SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Kurang Setuju Dengan Jawaban salamdakwah


Akhwat (taipei)
7 years ago

assalamualaykum,

anda telah menjawab bahwa wanita tanpa mahram tidak diijinkan untuk pergi berhaji hanya dari hadis yang bersangkutan, apakah anda bisa menunjukkan bukti dalil dari Al-Qur'an yg melarangnya?
lalu, bagaimana jika, seorang wanita pergi bersafar, namun dengan teman-teman wanita muslimah yang lain untuk keperluan studi dimana harus menempuh perjalanan lebih dari semalam?
padahal di dalam Al-Qur'an perintah menuntut ilmu adalah wajib.

mohon dijawab.
syukron.
Redaksi salamdakwah.com
7 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته


Kami ingin membuka jawaban pertanyaan kali ini dengan ucapan terima kasih atas respon penanya terhadap jawaban kami sebelumnya berkenaan dengan masalah hajinya seorang wanita tanpa mahram.

Sebelumnya kami ingin meminta maaf bila ada yang salah dalam analisa kami. Kami memperhatikan bahwa pertanyaan penanya:
"anda telah menjawab bahwa wanita tanpa mahram tidak diijinkan untuk pergi berhaji hanya dari hadis yang bersangkutan, apakah anda bisa menunjukkan bukti dalil dari Al-Qur'an yg melarangnya? "

Mengandung salah satu dari dua hal berikut:
Pertama:
Pemikiaran bahwa sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam bukanlah hujjah meskipun sunnah tersebut shahih. Yang menjadi hujjah dalam Islam hanyalah Al-Qur'an. Kami berpikir demikian sebab, seandainya penanya meyakini bahwa sunnah bisa dijadikan landasan hukum niscaya ia akan sami'na wa atha'na bila sampai kepadanya hadits shahih.

Pengingkaran terhadap hujjahnya sunnah adalah pengingkaran terhadap Al-Qur'an dan kesepakatan ulama'. Syaikh Ibnu Baz menuturkan:
Ini adalah pembahasan penting terkait dengan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Sunnah adalah dasar Islam yang kedua, yang wajib diambil dan wajib bersandar kepadanya jika sunnah tersebut shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Saya katakan: Sudah menjadi hal yang diketahui bersama oleh para ulama' bahwa sunnah adalah sumber hukum kedua dari dasar hukum Islam. Kedudukannya berada di depan setelah Al-Qur'an dan ia adalah dasar yang dijadikan sandaran setelah Al-Qur'an dengan kesepakatan ulama'

Sunnah adalah hujjah yang berdiri sendiri atas ummat ini, barang siapa menentang, mengingkari, atau mengira boleh berpaling darinya serta mencukupkan diri dengan Al-Qur'an saja maka ia telah sesat se sesat-sesatnya dan kafir dengan kekafiran besar, serta telah keluar dari Islam disebabkan ucapannya tersebut (pendapat.pen). Dengan ucapan dan keyakinannya ini ia telah mendustakan Allah dan Rasul-Nya, serta mengingkari Apa yang diperintahkan oleh Allah ta'ala dan Rasul-Nya, menentang dasar hukum agung yang Allah perintahkan untuk diambil, dijadikan rujukan dan sandaran. Ia juga (dengan keyakinannya.pen) telah mengingkari kesepakatan ulama'. Majmu' Fatawa Ibnu Baz 9/176

Kedua:
Pemikiran bahwa sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dalam konteks pembahasan kita kali ini adalah hadits, tidak bisa dijadikan dasar hukum dalam islam bila ia mengandung syariat baru yang belum disebutkan secara khusus oleh Al-Qur'an Al-Karim.
Meski pemikiran semacam ini lebih ringan dari yang sebelumnya tapi ini tetaplah merupakan kesalahan besar yang harus dihindari, sebab, Allah ta'ala telah memerintahakan setiap kita untuk mentaati Rasul-Nya dalam semua perintah dan meninggalkan semua larangannya (dalam urusan yang bukan keduniaan murni). Allah ta'ala berfirman dalam surat Al-Hasyr ayat 7:


وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ


Apa yang diberikan Rasul kepada kalian, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagi kalian, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.

ما  di antara terjemahannya adalah apa, dan kata tersebut maknanya umum untuk semua yang sesuai dengan syariat dalam Al-Qur’an atau semua yang disyariatkan oleh As-Sunnah secara khusus dan tidak disebutkan secara khusus dalam Al-Qur’an. Barang siapa mengkhususkan ayat ini dengan syariat dalam sunnah yang sudah disebutkan secara khusus dalam Al-Qur’an maka ia harus membawakan dalil

Kesimpulannya, meski tidak ada nash Al-Qur'an yang secara khusus melarang wanita baligh bersafar tanpa mahram, tapi larangan tersebut ada bila kita menilik surat Al-Hasyr ayat 7, sebab, menjauhi larangan Rasul shallallahu alaihi wa sallam ini yang disebutkan dalam hadits adalah termasuk melaksanakan kandungan surat Al-Hasyr ayat 7

Jawaban pertanyaan selanjutnya:
Seorang wanita baligh yang bersafar dengan tujuan menuntut ilmu tetap diwajibkan untuk ditemani oleh mahramnya kala bersafar, ini berdasarkan keumuman hadits yang telah kami sebutkan sebelumnya di http://salamdakwah.com/baca-pertanyaan/janda-pergi-haji.html


Mengenai perintah menuntut ilmu itu wajib dalam Al-Qur'an maka kalau ini dikaitkan dengan pola pikir penanya berdasarkan pertanyaan sebelumnya maka kami ingin berpikir dengan pola pikir yang sama dengan bertanya balik kepada penanya: Mana ayat yang secara tekstual menunjukkan diwajibkannya menuntut ilmu secara khusus?! Maksudnya, apakah ada ayat yang artinya tuntutlah ilmu wahai kaum muslimin, atau menuntut ilmu diwajibkan atas kalian, sebagaimana ayat yang menunjukkan diwajibkannya puasa?

Apabila penanya konsisten dengan cara berpikirnya yang mengharuskan adanya nash khusus dalam Al-Qur'an untuk mendasari disyariatkannya suatu perbuatan maka mungkin ia tidak berfikir bahwa menuntut ilmu diwajibkan, sebab sepengetahuan kami tidak ada nash Qur'an yang secara langsung dan dengan kata khusus menyebutkan wajibnya menuntut ilmu.

Apabila penanya akhirnya meyakini bahwa syariat tidak harus disebut dengan teks khusus dalam Al-Qur'an (dan ini yang benar), termasuk dalam masalah menuntut ilmu, maka pertanyaan kami selanjutnya adalah: Apakah dengan dalih wajibnya menuntut ilmu, semua larangan menjadi dibolehkan, misalnya, untuk mengetahui batasan zina yang dihukumi dengan rajam atau cambuk seorang penuntut ilmu syar'i dibolehkan menonton orang berhubungan intim secara langsung dengan gurunya?!
Sampai saat ini kami belum mendapati perkataan ulama' yang terpercaya dan kadar keilmuannya yang mumpuni mengetakan dibolehkannya hal itu.

Permasalahan safarnya wanita tanpa mahram adalah permasalahan yang diperselisihkan oleh para ulama' sejak dahulu kala, dan pendapat yang kuat dalam pandangan kami telah kami sebutkan beserta dalil yang mendasarinya.

Seandainya penanya mengambil dalil dari ulama' yang membolehkannya untuk didiskusikan di sini niscaya itu lebih bijak dibanding berargumen dengan metode menghancurkan sunnah sebagai dasar hukum Islam atau selalu berpegang dengan nash Al-Qur'an yang khusus untuk menjadi landasan hukum.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com