SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

TUKAR TAMBAH CINCIN TUNANGAN DENGAN MAS KAWIN


Akhwat (bandung)
2 weeks ago on Keluarga

Assalamualaikum wr wb, ustadz/ustadazah mohon bantuannya saya hendak menikah tapi saya tidak ingin memberatkan calon suami saya, jadi saya punya inisiatif untuk cincin tunangan yg pernah dia berikan keapada saya dijual dan ditambahkan dengan mas kawin. yang saya ingin tanyakan apakah dalam islam diperbolehkah menjual cincin tunangan dan menambahkannya kedalam mas kawin? terimakasih sebelumnya..
Redaksi salamdakwah.com
2 weeks ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Tukar cincin lamaran atau cincin kawin dikritisi oleh sebagian Ulama' mengingat ada kemungkinan 3 masalah yang terjadi. Yaitu:

1. Syirik besar, ini bila pasangan meyakini bahwa kedua cincin itu menjadi sebab ikatan cinta yang terus terjalin, apabila dilepas maka akan terjadi masalah pada hubungan keduanya. Ini dikatakan syirik besar karena yang memunculkan cinta dan yang menghilangkannya adalah Allah ta'ala dan bukan cincin.

2. Syirik kecil, ini bila pasangan meyakini bahwa Allah ta'ala yang memunculkan dan menghilangkan cinta pasangan, sedangkan cincin memiliki pengaruh karena Allah ta'ala. 

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin menerangkan bahwa cincin kawin seperti tiwalah. Tiwalah adalah sesuatu yang diikatkan pada suami supaya memupuk cintanya ke istri atau sebaliknya, sesuatu yang diikatkan ke istri supaya memupuk cintanya ke suami, beliau menerangkan:

 هل هي شرك أصغر أو أكبر؟

Apakah itu syirik kecil ataukah syirik besar?


نقول: بحسب ما يريد الإنسان منها إن اتخذها معتقدًا أن المسبب للمحبة هو الله؛ فهي شرك أصغر، وإن اعتقد أنها تفعل بنفسها؛ فهي شرك أكبر. 

Kami katakan: sesuai dengan tujuan orang ketika menggunakannya. Apabila itu digunakan dengan didasari keyakinan bahwa Allah lah yang memunculkan cinta maka ini syirik kecil. Apabila diyakini kala menggunakannya bahwa cincin itulah yang memberikan pengaruh secara mandiri maka ini syirik besar.  Majmu' Fatawa wa Rasail al-Utsaimin 9/172

3. Ada unsur tasyabbuh dengan orang selain Islam. 

Ulama'yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya: Apa hukum suami memakai cincin yang tertulis nama istri atau istri memakai cincin yang tertulis nama suami dan tanggal tunangan: apakah ini termasuk bidah atau sunah? Apakah sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam kepada salah seorang sahabat  "Carilah (mahar) meskipun sebuah cincin dari besi." sebagai dalil dibolehkannya memakai cincin pernikahan?

Mereka menjawab: Pertama, apa yang Anda sebutkan bahwa lelaki yang meminang dan wanita yang dipinang atau suami dan istri memakai cincin tunangan atau cincin pernikahan dengan kriteria tersebut tidak ada landasannya dalam Islam, bahkan merupakan bidah dan adat sebagian orang Islam yang tidak mengerti Islam dengan meniru kebiasaan orang-orang kafir. Semua itu dilarang karena di dalamnya terdapat penyerupaan dengan orang-orang kafir. Di samping itu, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah melarang hal tersebut.
 
Kedua, sabda Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam,  "Carilah (mahar) meskipun sebuah cincin dari besi." bukanlah dalil disyariatkannya hal yang Anda sebutkan karena Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam meminta cincin dari sahabat sebagai mahar untuk perempuan yang ingin dinikahinya. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Qu'ud (Anggota)
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)
Abdurrazzaq `Afifi (Wakil Ketua)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz(Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-daimah 19/147 Pertanyaan Kesembilan dari Fatwa Nomor4127  

Syaikh al-Albani menerangkan:

 لبس بعض الرجال خاتم الذهب الذي يسمونه ب [ خاتم الخطبة ) فهذا مع ما فيه من تقليد الكفار أيضا - لأن هذه العادة سرت إليهم من النصارى ويرجع ذلك على عادة قديمة لهم  

Sebagian laki-laki memakai cincin emas yang mereka namai dengan cincin lamaran. Disamping hal ini merupakan sikap mengikuti orang kafir juga perlu difahami bahwa kebiasaan ini tersebar ke kaum muslimin dari orang nasrani, merujuk ke kebiasaan zaman dahulu di kalangan mereka. Adab az-Zifaf 139

4. Apabila cincin ini berbahan emas maka masalah selanjutnya adalah laki-laki tidak boleh memakai perhiasan emas.  ini berdasarkan riwayat berikut:


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زُرَيْرٍ يَعْنِي الْغَافِقِيَّ، أَنَّهُ سَمِعَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَخَذَ حَرِيرًا فَجَعَلَهُ فِي يَمِينِهِ، وَأَخَذَ ذَهَبًا فَجَعَلَهُ فِي شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: «إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي»


Dari Abdullah bin Zurair -yaitu Al Ghafiqi- Bahwasanya ia mendengar Ali bin Abu Thalib radliallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mangambil sutera lalu meletakkannya pada sisi kanannya, dan mengambil emas lalu meletakkannya pada sisi kirinya. Kemudian beliau bersabda: "Sesugguhnya dua barang ini haram bagi umatku yang laki-laki."."HR. Abu Daud no. 4057 dan Tirmidzi no.1720 dan Nasa'i no. 5144 dan Ibnu Majah no. 3595. Dishohihkan oleh Albani 

Apabila anda sebelumnya tidak tahu tentang masalah ini dan ingin menjual cincin pertunangan tersebut, untuk kemudian hasil penjualan digunakan sebagai tambahan uang untuk memblai  mahar  maka itu tidak masalah.  Jangan melakukan prosesi tukar cincin kawin yang mengandung pelanggaran seperti yang disebutkan sebelumnya di atas, dalam pembahasan cincin pertunangan.

Jangan pula melakukan tukar tambah emas  tapi juallah dulu emas penanya kemudian hasil penjualan digunakan untuk membeli emas yang lainnya. Ini berdasarkan hadits `Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,



الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ، وَالفِضَّةُ بِالفِضَّةِ، وَالبُرُّ بِالبُرِّ، وَالشَّعِيْرُ بِالشَّعِيْرِ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ، وَالمِلْحُ بِالمِلْحِ، مِثْلاً بِمِثْلٍ، سَوَاءٌ بِسَوَاءٍ، يَدًا بِيَدٍ، فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ، فَبِيْعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ، إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, jelai dijual dengan jelai, gandum dijual dengan gandum, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan. Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesuka kalian, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” HR. Muslim no.1587

Dan hadits Abu Said al-Khudri

 عن أبي سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ بِلَالٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتَمْرٍ بَرْنِيٍّ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَيْنَ هَذَا قَالَ بِلَالٌ كَانَ عِنْدَنَا تَمْرٌ رَدِيٌّ فَبِعْتُ مِنْهُ صَاعَيْنِ بِصَاعٍ لِنُطْعِمَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ أَوَّهْ أَوَّهْ عَيْنُ الرِّبَا عَيْنُ الرِّبَا لَا تَفْعَلْ وَلَكِنْ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَشْتَرِيَ فَبِعْ التَّمْرَ بِبَيْعٍ آخَرَ ثُمَّ اشْتَرِهِ

Dari  Abu Sa'id Al Khudriy radliallahu 'anhu ia berkata: "Bilal datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan membawa kurma Barni (jenis kurma terbaik) maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata, kepadanya: "Dari mana kurma ini?" Bilal menjawab: "Kami memiliki kurma yang jelek lalu kami jual dua sha' kurma tersebut dengan satu sha' kurma yang baik agar kami dapat menghidangkannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka saat itu juga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Celaka celaka, ini benar-benar riba. Janganlah kamu lakukan seperti itu. Jika kamu mau membeli kurma maka juallah kurmamu dengan harga tertentu kemudian belilah kurma yang baik ini". HR. Bukhari no.2312 dan Muslim no.1594

Wallahu ta'ala a'lam

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com