SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Sekali lagi tentang mengecat rambut


Ikhwan (Bandung)
8 years ago

Jazakallah khoir atas jawaban sebelumnya tentang hukum mengecat rambut. Izinkan saya untuk melanjutkan atau menegaskan sedikit saja tentang permasalahan tersebut.
1. Jadi, tegasnya, bahan cat kimiawi yang sekarang ini banyak beredar di salon-salon kecantikan, pada prinsipnya boleh, atau tidak apa-apa, digunakan untuk mengecat rambut. Benar begitu? Atau dengan kata lain, bahan cat rambut tersebut tidak harus terbuat dari bahan-bahan alami tumbuhan. Masalahnya, ada sebagian orang yang menganggap cat rambut kimiawi itu, kurang lebih sama dengan cat kuku (kutek). Cat kuku dianggap menghalangi air untuk mengenai kuku, sedangkan cat rambut kimiawi dianggap menghalangi air untuk mengenai rambut. Oleh karenanya, mandi junub dianggap tidak sah, dan juga wudhu dianggap tidak sah jika kita menggunakan cat rambut kimiawi tersebut. Hal ini berbeda dengan cat rambut yang terbuat dari Heina misalnya, karena cat alami itu diyakini menyatu dengan rambut sehingga tidak menghalangi air menyentuh rambut. Bagaimana jawaban lebih lanjut mengenai pandangan seperti itu?
2. Meskipun faktor penyebab penggunaan cat rambut oleh kaum Muslim berbeda dengan kaum non-Muslim, (yaitu adanya syarat tumbuhnya uban bagi kalangan Muslim, sementara bagi kaum non-Muslim tidak ada persyaratan tumbuhnya uban tersebut), namun masyarakat luas akan menilai bahwa hasil akhirnya adalah sama, yaitu sama-sama mengecat rambut. Masyarakat akan melihat adanya kesamaan tindakan dan gaya, yaitu mengecat rambut, tanpa mereka memahami atau bahkan mempedulikan faktor penyebab atau alasan penggunaan cat rambut tersebut. Nah, pertanyaannya adalah, apakah adanya kesamaan tindakan mengecat rambut antara kaum Muslim dan non-Muslim itu akan mengaburkan perbedaan gaya antara keduanya?
Mohon pencerahannya sekali lagi atas diri yang miskin ilmu ini. Jazakallah/jazakillah.
Redaksi salamdakwah.com
8 years ago

Jawaban kami yang sebelumnya adalah jawaban secara umum, adapun dalam kasus yang disebutkan maka jawabannya perlu lebih detail.

Jika memang pewarna kimia yang dipakai menghalangi air sampai ke rambut maka otomatis ini tidak boleh dipakai karena ini menjadikan wudhu atau mandi besar tidak sah, dan ini tidak terbatas pada pewarna kimia saja, karena bisa jadi hena yang dioleskan ke rambut terlalu banyak dan akhirnya juga menghalangi air untuk menyentuh rambut, ketika itu hukumnya bisa sam dengan pewarna kimia.

Berikut ini kami terjemahkan tulisan Ibnu Quddamah di Al-Mughni:
Seandainya dia mewarnai rambutnya dengan sesuatu yang menutupi rambut tersebut (dari air.pent) atau mengoleskan tanah di rambutnya, maka membasuh pewarna dan tanah tersebut tidak menjadikannya (ritual seperti wudhu.pent) sah...karena dia belum membasuh anggota yang wajib dibasuh. Al-Mughni 1/96

Mengenai kesamaan hasil Akhir yang anda maksudkan, yaitu orang kafir menyemir dan orang muslim menyemir maka di sini ada Tasyabbuh (meniru-niru), ini yang kami fahami dari pertanyaan anda.
Perlu diketahui bahwa tidak semua apa yang dilakukan oleh orang kafir harus diselisihi, seperti menggunakan berbagai macam gadget dll, yang dilarang adalah meniru-niru kekhususan mereka, seperti memakai pakaian khas pendeta dll. Untuk mengetahui apakah ini tasyabbuh atau tidak kita perlu membaca keterangan ulama' mengenai kaidah dalam tasyabbuh.

Perlu diketahui juga bahwa pandangan orang umum bukanlah timbangan pasti menentukan ini baik atau buruk, kalaulah menyemir secara umum dikatakan oleh mereka sebagai Tasyabbuh maka ini tidaklah tepat karena pandangan ini bertentangan dengan nash hadits yang membolehkan itu selama tidak memakai warna hitam (dalam keadaan biasa).
© 2021 - Www.SalamDakwah.Com