SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

perbedaan niat dan bisikan hati


Ikhwan (Bekasi)
4 months ago on Fiqih

Assalamualaikum Ustadz Perbedaan niat dan bisikan hati?
Redaksi salamdakwah.com
4 months ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

 

Niat adalah aktifitas hati yang menyengaja untuk melakukan sesuatu. Kalau niat ibadah berarti  aktifitas hati yang menyengaja untuk melakukan sesuatu didasari keinginan bahwa itu dilakukan mengharapkan wajah Allah ta'ala

Syaikh Ibnu Baz menerangkan:

 

النية كون القلب يعلم أنه قام لهذا الشيء أو شرع في هذا الشيء أو سيشرع في هذا الشيء تريد وجه الله سبحانه وتعالى. نعم. ولا يحتاج تلفظ،

 

Niat adalah ketika hati mengetahui bahwa ia melakukan sesuatu atau memulai sesuatu atau akan melakukan sesuatu dalam rangka menginginkan wajah Allah subahnahu wa ta'ala. Ya, dan itu tidak perlu diniatkan. https://binbaz.org.sa/fatwas/10736/حقيقة-النية-في-العبادات

 

Adapun bisikan hati maka itu bisa dimaknai lintasan-lintasan dalam hati yang itu tidak bisa dikontrol dalam keadaan tertentu sehingga tidak berefek dosa. Seperti lintasan hati yang berlawanan dengan keimanan yang tidak bisa dikontrol. Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi menerangkan:

 

Kedua : Bisikan hati, dan perasaan was-was dari setan tidak akan dihitung sebagai kesalahan seorang Muslim, dan ia tidak dianggap murtad dari Islam jika aqidahnya masih benar (kokoh), berdasarkan sabda Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam:

«إن الله تجاوز عن أمتي ما حدثت بها أنفسها»

Sesungguhnya Allah memaafkan umatku (berkenaan dengan) apa yang terbesit dalam hatinya. Muttafaq 'Alaih.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Abdullah bin Qu'ud (Anggota)

Abdullah bin Ghadyan (Anggota)

Abdurrazzaq `Afifi (Wakil Ketua Komite)

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)

Fatawa al-lajnah ad-Daimah 2/202 Fatwa Nomor (7654)

 

Syaikh Ibnu Baz pernah ditanya dengan pertanyaan senada," Saya selalu melaksanakan shalat lima waktu, puasa, seluruh kewajiban Islam namun kadang ada keraguan dalam diri saya. Apa yang harus saya lakukan untuk mengusir keraguan ini? Apakah keraguan tersebut mengeluarkan seorang muslim kepada kekufuran? Apakah saya berdosa kala itu? Berilah kami faedah ilmu. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada anda."

Beliau menjawab," Apabila keraguan itu terkait dengan Allah ta'ala, negeri akhirat, surga atau neraka dan semacamnyamaka ini semua bersumber dari setan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika ditanya oleh para sahabat tentang apa yang menimpa mereka ini beliau menjawab," katakanlah aku beriman kepada Allah ta'ala dan Utusan-Nya. Hendaklah dia berlindung kepada Allah dan menghentikan (lintasan pikiran itu)"

Ini terjadi kepada sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan mereka bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, mereka berkata," terjadi pada salah seorang kami sesuatu yang kami lebih suka untuk tersungkur dari langit dibanding mengucapkannya," Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda," itu adalah bisikan-bisikan, itu adalah keimanan yang nyata,"
Sebab mengingkari bisikan buruk ini dan angapan bahwa bisikan ini adalah perkara yang besar adalah termasuk tanda keimanan yang nyata dan kuatnya iman. Seorang mukmin bila mendapati bisikan ini dia mengingkarinya didorong oleh imannya dan dia mengingkarinya didorong oleh ilmu yang Allah karuniakan kepada dia sebab dia beriman kepada Allah ta'ala dan hari akhir, dia mengatakan kala itu aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, aku berlindung kepada Allah dari setan yang terlaknat
Bila demikian itu tidak akan memberi mudhorot kepada dia. itu tidak akan mempengaruhi imannya selama dia terus melawannya sekuat tenaga sesuai dengan arahan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan mengatakan," aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku berlindung dari setan,"... http://www.binbaz.org.sa/noor/9199

Namun bisa jadi bisikan hati adalah sesuatu yang memang diinformasikan ke hati. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

Sesungguhnya roh qudus (Malaikat Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir 8: 166).arrohmahtahfizh.sch

© 2022 - Www.SalamDakwah.Com