SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Sedekah Setelah Berdosa


Ikhwan (Yogyakarta)
2 weeks ago on Fiqih

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Ustadz mau tanya, saya pernah melakukan suatu dosa yang saya ingin menebusnya dengan sedekah/zakat, apakah dengan donasi online seperti di kitabisa.com termasuk sedekah yang bisa menghapuskan dosa saya tersebut?
Redaksi salamdakwah.com
2 weeks ago

 


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته


Supaya Allah ta'ala menghapus dosa-dosa kita yang telah lalu kita harus bertaubat kepada-Nya dengan taubat nasuha dan memenuhi syarat-syaratnya.

Diantara syarat taubat kepada Allah ta'ala adalah:
1. Ikhlas karena Allah ta'ala
2. Menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan
3. Segera meninggalkan perbuatan tersebut.
4. Bertekad untuk tidak kembali ke dosa tersebut
5. Taubat tersebut dilaksanakan pada saat Taubat masih diterima
lih. Asy-Syarh Al-Mumti' 'ala Zad Al-Mustaqni' oleh syaikh Utsaimin 14/380

Ada pertanyaan yang dilontarkan kepada Ulama' yang duduk di Komite Tetap Reset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi:
Jika seseorang berdosa kemudian dia beristighfar (meminta ampun.pent) kemudian ia berbuat dosa lagi dan dilanjutkan dengan istighfar lagi, dan begitulah, beberapa saat dia tidak berbuat dosa lagi namun setelah beberapa saat dia mengulangi lagi (dosa.pent). Ini bagaimana hukumnya?

Mereka menjawab:
Apabila dia meminta ampun kepada Allah dan bertaubat dengan taubat nasuha serta berlepas diri dari dosa itu maka Allah akan menerima taubatnya serta mengampuninya. Apabila ia kembali berbuat dosa itu kemudian ia meminta ampun kepada Allah, bertaubat dengan taubat nasuha serta berlepas diri dari dosa itu maka Allah akan menerima taubatnya serta mengampuninya. Begitulah seterusnya.
Dosa maksiat yang telah lalu tidak bisa kembali setelah taubat yang sungguh-sungguh dilakukan. Allah ta'ala berfirman (Thaha:82) :


{وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى}


Dan Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.
Dan firman Allah ta'ala (an-Najm:32)


{إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ}


Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunan Nya. . Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 24/319 Pertanyaan kedua dari fatwa no.7825

Ada juga pertanyaan lain yang senada, bunyinya:
Saya telah melakukan banyak perbuatan dosa Dan kemungkaran, namun saya telah bertaubat. Meski demikian saya masih mengulangi kemungkaran tersebut.

Mereka menjawab:
Pujilah Allah subhanahu wa ta'ala yang masih memberi anda taufiq untuk introspeksi diri dan bertaubat dari kemungkaran.

Semoga Allah memberkahi anda. Berhati-hatilah jangan sampai setan Dan nafsu and a mengalahkan anda sehingga anda kembali jatuh pada hal yang diharamkan oleh Allah ta'ala. Apabila anda melakukan hal itu maka anda telah melanggar taubat anda. Sebab syarat-syarat taubat yang benar adalah:
1. Segera berlepas diri dosa tersebut.
2. Menyesali perbuatan itu.
3. Bertekad kuat untuk tidak mengulangi perbuatan itu

Apabila taubat yang dilakukan itu ditujukan untuk perbuatan kedholiman terhadap hamba lain terkait harta, kehormatan agar jiwa maka Ada syarat tambahan (syarat keempat) yaitu: meminta kerelaan dan ridho dari orang yang didholimi atau memberikan apa yang menjadi haknya.

Bila taubatnya benar maka pelaku dosa itu tidak didakwa untuk dosa yang dilakukan sebelum taubat itu, namun ia hanya harus bertaubat atas dosa setelahnya. Dan begitulah seterusnya, setiap terjadi dosa pelakunya wajib bertaubat dengan memenuhi syarat-syarat yang disebutkan sebelumnya.
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 24/310-311, Pertanyaan pertama Dari fatwa no.16784

Terkait bersedekah setalh berbuat dosa, ada riwayat dari ka’ab bin ‘Ujroh radhiallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam berkata kepadaku,

والصدقةُ تُطْفِئُ الخطيئة كما يُطْفِئُ الماءُ النارَ 

“Dan Shadaqah (dapat) menghapus dosa sebagaimana air dapat memadamkan api.” (HR. Tirmizi, no 614. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Sunan Tirmizi)

Terdapat riwayat shahih tentang kisah Ka’ab bin Malik radhiallahu’anhu ketika tidak ikut dalam perang Tabuk, beliau berkata, "Saya berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya bagian dari taubatku adalah aku persembahkan (seluruh) hartaku sebagai  shadaqah untuk Allah dan Rasul-Nya sallallahu’alaihi wa sallam.'

Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَمْسِكْ عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ 

“Simpan sebagian dari hartamu, itu lebih baik bagimu.” (HR. Bukhori, 2758. Muslim, 2769)

An-Nawawi rahimahullah berkata: “Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk bershadaqah sebagai rasa syukur terhadap kenikmatan baru, terutama kenikmatan yang besar.” dari kitab Syarh Muslim.

Disebutkan juga dalam kitab ‘Mugni Al-Muhtaj, 3/206: ‘Disunnahkan bershadaqah setiap selesai bermaksiat, hal itu dikatakan oleh Al-Jurjani.”

Bersedekah setelah melakukan dosa juga bisa masuk ke dalam firman Allah ta'ala:

Tidak mengapa seorang muslim bershodaqah dari hartanya setelah melakukan kemaksiatan berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala: 

 إن الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ 

“Sesungguhnya kebaikan dapat menghapus kejelekan.” (QS. Hud: 114)

PERTANYAAN TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com