SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Saya Dilarang Menikah Hingga Tiba Tahun Depan


Akhwat (Surabaya)
1 week ago on Keluarga

Assalamualaikum, saya mau bertanya. Ibu saya melarang saya menikah karena bapak saya baru meninggal 4 bulan yang lalu dan saya disuruh untuk menunggu setahun tepat alm bapak saya meninggal. Padahal saya sudah memenuhi keinginan ibu untuk lulus kuliah tepat waktu dan sudah bekerja (bahkan saya sudah bekerja sebelum lulus kuliah). Selain itu, saya juga akan menikah dengan biaya saya sendiri (sudah ada tabungan) dan ibu sudah saya jelaskan supaya tidak perlu keluar dana saat pernikahan saya. Saat teman lelaki saya ijin untuk melamar pun tidak diperbolehkan ibu saya dan ibu tetap kekeuh alasannya adalah disuruh menunggu 1 tahun alm bapak saya meninggal. Saya mau bertobat atas zina yang telah saya lakukan dengan menyegerakan menikah karena saya merasa mampu dan supaya menjauhi dari fitnah. Saya sangat bingung dan bagaimana langkah yang harus saya lakukan? Terima kasih.
Redaksi salamdakwah.com
1 week ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Apabila anda punya hubungan spesial dengan laki-laki yang bukan mahram (seperti pacaran) maka relasi ini harus diakhiri dan diputus,  bertaubatlah anda serta laki-laki tersebut dari dosa hubungan pacaran dan hubungan terlarang. silahkan melihat pembahasan kami sebelumnya di link berikut http://www.salamdakwah.com/baca-pertanyaan/pacaran-1.html

Apabila anda dan mantan pasangan anda sudah bertaubat dan menjadi orang yang taat beragama anda bisa mengusulkannya kepada orang ibu dan wali anda untuk menikahkan anda dengan dia.  Apabila ibu anda menolak dengan alasan yang tidak syar'i seperti yang beliau sampaikan maka cobalah beri masukan beliau bahwa alasan itu tidaklah syar'i. Apabila beliau tetap menolak maka anda bisa meminta orang alim atau keluarga anda yang lain untuk menasehati ibu anda. Apabila wali anda juga menolak menikahkan anda karena alasan yang tidak syar'i maka anda bisa mengadukan ini ke hakim yang mengurusi masalah ini.  

Barangsiapa yang enggan menjadi wali bagi seorang wanita ketika ia ingin menikah dengan seorang yang sepadan dan diridhai agama serta akhlaknya, maka dia termasuk menghalang-halangi pernikahan wanita itu. Pada kondisi semacam ini perwalian seorang ayah berpindah kepada orang-orang setelahnya. Ibnu Qudamah Rahimahullah mengungkapkan, “Maksud dari kata menghalang-halangi adalah mencegah pernikahan seorang perempuan dengan orang yang sepadan dan selaras ketika dia meminta dinikahkan dengannya dan masing-masing dari keduanya saling menyukai satu sama lain.”

Ma’qil bin Yasar berkata, “Aku pernah menikahkan saudara perempuanku dengan seorang lelaki yang kemudian dia menceraikannya, hingga ketika saudariku telah selesai dari masa ‘iddahnya lelaki tadi datang kembali dan melamarnya, maka aku katakan kepadanya, ‘Aku telah menikahkanmu, aku telah memberikan tempat tinggal untukmu dan aku juga telah memuliakanmu akan tetapi engkau malah menceraikannya kemudian engkau datang kembali untuk melamarnya, Demi Allah jangan engkau rujuk lagi dengannya selamanya, padahal dia adalah seorang lelaki yang tidak ada masalah padanya, dan pada saat yang sama saudara perempuannya pun ingin rujuk dengannya, maka turunlah firman Allah Ta’ala:

فلا تَعْضُلُوهُنَّ

“Dan janganlah kalian menghalang-halangi mereka (para wanita untuk menikah)”

Maka aku berkata, “Sekarang saya mentaati perintah wahai Rasulullah,” Beliau bersabda, “Nikahkanlah dia (Putrimu) dengannya.” (HR. Bukhari)

Apabila si perempuan menyukainya (lelaki) karena keserasian semata, dan walinya (orang tuanya) ingin menikahkannya dengan pria lainnya dan menolak menikahkannya dengan lelaki yang dikehendaki oleh putrinya, maka hal ini masuk dalam kategori menghalang-halangi keinginan putrinya. Adapun jika dia meminta supaya dinikahkan dengan lelaki yang tidak sepadan dengannya, maka bagi wali memiliki wewenang untuk menolaknya, dan hal tersebut tidak termasuk menghalngi pernikahan. (Dikutip dari kitab Al Mughni. 9/383).

Syekh Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah berkata, “Ketika seorang wanita telah sampai pada usia aqil baligh lalu ada seorang pria meminangnya yang engkau ridha akan agama, akhlak dan kemampuannya, dan wali tidak mencelanya terhadap sesuatu yang bisa menjauhkannya dari  perangai kebaikannya, maka wajib bagi wali untuk menerima lamarannya dan menikahkannya dengan putrinya. Namun apabila wali menolak kondisi yang demikian maka hendaklah dia diingatkan akan wajibnya menjaga kewenangan dalam perwaliannya, dan apabila setelah yang demikian itu dia tetap bersikukuh dalam penolakannya maka gugurlah perwaliannya dan beralih kepada kerabatnya yang terhimpun dalam Ashobah.” (Dari Fatawa Syekh Muhammad bin Ibrahim, rahimahullah, 10/97).

Syekh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata, “Apabila seorang wali menolak menikahkan putrinya dengan orang yang sepadan dan serasi dalam agama dan akhlaknya, maka perwaliannya beralih kepada orang-orang yang berhak setelahnya dari kalangan ashobah, dengan mendahulukan yang berhak terlebih dahulu, dan jika mereka pun enggan menikahkan sebagaimana pada umumnya, maka perwaliannya beralih kepada hakim syar’i, dalam hal ini wajib bagi hakim syar’i menikahkannya dan memahami permasalahan yang sampai kepadanya bahwa para wali si wanita enggan dan menolak menikahkannya lalu tugas dari hakim syar’i ini adalah hendaklah dia menikahkan wanita tersebut karena sesungguhnya dia memiliki kewenangan umum selama belum terjadi kewenangan khusus.”

Dan para ahli fikih Rahimahullah mengungkapkan, “Sesungguhnya seorang wali apabila terus-menerus menolak seorang peminang yang sepadan maka dengan demikian dia telah menjadi fasik dan hilang keadilannya serta hak perwaliannya, bahkan yang populer dalam madzhab Imam Ahmad, wali yang sebagaimana disebutkan akan gugur kelayakannya sebagai seorang imam, maka dia tidak sah menjadi seorang imam dalam shalat berjamaah dan ini adalah perkara yang cukup memprihatinkan.”

Dan sebagaimana yang baru saja telah kami isyaratkan di atas, sebagian orang menolak para peminang yang mereka rata-rata memiliki kecakapan dan kesepadanan dan datang meminang kepada orang-orang yang Allah telah menjadikan mereka Wali bagi putri-putri mereka. Akan tetapi terkadang seorang gadis diliputi perasaan malu untuk mengajukan diri kepada hakim agar dia menikahkannya, dan perkara ini telah menjadi fenomena. Hendaknya gadis tersebut membandingkan antara maslahat dan mafsadatnya, mana antara keduanya yang lebih besar kerugiannya, dia akan tetap tanpa suami karena memang walinya telah hilang kebijaksanaannya dan cenderung mengikuti hawa nafsunya, dan apabila dia (si gadis) telah menginjak usia senja dan tidak ada lagi kemauan untuk menikah barulah walinya menikahkannya, ataukah dia akan mendatangi seorang hakim dan meminta kepadanya agar menikahkannya dan menjadi walinya karena yang demikian merupakan hak syar’i baginya.

Maka tidak ada lagi keraguan bahwa solusi yang kedualah yang lebih utama, yaitu dengan dia mendatangi seoarang hakim dan meminta kesediaannya untuk menikahkannya dan menjadi walinya karena hal tersebut merupakan hak baginya. Karena sesungguhnya ketika dia mengajukan diri kepada hakim agar menikahkannya hal ini akan menjadi kemaslahatan bagi dirinya dan juga orang lain. Bisa jadi ada wanita atau gadis lain yang akan mengikuti langkahnya untuk mendatangi hakim dan meminta supaya menikahkannya juga, dan juga ketika dia mengajukan diri kepada hakim dan meminta supaya menikahkannya akan menjadi pukulan yang dahsyat bagi para wali dzalim yang dengan kedzalimannya mereka telah mengabaikan hak perwalian yang telah diberikan oleh Allah kepada mereka dengan menghalang-halangi mereka dari menikah dengan orang-orang yang sepadan.

Ringkasnya dalam hal tersebut terdapat tiga kemaslahatan yaitu :

- Kemaslahatan yang kembali kepada si wanita sendiri sehingga dia tidak hidup menyendiri tanpa menikah.

- Kemaslahatan yang berimbas kepada yang lainnya dikalangan kaum wanita di mana dia telah membuka pintu bagi para wanita yang menunggu-nunggu dalam penantian orang-orang yang mau meminang mereka karena para wali mereka yang dzalim telah menghalang-halangi putri-putri  mereka atau mereka kaum wanita yang ada dalam perwalian mereka untuk menikah, dan hal ini semata-mata karena para wali tersebut mengikuti nafsu dan kehendak mereka.

- Kemaslahatan yang lain adalah merupakan realisasi yang aplikatif dari perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sekiranya beliau bersabda:

إذا أتاكم من ترضون دينه وخلقه فأنكحوه إلا تفعلوا تكن فتنة في الأرض وفساد كبير

“Apabila datang kepada kalian orang (peminang) yang kalian telah ridha terhadap agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia, karena jika tidak kalian lakukan maka akan timbul fitnah di atas muka bumi dan akan ada kerusakan yang dahsyat.”

Sebagaimana didalamnya pun ada kemaslahatan lain yaitu memberikan solusi kepada mereka para peminang yang rata-rata mereka memiliki kematangan dalam agama dan akhlak, diambil dari. (Fatawa Islamiyyah, 3/148 ). 

Syekh Ibnu Utsaimin juga mengungkapkan, “Sesungguhnya pernah sampai kepada kami tentang keberanian seorang gadis ketika orang tuanya menolaknya untuk menikahkannya dengan lelaki yang sepadan dari sisi agama dan akhlaknya, lalu dia mendatangi seorang hakim dan menceritakan kondisinya dan hakim tersebut berkata kepada ayahnya, “Nikahkan dia atau aku yang akan menikahkannya atau orang lain selain anda yang akan menikahkannya, karena sesungguhnya hal tersebut hak bagi seorang gadis jika orang tuanya menolak menikahkannya (yaitu hendaknya dia melapor kepada hakim) dan hal ini merupakan hak yang dibenarkan oleh syari’at. Maka apabila ada para gadis menghadapi kasus yang sama dengan yang tersebut diatas hendaklah dia datang kepada kami dan kami akan memediasi perkaranya, akan tetapi kebanyakan para gadis memendam dan menyimpannya karena perasaan malu yang mendominasi mereka” (Dikutip dari Al Liqo As Syahri, bisa dilihat pula jawaban soal no. 10196)

Wallahu ta'ala a'lam

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com