SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Fenomena Pekuburan Mewah


Ikhwan (Bekasi)
6 years ago

Assalamuallaykum..wrwb., tanya pak ustad., bagaimana hukum islam, apabila meninggal dunia dimakamkan ditempat makam yang diatur dan diselenggarakan dengan cara2 yang mewah. Misalnya harga tanah makamnya berbeda-beda sesuai dgn lokasi dan fasilitasnya.....jasakumullah khairan.
Sdb*
Redaksi salamdakwah.com
6 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته


Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda:


يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ


"Mayyit diiringi tiga hal, yang dua akan kembali sedang yang satu terus menyertainya, ia diiringi oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Harta dan keluarganya akan kembali, sedang amalnya akan terus tetap bersamanya." HR. Bukhari no.6514 dan Muslim no.2960

Dalam hadits ini Rasul shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan apa yang hakikatnya mengiringi seorang hamba ketika ia meninggal dunia, yaitu hanya amalannya yang akan mengiringinya. Oleh karena itu, harta apapun yang disertakan ke mayit saat ia dikubur tidak akan bermanfaat untuknya, termasuk keindahan tempat persemayaman terakhirnya.

Fenomena pengeluaran berlebihan untuk biaya pemakaman dan lahan kuburan lebih tepatnya digolongkan dalam sikap menghambur-hamburkan harta, dan ini terlarang. Seandainya dana itu dialokasikan untuk masyarakat yang membutuhkan atau lembaga sosial niscaya itu lebih berguna bagi mereka, dan apabila itu diniatkan shodaqoh untuk mayit maka itu juga akan bermanfaat bagi yang telah meninggal..

Bersedekah dengan niat supaya pahalanya sampai ke mayit hukumnya boleh, bahkan disunnahkan, dan pahala shadaqah ini sampai ke mayit yang dituju. Orang yang bersedekah pun memperoleh bagian pahala. Point-point tadi disepakati oleh ulama’ (lih. Al-Minhaj Syarh shahih Al-Muslim oleh imam An-Nawawi 11/84). Dalil untuk masalah ini adalah sabda Rasul shallallahu alaihi wa sallam:


إِنَّ أُمِّيَ افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا وَلَمْ تُوصِ، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، أَفَلَهَا أَجْرٌ، إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ تَصَدَّقْ عَنْهَا.


“Ibuku meninggal mendadak, sementara beliau belum berwasiat. Saya yakin, andaikan beliau sempat berbicara, beliau akan bersedekah. Apakah beliau akan mendapat aliran pahala, jika saya bersedekah atas nama beliau?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya. Bersedekahlah atas nama ibumu.”HR. Bukhari no.1388 dan Muslim no.1004

Dalam hadits lain disebutkan:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَبِي مَاتَ وَتَرَكَ مَالًا، وَلَمْ يُوصِ، فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهُ؟ قَالَ: «نَعَمْ».


Dari Abu Hurairah ia berkata: Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw: ayahku telah wafat dan meninggalkan harta, sementara beliau tidak berwasiat, apakah dengan aku sedekahkan harta tersebut bisa menjadi kafarat (penebus) atas dosa-dosanya?, Nabi menjawab: “Ya.” HR. Muslim no.1630


وبالله التوفيق

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com