SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

hadiah dari relasi, apakah diterima?


Ikhwan (jakarta)
8 years ago

Assalamualaikum,afwan ada yg mengganggu pikiran ana tentang pemberian dari relasi ataupun dari suplaier.apabila ada suplaier/kontraktor/relasi yg ingin mentraktir makan pada saat mereka berkunjung kekantor kami bolehkah kami menerima traktiran makan mereka? apakah itu termasuk risywah,lalu apakah dalil hukum asal makanan adalah halal dapat dijadikan dalil bahwa semua makanan yg halal boleh dimakan tanpa mengindahkan asal darimana makanan itu berasal? mohon penjelasannya,syukron
Redaksi salamdakwah.com
8 years ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Berikut ini terjemahan fatwa dari situs islamqa:
hukum asalnya hadiah yang diterima pegawai karena pekerjaan yang digelutinya adalah haram, ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:


هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ. أخرجه أحمد رقم 23601. صححه الألباني في إرواء الغليل 8/246
"Hadiah yang diterima oleh pegawai itu adalah harta khianat (ghulul)."

Dan riwayat:

أَخْبَرَنَا أَبُو حُمَيْدٍ السَّاعِدِيُّ، قَالَ: اسْتَعْمَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ بَنِي أَسْدٍ يُقَالُ لَهُ ابْنُ الأُتَبِيَّةِ عَلَى صَدَقَةٍ، فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ: هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي، فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى المِنْبَرِ - قَالَ سُفْيَانُ أَيْضًا فَصَعِدَ المِنْبَرَ - فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: " مَا بَالُ العَامِلِ نَبْعَثُهُ فَيَأْتِي يَقُولُ: هَذَا لَكَ وَهَذَا لِي، فَهَلَّا جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ، فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لا، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لا يَأْتِي بِشَيْءٍ إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ، إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ، أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ، أَوْ شَاةً تَيْعَرُ.أخرجه البخاري رقم 7174 ومسلم رقم 1832

Mengabarkan kepada kami Abu Humaid As-Saidi, dia berkata: Pernah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mempekerjakan seseorang dari bani Asad yang namanya Ibnul Lutbiyyah untuk mengurus zakat. Orang itu datang sambil mengatakan, "Ini bagi kalian, dan ini hadiah bagiku." maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar -sedang Sufyan mengatakan dengan redaksi “naik minbar”-, beliau memuji Allah kemudian bersabda:
"Ada apa dengan seorang pengurus zakat yang kami utus, lalu ia datang dengan mengatakan, “Ini untukmu dan ini hadiah untukku!” Cobalah ia duduk saja di rumah ayahnya atau rumah ibunya, dan cermatilah, apakah ia menerima hadiah ataukah tidak? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang datang dengan mengambil hadiah seperti pekerja tadi melainkan ia akan datang dengannya pada hari kiamat, lalu dia akan memikul hadiah tadi di lehernya. Jika hadiah yang ia ambil adalah unta, maka akan keluar suara unta. Jika hadiah yang ia ambil adalah sapi betina, maka akan keluar suara sapi. Jika yang dipikulnya adalah kambing, maka akan keluar suara kambing.“

Hadits ini menerangkan sebab pemberian hadiah, dan hadiah ini diberikan karena profesi yang digelutinya. http://islamqa.info/ar/cat/2063#110517

Dan diantara sebab dilarangnya praktek semacam ini adalah karena hadiah atau pemberian biasanya akan mempengaruhi hati orang yang diberi, sehingga dia bisa condong dan mengikuti keinginan si pemberi tanpa memperdulikan keadilan dan profesionalitas dalam pekerjaannya.

Dan janji dari pegawai bahwa dia akan tetap adil dan tidak akan terpengaruh dengan hadiah tersebut tidak menjadikan dia boleh menerima hadiah tersebut. Lih http://islamqa.info/ar/cat/2063#5380

Berikut ini potongan dari fatwa syaikh Sholeh Fauzan dalam masalah ini:
Maka para pegawai tidak boleh mendapatkan Hadiah dari orang yang berurusan dengannya atau biasa mendatanginya karena urusan pekerjaan. http://www.alfawzan.af.org.sa/node/13615

Oleh karena itu sebaiknya anda tidak menerima ajakan makan dari relasi bisnis tersebut jika memang dia bukan orang yang biasa mengajak anda makan sebelum anda menjadi pegawai.

Mengenai pendalihan anda: bahwa makanan yang asalnya halal maka tetap halal meski cara yang dipakai untuk mendapatkan makanan itu bermacam-macam maka itu tidaklah tepat karena telah ada larangan Rasul shallallahu alaihi wa sallam untuk mengambil hadiah tsb, sebagaimana kita dilarang untuk memakan makanan yang merupakan hasil riba meski dzat dari makanan itu halal.
© 2021 - Www.SalamDakwah.Com