SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Taubat Dari Perbuatan Masa Lalu


Ikhwan (karanganyar)
2 weeks ago on Aqidah

assalamualaikum maaf sebelumnya, saya ingin bertanya pada ustad dulu saya punya pacar, sudah berzina sama dia, namun sekarang dia sudah menikah bukan sama saya, saya diberitahu jika si wanita menceritakan masa lalunya saat bersama saya pada suaminya,,,namun terkadang saya berfikir jika mereka bertengkar lalu suaminya membahas masa lalunya itu apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan ampunan allah
Redaksi salamdakwah.com
2 weeks ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Berikut ini kami terjemahkan secara bebas keterangan syaikh Utsaimin rahimahullah terkait syarat taubat yang harus dipenuhi oleh orang yang ingin bertaubat:
- Ikhlas karena Allah ta’ala : maksudnya adalah karena takut kepada Allah ta’ala dan ingin mendekat kepadaNya - Menyesal atas perbuatan dosa yang telah dia perbuat sebelumnya
- Segera meninggalkan dosa tersebut dan tidak menunda-nundanya
- Bertekad kuat untuk tidak kembali kepada dosa tersebut
- Taubat itu dilaksanakan pada saat taubat masih diterima, yaitu sebelum ajal menjemput dan sebelum matahari terbit dari sebelah barat. Diterjemahkan secara bebas dari Asy-Syarh Al-Mumti’ Ala Zad Al-Mustaqni’ oleh syaikh Utsaimin 14/380

Sebagai tambahan, hendaknya orang yang bertaubat banyak berbuat baik, supaya kebaikan itu menghapus dosa yang telah lalu. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapus kejelekan tersebut dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik.” HR. Tirmidzi no.1987. Dihasankan oleh Al-Albani


Kedua: Hindarilah muamalah dengan lawan jenis sampai melampaui batas meskipun lawan jenis itu calon istri atau yang lainnya. Hubungan spesial antar lawan jenis meskipun tidak sampai perzinaan itu terlarang dalam Islam. Diantara sebabnya adalah dalam hubungan spseial itu ada hal-hal yang terlarang, diantaranya:

 
1. Khalwat, yaitu berduaan tanpa ada mahram yang menemani, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.”HR. Bukhari no.5233 dan Muslim no.1341


2. Melihat kepada lawan jenis yang bukan mahram dengan sengaja tanpa alasan yang syar'i, Allah ta'ala berfirman dalam surat An-Nur ayat 30-31:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ.....

“Katakanlah kepada laki – laki yang beriman :”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ.

“Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya”

 
3. Bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram, Rasulullah shallallahu alihi wa sallam bersabda:

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagiannya untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” HR. Muslim no.2657


Meski zina Tangan tidak seperti zina Farj tapi itu tetaplah dosa sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, karena julukan untuk perbuatan tertentu dengan julukan yang sama dengan julukan perbuatan yang haram, maka yang pertama dihukumi dengan hukum kedua (haram)


4. Secara umum pacaran mengantarkan dua sejoli ke arah perzinahan, dan semua yang mengantarkan kepada zina dilarang oleh Allah ta'ala dalam surat Al-Isra' ayat 32:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” Kalau dikatakan: jika point-point diatas bisa dihindari maka pacaran tersebut boleh. Kami katakan bahwa itu tidak mungkin karena kalaupun amalan anggota badan dhohir bisa dijaga tapi syahwat yang ada dalam batin tidak bisa dihindari ketika dua sejoli sedang dimabuk asmara, dan jika demikian maka perbuatan itu bisa dikategorikan zina hati sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Kalau memang dua sejoli sudah benar-benar saling mencintai maka tidak ada jalan keluar yang benar untuk menyatukan keduanya kecuali pernikahan dan bukannya berhubungan di luar pernikahan.


Oleh karena itu jagalah pergaulan anda dengan lawan jenis di lingkungan anda sehari-hari. Meski anda pernah melakukan perbuatan keji itu namun bila anda bertaubat dengan sungguh-sungguh maka insyaAllah Allah ta'ala mengampuni.

Semoga Allah ta'ala memberikan kemudahan anda untuk istiqomah dan menerima taubat anda. Dalam Islam taubat adalah cara untuk mendapatkan ampunan Allah ta'ala. Sebesar apapun dosa seseorang selama nafasnya masih belum di tenggorokan karena sekarat dan selama matahari belum terbit dari barat maka pintu taubat masih diterima. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi menerangkan:

pintu tobat selalu terbuka bagi semua pelaku maksiat bahkan kafir sekalipun hingga matahari terbit dari barat (Hari Kiamat). Syarat tobat atas pelanggaran terhadap hak Allah adalah berhenti dari perbuatan dosa, menyesali dosa yang telah lalu, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Pelaksanaan hukum had tidak termasuk dalam syarat tobat. Allah Ta'ala berfirman,


قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا


Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya".


dan

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا


Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana...
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Qu'ud (Anggota)     
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)    
Abdurrazzaq Afifi (Wakil Ketua)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 24/349-350 fatwa no.7803

Tutupilah dosa anda di masa lalu dan jangan disebarluaskan. Ulama' yang duduk di Komite Tetap riset Ilmiah dan Fatwa menerangkan:

Sebaiknya seseorang yang jatuh dalam perbuatan maksiat berupaya untuk menutupi dan tidak mengumbar dosanya dengan tirai Allah. Ia harus meminta ampun dan bertobat kepada Allah dengan tulus. Sebab, ada hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi "

اجتنبوا هذه القاذورات التي نهى الله عنها، فمن ألم بشيء من ذلك فليستتر بستر الله تعالى، وليتب إلى الله، فإنه من يبد لنا صفحته نقم عليه كتاب الله

Jauhilah perbuatan-perbuatan keji yang dilarang Allah. Barangsiapa melakukannya, maka hendaklah ia bersembunyi dengan tirai Allah dan bertobat kepada-Nya, karena sesungguhnya orang yang tampak catatan kesalahannya kepada kami, maka kami akan terapkan hukum Allah atasnya." Menurut adz-Dzahabi, sumber hadis tersebut adalah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Hukum had dalam syariat atas tindakan kriminal ini dikembalikan kepada hakim syar'i. Ia yang memiliki kewenangan untuk memutuskannya berdasarkan aturan dan kondisi terkait.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Qu'ud (Anggota)     
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)    
Abdurrazzaq Afifi (Wakil Ketua)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 24/349-350 fatwa no.7803

Termasuk yang perlu anda lakukan adalah menasehati mantan pacar tersebut (melalui perantara) supaya menutupi aib maksiat di masa lalu dan tidak menginformasikannya, bahkan kepada suaminya sendiri supaya itu tidak menjadi sumber masalah di masa mendatang di dalam rumahtangganya.

Setelah bertaubat jauhilah lingkungan buruk yang bisa menarik anda kembali berbuat maksiat kepada Allah ta'ala, baik itu lingkungan di dunia nyata atau dunia maya. Dalam salah satu riwayat disebutkan:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ، فَأَتَاهُ فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: لَا، فَقَتَلَهُ، فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً، ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ، فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ؟ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللهَ فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ، وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ، فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ

Dahulu, di zaman orang-orang sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 jiwa. Dia pun bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi ketika itu, lalu ditunjukkan kepadanya tentang seorang rahib (pendeta, ahli ibadah). Maka dia pun mendatangi rahib tersebut lalu mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 99 jiwa, apakah ada taubat baginya?

Ahli ibadah itu berkata: “Tidak.” Seketika laki-laki itu membunuhnya. Maka dia pun menggenapi dengan itu (membunuh rahib) menjadi 100 jiwa. Kemudian dia menanyakan apakah ada orang yang paling alim di muka bumi ketika itu? Lalu ditunjukkanlah kepadanya tentang seorang yang berilmu. Maka dia pun mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 100 jiwa, apakah ada taubat baginya? Orang alim itu berkata: “Ya. Siapa yang menghalangi dia dari taubatnya? Pergilah ke daerah ini dan ini. Karena sesungguhnya di sana ada orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah, maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka. Dan jangan kamu kembali ke negerimu, karena negerimu itu adalah negeri yang buruk/jahat...” HR. Muslim no.2118 dan diriwaytakan juga oleh yang lain.

Semoga Allah ta'ala menerima taubat anda dan menerima taubat kami semua

Wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com