SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Itidal


Akhwat
9 years ago

Apakah jika kita sebagai makmun ketika sholat bjamaah tidak perlu lgi mengucapkan sami allahu liman hamida ?
Redaksi SalamDakwah
9 years ago

Dalam masalah ini ulama’ berbeda pendapat, dan penjabaran masalah ini sebenarnya panjang, tapi saya akan menjelaskan secara global saja (karena banyaknya pertanyaan lain yang dilayangkan) kemudian memilih 1 pendapat yang saya lihat kuat. Berikut perbedaan tersebut:
1. Imam dan Munfarid (orang yang sholat sendirian) wajib membaca tasmi’ (sami’allahu liman hamidah) dan tahmid (rabbana wa lakal hamdu). Adapun makmum dia hanya membaca tahmid. Ini pendapat madzhab hambali, ulama’ kontemporer yang mendukung pendapat ini adalah syaikh Utsaimin (lih. Syarhul Mumti’ juz 3 hal 102)

2. Setiap orang yang sholat wajib membaca tasmi’ dan tahmid. Ini pendapat imam Malik dan Syafi’I, ulama’ kontemporer yang mendukung pendapat ini adalah syaikh Albani (lih. Tamamul Minnah hal 191)

3. Imam dan Munfarid hanya membaca tasmi’, adapun makmum hanya membaca tahmid. Ini pendapat Abu Hanifah


Pendapat yang saya pilih adalah pendapat yang pertama dengan dalil dzahir dari hadits Rasul shallallahu alaihi wa sallam

أنس بن مالك، يقول: سقط النبي صلى الله عليه وسلم عن فرس فجحش شقه الأيمن، فدخلنا عليه نعوده، فحضرت الصلاة، فصلى بنا قاعدا، فصلينا وراءه قعودا، فلما قضى الصلاة قال: " إنما جعل الإمام ليؤتم به، فإذا كبر فكبروا، وإذا سجد فاسجدوا، وإذا رفع فارفعوا وإذا قال: سمع الله لمن حمده. فقولوا: ربنا ولك الحمد، وإذا صلى قاعدا، فصلوا قعودا أجمعون. رواه البخاري (رقم 689) و مسلم (رقم 411)

Artinya: Anas bin Malik berkata: Nabi shallallahu alaihi wa sallam jatuh dari kuda, kemudian terluka lambung bagian kanannya . Kemudian kami masuk ke rumah beliau untuk menengoknya, lalu datanglah waktu shalat, kemudian beliau shalat sambil duduk bersama kami, kemudian kami pun shalat di belakang beliau sambil duduk. Setelah selesai shalat, beliau bersabda: Sesungguhnya imam (shalat) itu diangkat untuk diikutinya; Maka apabila ia bertakbir maka bertakbirlah kalian, dan apabila ia bersujud maka bersujudlah kalian, dan apabila ia mengangkat kepala maka angkatlah kepala kalian, dan apabila ia mengucapkan: ‘sami’allaahu liman hamidah’ (Allah mendengarkan orang yang memuji-Nya), maka ucapkanlah: ‘Rabbanaa wa lakal-hamd’ (Ya Tuhanku, hanya bagi-Mu segala pujian), dan apabila ia shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian sambil duduk.”

Hadits ini adalah dalil khusus untuk makmum adapun dalil umum yang menyuruh orang yang shalat untuk membaca tasmi’ dan tahmid kala I’tidal adalah

أبا هريرة، يقول:كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة يكبر حين يقوم، ثم يكبر حين يركع» ثم يقول: «سمع الله لمن حمده حين يرفع صلبه من الركوع» ثم يقول: وهو قائم «ربنا ولك الحمد، ثم يكبر حين يهوي ساجدا، ثم يكبر حين يرفع رأسه، ثم يكبر حين يسجد، ثم يكبر حين يرفع رأسه، ثم يفعل مثل ذلك في الصلاة كلها حتى يقضيها ويكبر حين يقوم من المثنى بعد الجلوس» ثم يقول: أبو هريرة «إني لأشبهكم صلاة برسول الله صلى الله عليه وسلم» رواه مسلم (رقم 392)

Abu Hurairah berkata: “Adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila berdiri shalat, beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika (hendak) ruku', kemudian membaca Sami'alloohu liman hamidah ketika mengangkat tulang belakangnya dari ruku', kemudian membaca robbanaa wa lakal-hamdu dalam keadaan berdiri, kemudian bertakbir ketika tunduk untuk bersujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya (dari sujud), kemudian bertakbir ketika bersujud (yang kedua), kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya dari sujud. Kemudian beliau melakukan yang demikian itu pada semua shalatnya hingga beliau menyelesaikan shalat itu. Dan beliau bertakbir ketika berdiri dari reka'at kedua setelah duduk (At-tahiyat awwal)”. Kemudian Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya shalatku lebih menyerupai dengan shalat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam daripada kalian.”

Jadi, selain makmum, semua orang yang shalat membaca tasmi’ dan tahmid. Perselisihan dalam masalah ini hendaknya tidak menjadikan kita terpecah belah karena dalil-dalil dalam masalah ini memang memiliki lebih dari satu tafsiran ketika dikumpulkan. Tapi kita harus memilih 1 pendapat dan tidak boleh memilih atau berpindah-pindah pendapat berdasarkan hawa nafsu.

Wallahu a’lam bi showab
© 2021 - Www.SalamDakwah.Com