SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

hewan dua alam dan bertaring


Ikhwan
8 years ago

Assalamualaikum ustad,
Dlu ana sering denger klo hewan yg hidup di dua alam, dan bertaring itu haram. Apakah ini benar ada hadist atau riwayatnya dari Alquran dan hadits shohih? Mohon penjelasannya
Wa'alaikumsalam
Redaksi SalamDakwah
8 years ago

Masalah pertama:
Hewan buas yang bertaring haram hukumnya untuk dikonsumsi berdasarkan larangan Nabi shallallahu alaihi wa sallam
عن أبي ثعلبة، قال: «نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن أكل كل ذي ناب من السبع» رواه البخاري رقم 5530 و مسلم رقم 1932
Dari Abi tsa’labah, beliau berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang memakan binatang buas yang bertaring.

Masalah kedua:
Adapun kaidah yang mengatakan bahwa hewan yang hidup di dua alam haram untuk dimakan maka kami tidak mengetahui ada dalil tegas yang menjadi dasar penetapan kaidah tersebut.
Jadi selama tidak ada dalil yang mengharamkan hewan jenis tertentu maka hukumnya kembali ke asal yaitu boleh mengkonsumsinya. Imam Nawawi rahimahullah berpendapat bolehnya konsumsi hewan yang hidup di dua alam, berikut terjemahan dari tulisan beliau
Imam Nawawi berkata: jenis kedua (dari macam-macam hewan) hewan yang hidup di air dan daratan juga, seperti itik angsa dan yang menyerupai keduanya hukumnya adalah halal seperti yang telah lalu dan tidak halal bangkainya, dan untuk (mengkonsumsinya disyaratkan adanya penyembelihan (Al Majmu’ syarh Al-Muhadzdzab oleh imam Nawawi juz.9 hal.32)
Ini adalah kaidah umum, tapi ada juga hewan yang hidup di dua alam yang haram dikonsumsi karena adanya dalil khusus seperti katak, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang pembunuhan katak, dan apa yang dilarang untuk dibunuh maka hukumnya haram untuk dikonsumsi. Berikut Nash Hadits yang dimaksud:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عُثْمَانَ: «أَنَّ طَبِيبًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ضِفْدَعٍ، يَجْعَلُهَا فِي دَوَاءٍ فَنَهَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ه قَتْلِهَا»رواه أبو داود رقم 5269.صححه الألباني

Dari Abdurrahman bin Utsman, dia bercerita: sesungguhnya seorang tabib bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang katak, dia akan menjadikannya dalam ramuan obatnya maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang untuk membunuhnya.

Masalah ketiga:
…..Hewan yang hidup di dua alam dan bertaring seperti buaya. Ulama’ berbeda pendapat dalam masalah ini, sebagian mengatakan halal dan sebagian lain mengatakan haram. Pendapat yang kuat (wallahu a’lam) itu adalah halal:
Berikut petikan dari Fatwa Lajnah Daimah (terjemahnya): adapun buaya maka ada pendapat yang mengatakan itu dimakan sebagaimana ikan berdasarkan dalil dari Qur’an dan Sunnah yang telah disebutkan (keumuman ayat:
قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (الأنعام: ١٤٥)
Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena Sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam Keadaan terpaksa, sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Hadits : هو الطهور ماؤه الحل ميتته
“Air laut itu suci, (dan) halal bangkainya.” Pent)
Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa buaya tidak halal dimakan karena itu termasuk binatang buas yang memiliki taring. Pendapat yang kuat adalah yang pertama…. (Fatawa Lajnah Daimah juz.22 hal.319-320)
Fatwa yang serupa dikeluarkan oleh syaikh Utsaimin, lihat As-Syarhul Al-Mumti’ ‘ala Zaad Al-Mustaqni’ juz.15 Hal.34

dan kalau anda tidak memakannya maka itu lebih baik untuk keluar dari perdebatan dan Alhamdulillah, banyak makanan halal lain (yang disepakati kehalalannya), yang Allah ta’ala karuniakan kepada hambaNya.

Wallahu ta’ala a’lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com