SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Tingkatan dalam Islam


Ikhwan
9 years ago

Dalam Al-Quran diceritakan ada seorang Badui yg baru masuk Islam,kemudian dia berkata pada Rasullulah "Kami telah BerIman.Sehingga Allah menurunkan ayat : Jgn mengatakn diri mereka ber Iman tapi katakanlah ber Islam.
Sedangkan dalam ayat lain Allah berfirman: "Wahai orng2 beriman di wajibkn atas kamu berpuasa... dst."
Kenapa Allah menggunakan perkataan : "Hai orang2 beriman . . ." sedangkn dalam Islam terdapat tingkatan2 (Islam,Iman dan Ikhsan,seperti yg di jelaskn syekh Muhammad bin Abdul Wahab dlm Utshul Tsalasa)bagi setiap Muslim ?? mohon Jelaskan keterkaitan antara tingkatan2 ini dan Hubngan ketiganya?? (Abu Daud Al- Gorontaliyin )
Redaksi SalamDakwah
9 years ago

Masalah pertama : tingkatan orang Islam
Berkata Ibnu Taimiyah (terjemahnya) : yang benar dalam masalah itu adalah apa yang dijelaskan oleh Nabi pada hadits Jibril, beliau menjadikan Islam dan pemeluknya terbagi dalam 3 tingkatan : yang pertama Islam, yang tengah Iman dan yang tertinggi adalah Ihsan.
Siapa yang sampai ke tingkatan atas berarti dia telah sampai tingkatan yang dibawahnya, jadi, Muhsin pasti Mu’min, Mu’min pasti Muslim tapi tidak tentu seorang Muslim adalah Mu’min.(kitab Al-Iman oleh Ibnu Taimiyah hal 281)
Yang dimaksud oleh Ibnu Taimiyah dengan Hadits Jibril Adalah hadits berikut
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَيضاً قَال: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَاب شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النبي صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: "الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُولُ الله،وَتُقِيْمَ الصَّلاَة، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ،وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً " قَالَ: صَدَقْتَ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ، قَالَ: "أَنْ تُؤْمِنَ بِالله،وَمَلائِكَتِه،وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ،وَالْيَوْمِ الآَخِر،وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ " قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ، قَالَ: " أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. رواه البخاري (رقم 50) و مسلم (رقم 8)

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata :
suatu hari ketika kami duduk di dekat Rasululah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan mempunyai rambut yang amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : “wahai Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Masalah kedua : apakah seruan Allah terhadap salah orang-orang di salah satu tingkatan khusus untuk orang yang telah sampai di tingkatan tersebut?

Ibnu Taimiyah berkata (terjemahnya): ketika disebutkan Iman dan Islam bersama-sama maka “Islam” bermakna amalan-amalan yang Nampak seperti: kalimat dua syahadat, shalat, zakat, puasa, haji. Dan Iman bermakna amalan hati seperti Iman kepada Allah, MalaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari kiamat.
Dan jika disebutkan kata Iman saja maka otomatis Islam dan amalan-amalan sholeh masuk di dalamnya. Seperti apa yang disabdakan oleh Nabi dalam hadits cabang-cabang Iman:
قال صلى الله عليه وسلم: "الإيمان بضع وسبعون شعبة أعلاها قول لا إله إلا الله وأدناها إماطة الأذى عن الطريق." (صححه الألباني)
Rasul shallallahu alaihi wa sallam bersabda:”Iman itu mempunyai tujuh puluh cabang lebih, Yang paling tinggi adalah perkataan la ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.”

Syaikh Utsaimin berkata (terjemahnya): kesimpulannya, jika Islam saja yang disebutkan maka Iman masuk didalamnya. Jika Iman saja yang disebutkan maka Islam masuk didalamnya, kalau dua-duanya disebutkan maka keduanya terpisah (masing-masing punya makna tersendiri.pen)
Dalilnya firman Allah ta’ala:
(وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً ) المائدة : 3
“dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu”
Islam disini otomatis mencakup Iman. Lebih jelasnya silahkan meruju’ ke situs resmi syaikh Utsaimin
(http://www.ibnothaimeen.com/all/books/article_17763.shtml)
Jadi seruan Allah kepada orang Mu’min mencakup Muslim dan sebaliknya sama. Sedangkan Muhsin, karena dia telah melewati derajat Islam dan Iman maka dia juga masuk seruan Allah ta’ala tadi.

Wallahu a’lam bi showab
© 2021 - Www.SalamDakwah.Com