SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

menyontek saat sekolah atau kuliah apakah ijazah haram?


Ikhwan (Jawa Barat)
5 months ago on Muammalah

assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, bagaimana status ijazah yang mana saat sekolah atau kuliah sempat menyontek saat ujian atau dalam mengerjakan tugas, apakah ijazahnya haram digunakan dan saat bekerja gajinya menjadi haram?
Redaksi salamdakwah.com
5 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

 

Syaikh Utsaimin rahimahullahu ta'ala pernah ditanya:

 

فضيلة الشيخ: أنا ممن غش في الامتحان ونجح وغش ونجح حتى توظف في إحدى الشركات حتى بدأت آخذ مالاً، هل هذا المال يكون حراماً وهل هو من أكل الربا أفيدوني جزاكم الله خيراً ؟

 

Yang Mulia Syekh: Saya termasuk orang yang menyontek dalam ujian dan lulus, kemudian menyontek lagi dan lulus sampai saya bekerja di sebuah perusahaan hingga saya mulai mendapatkan uang. Apakah uang ini haram dan apakah termasuk orang yang memakan riba? Tolong beri tahu saya, semoga Tuhan membalas anda dengan kebaikan?

 

Beliau menjawab:

 

أقول: إذا كان الطالب ينجح بغش فما قبل الشهادة تكفي فيه التوبة، فمثلاً: نجح في السنة الأولى والثانية والثالثة - هذا في الثانوي - لكن في الثالثة لم يغش، غش في الأولى والثانية وفي الثالثة لم يغش ونجح بصدق، نقول: هذا يكفيه أن يتوب إلى الله؛ لأن الوظيفة - مثلاً- مترتبة على الشهادة، والشهادة نزيهة، وكذلك لو تخرج من الكلية وكان يغش في الأولى والثانية والثالثة لكن في الرابعة كان الاختبار نزيهاً فهذا يكفيه أن يتوب، ولا إشكال فيه عندنا إن شاء الله تعالى أن ما يأخذه ويتقاضاه من الراتب المبني على هذه الشهادة حلال له ما دامت الشهادة نزيهة.

لكن المشكل إذا كان الغش في آخر شيء في الشهادة، فهذا يعني: أن الشهادة الآن مزيفة، والوظيفة مبنية على هذه الشهادة، فيبقى المال الذي يأخذه فيه شبهة.

لكن أقول: إذا تاب إلى الله توبة نصوحاً وكانت المادة التي غش فيها ليس لها صلة بالعمل الذي يقوم به، فنرجو أن يكون راتبه حلالاً.

مثل أن يكون غشه في مادة لا صلة لها بالوظيفة التي توظف فيها، كأن يكون في اللغة الإنجليزية مثلاً، والوظيفة التي هو فيها لا تحتاج إلى اللغة الإنجليزية ولا صلة لها بها، فإننا نرجو إذا تاب أن يكون الراتب الذي يأخذه حلالاً

 

Saya katakan: Jika siswa itu lulus dengan cara menyontek, maka apa yang terjadi sebelum ujian untuk mendapatkan ijazah itu maka cukup baginya untuk bertobat, misalnya: ia lulus di tahun pertama, kedua dan ketiga - ini di sekolah menengah Atas - tetapi di tahun ketiga dia tidak curang, dia curang di yang pertama dan kedua, sedangkan di tahun  ketiga dia tidak curang dan dia lulus dengan jujur, kami katakan: Ini cukup baginya untuk bertobat kepada Allah; Karena pekerjaannya - misalnya - tergantung pada ijazah-, dan ijazahnya diperoleh dengan jujur.

Begitu pula jika seseorang lulus kuliah dan ia curang di tingkat pertama, kedua dan ketiga, tetapi di tingkat keempat, ujiannya  tidak curang , ini cukup baginya untuk bertaubat, dan tidak ada masalah bagi kami  insya Allah, bahwa apa yang dia ambil dan terima dari gaji berdasarkan ijazah ini diperbolehkan baginya selama ijazah itu tidak curang.

Tapi masalahnya kalau kecurangan itu terjadi di akhir (untuk mendapatkan ijazah), maka ini berarti: ijazahnyanya yang sekarang palsu, sedangkan pekerjaan itu didasarkan pada ijazah ini, jadi uang yang dia ambil di dalamnya mengandung syubhat.

Tetapi saya katakan: Jika dia bertaubat dengan sungguh-sungguh kepada Allah sedangkan dan materi pelajaran yang ia curangi tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang dia geluti , maka kami berharap gajinya halal. Seperti jika kecurangannya dalam materi yang tidak berhubungan dengan pekerjaan dimana ia bekerja, seperti jika materinya adalah bahasa Inggris sedangkan pekerjaan yang ia lakukan tidak memerlukan bahasa Inggris dan tidak berhubungan. untuk itu, maka kami berharap jika dia bertaubat, gaji yang dia ambil akan dibolehkan.  https://binothaimeen.net/content/208 

Apabila ternyata materi-materi yang dicurangi merupakan materi yang ada hubungannya dengan pekerjaan maka kami sarankan untuk mendiskusikan masalah ini ke pihak kantor dengan sejujur-jujurnya. Apabila mereka ingin mengadakan uji kompetensi maka harus diikuti oleh pegawai yang bersangkutan. Kalau pihak perusahaan tidak berkenan untuk menerima perundingan dalam masalah ini maka pegawai yang bersangkutan harus menerima keputusan perusahaan. Apabila perusahaan tidak mempermasalahkan kejadian ini (setelah mereka diberi tahu) karena mereka melihat kinerja yang baik dari orang tersebut maka alhamdulillah. Yang jelas orang tersebut harus bertaubat kepada Allah ta'ala karena kesalahan tersebut. 

Ada pertanyaan yang mirip yang ditanyakan kepada syaikh Ibnu Baz rahimahullahu ta'ala:

Seorang laki-laki bekerja dengan menggunakan ijasah ilmiah (Memasuki lowongan pekerjaan itu dengan ijasah.pent), ia telah melakukan kecurangan di ujian-ujian untuk memperoleh ijasah itu. Dia sekarang bekerja dengan baik dengan pengakuan para bawahannya maka apa hukum gajinya apakah itu halal atau haram?

Beliau menjawab:

Tidak apa-apa insya Allah, akan tetapi ia wajib bertaubat kepada Allah ta'ala dari kecurangan yang terjadi. Apabila ia melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya maka apa yang peroleh tidak bermasalah, akan tetapi ia telah melakukan kesalahan pada kecurangannya yang telah lalu, dan ia wajib untuk bertaubat kepada Allah ta'ala dari hal itu. Majmu' Fatawa Ibnu Baz 19/31-32

Syaikh Ibnu Baz berkata: kecurangan dalam ujian, ibadah dan pergaulan adalah haram berdasarkan sabda Rasul shallallahu alaihi wa sallam:

 

من غش فليس مني. أخرجه مسلم رقم 102

 

Barangsiapa yang curang maka bukan termasuk golonganku

Disamping itu kecurangan banyak berefek buruk di dunia dan akhirat, maka kewajiban kita adalah berhati-hati darinya dan saling menasehati untuk meninggalkannya. Majmu’ Fatawa Ibnu Baz juz.24 hal.62

Wallahu ta'ala a'lam 

© 2022 - Www.SalamDakwah.Com