SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Alkohol Yang Terminum


Ikhwan (Garut)
1 week ago on Aqidah

Assalamualaikum Begiini pa ustad , saya punya bnyak teman di kampung saya , orang nya beda² , ada yang sejalan ( beriman) ada yang tidak sejalan(tidak beriman) , saya bergaaul dengan siapa saja disni, di kala waktu temen saya ada yang lagi minum alkohol ( mabuk) , saya tau dia lagi minum , nah trus dia minta air putih ke saya , saya ambilkan lah dri rumah segelas air putih , ( situasinya itu lagi nongkrong depan rumah ) , nah trus dia minum itu air putih , masih ada sisa itu air putih ga habis , nah seiring berjalannya waktu kita ngobrol² , dan ahkir nya saya mau pulang ke rumah , saya ambilah itu air putih gelas yang masih ada sisanya , nah disitu saya haus , dan saya minum itu air yang ada di gelas yang bekas temen saya, nah saya lupa bahwa temen saya lagi mabuk , inget inget pas udah abis air di gelasnya , kan dalam islam alkohol atau minuman keras haram hukum nya , nah pertanyaan saya pa , apakah saya berdosa minum air putih yang di gelas tadi yang bekas bibir temen saya yang lagi mabuk? Tapi gak di sengaja , karna lupa, trus kan ada kemungkinan itu gelas yang di minum temen saya mengandung minuman keras , karna bekas bibir temen saya, dan saya minum di gelas yang sama Tolong di jawab pak ustad , saya dri tdi kepikiran trus apakah saya berdosa Terimakasih waasalamualaikum.
Redaksi salamdakwah.com
1 week ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Punya kenalan banyak tidaklah terlarang, baik seorang kenalannya itu seorang muslim ataupun bukan, baik kenalannya itu orang yang taat ataupun yang  biasa saja. Namun terkait sahabat, selayaknya seorang muslim mencari sahabat yang muslim dan baik. Dalam salah satu hadits shahih disebutkan:  


سَمِعْتُ أَبَا بُرْدَةَ بْنَ أَبِي مُوسَى، عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ االله عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالجَلِيسِ السَّوْءِ، كَمَثَلِ صَاحِبِ المِسْكِ وَكِيرِ الحَدَّادِ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ المِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ، وَكِيرُ الحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ، أَوْ ثَوْبَكَ، أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَة


Aku mendengar Abu Burdah bin Abu Musa dari bapaknya radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perumpamaan orang yang bergaul dengan orang shalih dan orang yang bergaul dengan orang buruk seperti penjual minyak wangi dan tukang tempa besi, Pasti kau dapatkan dari pedagang minyak wangi apakah kamu membeli minyak wanginya atau sekedar mendapatkan bau wewangiannya, sedangkan dari tukang tempa besi akan membakar badanmu atau kainmu atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap. HR. Bukhari no. 2101 dan Muslim no. 2628, lafadz di atas adalah lafadz Bukhari.

Apabila minuman khamr itu dihidangkan di meja penanya maka penanya perlu menghindar dari minuman itu dan memberikan nasehat kepada orang orang  yang mengkonsumsi khamr. 

Tidak dibolehkan duduk di atas meja makan yang dihidangkan khamar di atasnya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad, dan Tirmizi, (2801) dari Jabir sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَجْلِسْ عَلَى مَائِدَةٍ يُدَارُ عَلَيْهَا بِالْخَمْرِ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan duduk di atas meja yang dihidangkan khamar di atasnya.”

Ibnu Qudamah –rahimahullah- berkata:

“Jika seseorang diundang untuk menghadiri walimah yang ada kemaksiatan di dalamnya, seperti: minuman keras, seruling, gitar besar, atau yang lainnya. Sedangkan dia mampu untuk mencegah atau menghilangkannya, maka ia wajib menghadiri dan mencegahnya; karena dengan begitu dia akan menunaikan dua kewajiban: kewajiban menghadiri undangan saudara seiman dan kewajiban mencegah kemungkaran. Dan jika tidak mampu untuk mencegahnya, maka tidak perlu hadir. Dan jika tidak tahu kalau ada kemungkaran kecuali setelah menghadirinya, maka hendaknya mencegahnya dan kalau tidak mampu, maka segeralah untuk meninggalkannya. Seperti itu juga pendapat Imam Syafi`i”. (Al Mughni: 7/214)

Disebutkan dalam Fatawa Lajnah Daimah: “Jika pesta pernikahan bebas dari kemungkaran, seperti; bercampurnya laki-laki dan perempuan, nyanyian yang melenakan, atau jika dia hadir mampu merubah kemungkaran tersebut, maka dia boleh menghadirinya dan ikut merasakan kebahagiaan, bahkan kehadirannya wajib jika terdapat kemungkaran dan dia mampu untuk merubahnya”.

Namun jika dalam pesta tersebut terdapat kemungkaran yang dia tidak mampu merubahnya, maka haram baginya untuk menghadirinya, berdasarkan keumuman firman Allah –Ta’ala- :

 وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِباً وَلَهْواً وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَذَكِّرْ بِهِ أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيٌّ وَلا شَفِيعٌ ) الأنعام

 

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al Qur'an itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafa`at selain daripada Allah”. (QS. Al An`am: 70)

Dan firman Allah yang lain:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُواً أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ 

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan”. (QS. Luqman: 6)

Hadits-hadits yang menyatakan tentang mencela nyanyian dan alat-alat musik sangat banyak sekali”. (Dinukil dari Fatawa Mar`ah, disusun oleh Muhammad al Musnid: 92)

Terkait bekas khamr di gelas. Apabila memang masih ada maka anda tidak terkena dosa mengingat anda lupa dan tidak menyengaja. Allah ta'ala berfirman dalam surat al-Ahzab ayat 5:

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَآ أَخْطَأْتُم بِهِۦ وَلٰكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ

Dan tidak ada dosa atas kalian terhadap apa yang kalian khilaf padanya tetapi (yang ada dosanya adalah) apa yang disengaja oleh hati kalian.

Wallahu ta'ala a'lam

 

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com