolong, tapi pemuda ini takut terkena fitnah dan dosa karena apabila menyelamatkan wanita itu pasti nanti akan di peluk ke daratan dan harus diberi Nafas buatan,sedangkn wanita itu sangat Cantik dan mempesona??

Syukron atas Jawabanya
Redaksi salamdakwah.com
8 years ago

أحبك الذي أحببتني له



PEMBAHASAN PERTAMA: HORMAT BENDERA
Berikut ringkasan dari beberapa pendapat ulama’ mengenai Hormat bendera:
Pendapat pertama:
Fatwa Lajnah Daimah (terjemahnya): “seorang muslim Tidak diperbolehkan berdiri dalam rangka mengagungkan bendera nasional ataupun lagu kebangsaan karena:
a. Itu adalah bid’ah yang munkar, tidak ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pula di masa para khulafaur rasyidin.
b. Perbuatan tersebut meniadakan kesempurnaan tauhid yang diwajibkan (atas Muslim.pen) dan meniadakan pemurnian dari pengagungan kepada Allah semata.
c. Perbuatan tersebut adalah sarana menuju kemusyrikan.
d. Dalam perbuatan tersebut terdapat unsur menyerupai orang kafir dan mengekor mereka dalam tradisi mereka yang buruk serta sejalan dengan mereka dalam sikap berlebihan mereka terhadap pemimpin dan simbol-simbol mereka, padahal Nabi melarang menyerupai orang kafir baik dengan sengaja ataupun tanpa sengaja”. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah juz.1 hal.235)

pendapat kedua:
Syaikh Abdul Muhsin Al-Ubaikan sepakat dengan pendapat ini (melarang):
- jika terdapat pengagungan terhadap bendera sebagaimana pengagungan terhadap sesuatu yang disembah karena ini adalah kesyirikan
- dan jika orang yang melakukan hormat bendera ini bermaksud menyembah Allah ta’ala dengan cara ini karena ini adalah bid’ah

Tapi beliau berpendapat bahwa dalam kenyataannya dua point di atas tidak terjadi
Dengan begitu beliau berpendapat bahwa hormat bendera hukumnya bolehi karena dua hal yang dilarang diatas tidak terwujud dan karena menghormati makhluq hukumnya boleh, selama penghormatan itu tidak seperti penghormatan terhadap Allah ta’ala. Lihat di situs resmi beliau. http://www.al-obeikan.com/article/90-%D8%AA%D8%AD%D9%8A%D8%A9%20%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%84%D9%85.html

Pendapat ketiga:
Syaikh Dr Syadzi bin Muhammad Salim berpendapat lain: beliau membawakan fatwa Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa menyelisihi orang Musyrik dalam kebiasaannya diperintahkan jika seorang muslim berada di negeri yang didominasi oleh penerapan syariat.
Akan tetapi di negeri yang tidak didominasi penerapan syariat maka menyelisihi kebiasaan orang kafir tidak diperintahkan untuk sementara waktu
Syaikh Syadzi menjelaskan bahwa maksud Ibnu taimiyah adalah untuk sementara waktu sampai kebiasaan negeri itu berubah.
Kemudian beliau membawakan permisalan dari Ibnu taimiyah yaitu seorang Nasrani yang tinggal di negeri kafir kemudian masuk Islam maka apakah dia diminta untuk menyelisihi tradisi masyarakat setempat yang bukan tradisi Islam? Jika dia akan dibunuh atau disiksa kalau menyelisihi tradisi tersebut maka hendaknya dia tidak menyelisihi tradisi tersebut dan bersabar sampai penerapan syariat Islam dominan di negerinya yaitu saat penduduknya masuk Islam dan kemudian dominan penerapan syariat di negeri tersebut
Selanjutnya beliau menyinggung penerapan fatwa Ibnu Taimiyah tadi di Indonesia, beliau berkata: Jika ada bahaya nyata yang mengancam anda jika anda tidak mau memberikan penghormatan kepada bendera maka kami berpandangan –insya Allah- tidaklah mengapa memberikan penghormatan kepada bendera. Jadi diperbolehkan menyamai masyarakat dalam masalah ini untuk sementara waktu. Artinya anda menyamai masyarakat dalam hal ini dan dalam waktu yang bersamaan para dai hendaknya bersemangat untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat bahwa kebiasaan semacam ini adalah kebiasaan yang disusupkan ke dalam tubuh kaum muslimin dan sama sekali bukanlah bagian dari ajaran Islam”.
Ini adalah ringkasan dari sebagian ceramah beliau yang berkenaan dengan pertanyaan, silahkan download ceramah beliau di http://salafiyunpad.wordpress.com/2011/06/21/download-audio-kajian-tematik-bersama-syaikh-dr-abu-hafs-syadzi-muhammad-salim-an-nu%E2%80%99man-yogyakarta-20-juni-2011/
jadi intinya kalau tidak ada bahaya yang mengancam maka seorang muslim tidak boleh melakukannya, tapi kalau ada bahaya mengancam maka boleh melakukannya.

PEMBAHASAN KEDUA: HORMAT ALA MILITER
Mengenai hormat ala tentara ada fatwa Lajnah Daimah
Penghormatan ala militer yang dilakukan terhadap sesama tentara dengan menggunakan isyarat tangan adalah cara memberi penghormatan yang terlarang dalam syariat. Cara memberi penghormatan di antara sesama kaum muslimin adalah dengan ucapan “assalamu’alaikum. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bersabda
“أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «ليس منا من تشبه بغيرنا، لا تشبهوا باليهود ولا بالنصارى، فإن تسليم اليهود الإشارة بالأصابع، وتسليم النصارى الإشارة بالأكف”. أخرجه الترمذي رقم 2695.حسنه الألباني
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah golongan kami orang-orang yang menyerupai orang-orang kafir. Janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi ataupun Nasrani. Sesungguhnya penghormatan ala Yahudi adalah isyarat dengan jari jemari sedangkan penghormatan ala Nasrani adalah isyarat dengan telapak tangan”.
http://islamqa.info/ar/ref/130805

PEMBAHASAN KETIGA: MENYELAMATKAN WANITA YANG TENGGELAM
Dalam kasus yang anda ceritakan seorang laki-laki wajib menolong perempuan tersebut kalau tidak ada wanita atau mahramnya yang bisa menolong dia meskipun di situ ada pelanggaran syariat, ini dilakukan karena memilih menempuh bahaya yang lebih ringan untuk selamat dari bahaya yang lebih berat.

Dalam kaidah ushul disebutkan tentang memilih bahaya atau kejelekan yang lebih ringan untuk menghindar dari bahaya yang lebih berat, maksud kaidah ini jika tidak mungkin selamat dari suatu bahaya kecuali dengan mengambil bahaya lain maka harus dipilih yang lebih ringan. Dengan catatan harus menempuh bahaya/ kejelekan yang lebih ringan seperlunya saja. Dalil kaidah ini adalah firman Allah ta’ala mengenai Nabi khidr:
أمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا (الكهف:٧٩)

Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.

Kita faham dari Ayat ini bahwa ada dua kejelekan yang terjadi:
yang pertama adalah perahu diambil paksa oleh raja
yang kedua adalah merusakkan perahu supaya tidak diambil raja, karena raja hanya mengambil perahu yang bagus.
Ketika dibandingkan kejelekan yang pertama lebih berat dari kejelekan yang kedua. Dan diketahui bahwa tidak mungkin selamat dari kejelekan yang pertama kecuali dengan melakukan kejelekan yang kedua maka dilakukanlah kejelekan yang kedua ini.
(lih. Tafsir Al-Kahfi oleh syaikh Utsaimin hal.121).

Dalam kasus yang anda ceritakan harusnya orang yang menolong tersebut berniat untuk menolong dan bukan untuk menikmati. (lih. Al-Mustashfa oleh Imam Al-Ghazali hal.71).

Wallahu a’lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com