SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Jerawat Pecah Saat Shalat


Akhwat
2 weeks ago on Ibadah

Bismillah Afwan, tdpat 2 pertanyaan Pertanyaan 1 : seseorang yang memiliki jerawat di wajahnya, lalu biasanya ketika sujud jerawatnya pecah, apakah dia membatalkan shalatnya, begitu pula apakah wudhu'nya ikut batal? Pertanyaan 2: Darah yang keluar dari kulit (maaf) kemaluan dan punggung, namun bukan dari dalamnya, apakah wudhu' dan shalatnya batal?
Redaksi salamdakwah.com
2 weeks ago

السلام ورحمة الله وبركاته

 

Wallahu ta'ala a'lam, darah yang sedikit itu tidaklah najis namun penanya tetap harus menjaga masjid jangan sampai terkotori darah itu, apabila sudah pecah maka penanya perlu membersihkannya kembali. Berikut ini kami akan terjemahkan keterangan syaikh Utsaimin rahimahullah ta'ala dalam masalah itu:

Pendapat yang menyatakan bahwa darah manusia suci selama bukan yang keluar dari qubul dan dubur adalah pendapat yang kuat. Dalilnya adalah:
1. Asal segala sesuatu adalah suci kecuali ada dalil yang menunjukkan najisnya hal itu. Dan kami tidak mengetahui adanya riwayat yang menunjukkan bahwa Rasul shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk mencuci bekas darah kecuali darah haidh, padahal banyak luka yang menimpa orang-orang, mimisan dan bekam dan selainnya. Seandainya itu najis niscaya Nabi shallallahu alaihi wa sallam akan menjelaskannya, karena kebutuhan menuntut hal itu.

2. Kaum Muslimin terus melaksanakan shalat dalam keadaan mereka terluka ketika peperangan, dan kadang banyak darah mengalir dari badan mereka padahal ini bukan termasuk yang dimaafkan, dan belum ada perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk mencucinya, da belum ada riwayat yang menunjukkan bahwa mereka sangat berusaha menjaga diri dari darah itu dengan cara melepaskan baju mereka yang terkena darah ketika mereka mendapatkan baju lainnya.... Asy-Syarh Al-Mumti' 1/441

Dari keterangan di atas bisa diketahui bahwa darah jerawat tidaklah najis dan tidak membatalkan wudhu serta shalat. Dan bagi orang yang mengambil pendapat bahwa darah manusia najis kecuali yang keluarnya sedikit maka darah jerawat juga tidaklah najis baginya karena darah jerawat digolongkan kepada darah yang sedikit.

Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya: Kami melihat sebagian orang pergi ke masjid untuk melaksanakan salat sementara pakaiannya terkena percikan darah. Ketika kami menasihatinya, dia menjawab, "Ini adalah darah dari hewan sembelihan yang halal, dan darahnya tidak membatalkan salat". Apakah perkataan ini benar atau tidak dan bolehkah salat ketika ada darah yang menempel pada pakaian dan kulit atau tidak?
 
Mereka menjawab: Segala puji hanyalah bagi Allah semata. Selawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasul-Nya, kerabat dan sahabat beliau.
 
Hukum asal segala sesuatu adalah boleh dan suci dan tidak boleh dikatakan, "Ini haram atau najis" kecuali dengan dalil. Tidak ada korelasi sama sekali antara yang haram dengan najis, setiap najis adalah haram dan setiap yang haram belum tentu najis. Alquran telah menunjukkan tentang pengharaman darah baik secara mutlak maupun muqayyad (bersyarat), yang mutlak ditafsirkan dengan muqayyad. Allah Ta'ala berfirman,
 

{حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ}

 
(memakan) bangkai dan darah diharamkan bagi kalian
 
dan Allah Ta'ala berfirman,
 

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مسفوحا

 
Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang mengalir".
Darah pada ayat pertama sifatnya mutlak (umum) namun menjadi bersyarat dengan kata masfuh (mengalir) pada ayat kedua. Al- Qurthubi berkata, "Para ulama telah sepakat bahwa darah adalah haram lagi najis, tidak boleh untuk dimakan dan dimanfaatkan". Dan beliau juga mengatakan, "Di sini Allah subhanau wa ta'ala menyebutkan darah secara mutlak, dan dalam surah Al An'am Allah Ta'ala menjadikannya muqayyad melalui firman Nya -- yang terjemahannya --  yang mengalir Para ulama menjadikan yang mutlak di sini menjadi muqayyad secara ijmak. Maka darah di sini -yaitu dalam surah al-Baqarah- maksudnya adalah yang mengalir, karena sesuatu yang bercampur dengan daging tidak haram sesuai dengan ijmak. Demikian juga dengan hati dan limpa telah disepakati". Demikian pernyataan al-Qurthubi.
Dengan ini dapat diketahui bahwa darah yang mengenai kulit seseorang dan pakaiannya adalah darah yang terletak antara daging sehingga tidak najis karena dia tidak mengalir. Akan tetapi yang paling utama bagi seorang muslim adalah membersihkan dirinya dari hal itu karena kekotorannya dan agar tidak dituduh bahwa dia terkotori oleh darah najis yaitu darah yang mengalir, sebagaimana diketahui bahwa darah yang mengalir jika hanya sedikit akan dimaafkan menurut pandangan ahli ilmu.
 
Wabillahittaufiq,wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
 
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Qu'ud (Anggota)
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)
Abdurrazzaq `Afifi 9Wakil Ketua)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 5/409-410 Pertanyaan Keempat dari Fatwa Nomor 5310
 
Mereka juga pernah ditanya: Apakah mimisan membatalkan wudu dan salat atau tidak?
 
Mereka menjawab: Najis yang keluar dari seluruh badan selain kubul (kemaluan) dan dubur, jika bukan kencing atau buang air besar seperti mimisan, muntah, darah luka dan sejenisnya tidak membatalkan wudu kecuali jika dalam jumlah banyak yang menjijikkan. Hal itu berdasarkan hadis yang telah diriwayatkan oleh Abu Darda`   Bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam muntah lantas beliau berwudu Ibnu Abbas radhiyallahu `anhuma berkata, "Jika itu banyak (menjijikkan) maka ia harus mengulangi wudunya."
 
Adapun kalau sedikit maka wudu tidak batal karenanya. Sekelompok sahabat berpendapat demikian, seperti Ibnu Abbas, Abu Hurairah, dan Ibnu Umar radhiyallahu `anhum, dan tidak ada seorang pun dari kalangan sahabat radhiyallahu 'anhum yang menyelisihi mereka. Dan sekelompok tabiin juga berpendapat demikian. Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma bahwa ia pernah memencet jerawat lalu darah keluar kemudian beliau salat dan tidak berwudu. Hal ini mengisyaratkan adanya kemudahan.
 
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
 
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa   
Bakar Abu Zaid (Anggota) 
Shalih al-Fawzan (Anggota) 
Abdul Aziz Alu asy-Syaikh (Wakil Ketua) 
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 4/113 Pertanyaan Kedua dari Fatwa Nomor 18799
 
Untuk pertanyaan kedua kami belum faham maksud dari penanya sehingga kami tidak bisa menjawabnya.

PERTANYAAN TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com