SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Pembagian warisan dan harta gono-gini


Akhwat (Jakarta)
7 years ago

Assalamualaikum.......wr......wb.

Ustad, saya mau tanya. Suami saya sudah meninggal dunia. Saya mempunyai satu orang anak laki-laki dan satu anak perempuan. suami meninggalkan harta berupa satu rumah yang kami tempati luas tanah 144 m2. 3 petak rumah kontrakan luas tanah 170 m2. 1 tanah kosong luas tanah 300 m2 dan 1 tanah kosong yang lain luas tanah 370 m2.. Dari mulai saya menikah dengan suami. 2 rumah dan tanah itu saya beli dari penghasilan bekerja saya dan juga penghasilan suami. yang ingin saya tanyakan bagaimana pembagian warisnya. apakah dibagi dua dulu ini katanya menurut hukum kompilasi. kalau menurut dalil alquran/hadist yang shoheh pembagiannya seperti apa? daan apakah waris itu harus secepatnya dibagi. karena anak2 saya masih kuliah dan belum berkeluarga. anak2 saya juga belum mau mempersoalkan soal waris. Mohon penjelasan ustad. sebelum dan sesudahnya, saya ucapkan terimakasih.
wassalam

Masnah
Redaksi salamdakwah.com
7 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته



Apabila ahli waris mayit yang ada hanya Anda (istri mayit), seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Maka pembagiannya adalah anda mendapatkan 1/8 dari harta si mayit dan anak-anak Anda mendapatkan sisanya, yaitu 7/8 harta si mayit. Kemudian 7/8 dari harta si mayit dibagi menjadi 3 bagian, anak laki-laki menerima 2/3 bagian dan anak perempuan menerima 1/3 bagian.
 
Perlu difahami bahwa yang dibagi adalah harta mayit saja, apabila harta si mayit tercampur dengan harta istrinya maka harus dipisahkan. Apabila ada bukti dan surat-surat terpercaya yang bisa menunjukkan jumlah harta suami atau istri maka pemisahan bisa didasarkan bukti yang ada, Akan tetapi jika tidak ada bukti maka bisa diperkirakan.
Dalam salah satu riwayat disebutkan:
 


عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، قَالَتْ: جَاءَ رَجُلَانِ مِنَ الْأَنْصَارِ يَخْتَصِمَانِ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَوَارِيثَ بَيْنَهُمَا قَدْ دُرِسَتْ، لَيْسَ بَيْنَهُمَا بَيِّنَةٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ، وَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ، وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَلْحَنُ بِحُجَّتِهِ، أَوْ قَدْ قَالَ: لِحُجَّتِهِ، مِنْ بَعْضٍ، فَإِنِّمَا أَقْضِي بَيْنَكُمْ عَلَى نَحْوِ مَا أَسْمَعُ، فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ مِنْ حَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا، فَلَا يَأْخُذْهُ، فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ النَّارِ يَأْتِي بِهَا إِسْطَامًا فِي عُنُقِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ". فَبَكَى الرَّجُلَانِ، وَقَالَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا: حَقِّي لِأَخِي، قَالَ : فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " أَمَا إِذْ قُلْتُمَا، فَاذْهَبَا فَاقْتَسِمَا، ثُمَّ تَوَخَّيَا الْحَقَّ، ثُمَّ اسْتَهِمَا، ثُمَّ لِيَحْلِلْ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْكُمَا صَاحِبَهُ


Ummu Salamah berkata; "Ada dua orang lelaki dari Anshar mengadukan pertikaian yang terjadi di antara mereka berdua dalam masalah harta warits kepada Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam. Setelah dipelajari, di antara mereka berdua tidak ada bukti yang jelas, maka Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya kalian mengadukan pertikaian kalian kepadaku sementara aku adalah manusia. Pasti sebagian kalian lebih kuat hujahnya. Atau beliau bersabda: hujahnya dari sebagian yang lain. Dan aku memutuskan di antara kalian berdasarkan apa yang saya dengar. Barangsiapa yang aku beri keputusan kepadanya dengan mengurangi hak saudaranya, maka janganlah ia mengambilnya, karena yang aku putuskan untuknya adalah putusan dari neraka yang ia akan datang dengan diletakkan di lehernya besi panas pada hari kiamat." Lantas dua orang lelaki tersebut menangis, dan setiap orang di antara mereka berdua berkata; "Hak saya untuk saudaraku." Kemudian Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam bersabda: "Bila demikian yang kalian berdua katakan, maka pergilah dan bersumpahlah kemudian pilihlah kebenaran. Lantas kalian undi dan hendaknya setiap salah seorang diantara kalian berdua saling menghalalkan bagi siapa yang menjadi pemiliknya."HR. Ahmad no. 26717. Dihasankan oleh syaikh al-Albani di Irwa’ al-Gholil 5/252
 
Hukum asalnya warisan langsung dibagikan kepada ahli waris setelah kebutuhan mayit terpenuhi seperti biaya pemandian mayit dan pemakamannya. Hutang mayit yang belum dilunasi dan wasiat yang belum terlaksana juga perlu diselesaikan sebelum pembagian warisan. Adapun Menunda pembagian warisan maka itu dibolehkan asalkan semua ahli waris rela dan lapang dada. Akan tetapi penundaan warisan kadang memunculkan perbedaan, polemik dan perpecahan antara ahli waris pada masa yang akan datang. Lih. http://islamqa.info/ar/ref/4089

 
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com