SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

apakah sah dan diterima islamnya


Ikhwan (Surabaya)
5 months ago on Fiqih

Assalamu alaikum mau tanya ustad , langsung saja jika seseorang itu murtad , kemudian karena ke tidak tahuan nya dia menyangka untuk kembali ke islam lagi dia hanya membaca istighfar , kemudian suatu saat dia mencuri wifi seseorang , dan dia mencari di Internet, tentang cara orang murtad kembali ke islam lagi jawabannya adalah dengan membaca dua kalimat syahadat , anggapan dia selama ini ternyata salah , untuk kembali ke islam bagi orang murtad bukan baca istighfar , tapi baca syahadat , dan ilmu pengetahuan tersebut dia dapat dari mencari di Internet dengan cara mencuri wifi seseorang , pertanyaan saya adalah : 1. apakah masuk islamnya orang murtad tersebut sah dan diterima , di karenakan pengetahuannya tentang cara taubat orang murtad di peroleh dari mencuri wifi seseorang . 2. dan apakah ilmu agama yang di peroleh dari wifi curian tersebut yang dari situs situs sunnah , apakah halal dan sah, serta berpahala jika di amalkan ? atau apakah haram jika di amalkan ?
Redaksi salamdakwah.com
5 months ago

 

 وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Mengkoneksikan alat elektronik ke jaringan wifi orang lain supaya bisa mengakses internet tanpa seizin pemilik merupakan perbuatan dosa yang perlu taubat khusus mengingat di sini ada kedholiman kepada pemilik wifi karena orang itu menggunakan pelayanan yang dimiliki oleh orang lain tanpa seizinnya. Dalam kitab Mawahib al-Jalil disebutkan:  

 

الغصب في لسان العرب: منطلق على أخذ كل ملك بغير رضا صاحبه ـ من شخص أو مال أو منافع ـ وكذلك التعدي سراً أو جهراً، أو اختلاساً، أو سرقة، أو جناية، أو قهراً، غير أن الغصب استعمل في عرف الفقهاء في أخذ أعيان المتملكات بغير رضا أربابها وغير ما يجب على وجه القهر والغلبة من ذي سلطان وقوة

 

Kata Ghasb di kitab Lisan al-Arab diartikan: pengambilan setiap properti/sesuatu yang dimiliki tanpa persetujuan pemiliknya - baik itu itu bentuknya  seseorang, uang atau manfaat/jasa

Ghasb juga diartikan: pelanggaran secara rahasia atau terbuka, penggelapan, pencurian, kejahatan, atau pemaksaan. 

Menurut istilah para ahli fikih kata ghasb digunakan untuk menggambarkan pengambilan apa yang dimiliki tanpa izin pemiliknya dan diambil dengan cara yang tidak benar oleh pihak penguasa. Mawahib al-Jalil Syarh Mukhtashor al-Kholil

Terkait taubat dan masuk islam orang tersebut karena ilmu yang ia peroleh dari melakukan akses ilegal ke jaringan orang lain maka ini masalah terpisah. Kalau taubat dan kembalinya ke Islam didasari kesungguhan dan sesuai dengan aturan syariat maka taubat dan rujuknya ke Islam sah. Namun ia berdosa karena melakukan akses ilegal itu.

Terkait Ilmu yang didapatkan dari akses ilegal tersebut juga suatu hal yang terpisah dari "pencurian"tersebut. Apabila dia mengamalkan ilmu tersebut dengan benar maka dia mendapatkan pahala.

Perlu difahami bahwa apa yang kami sampaikan di atas bukan berarti setuju dengan aksi ilegal itu. Kami ingin menyampaikan dengan tegas bahwa dosa yang dilakukan dengan melakukan akses ilegal itu merupakan dosa yang taubatnya lebih berat dari dosa biasa yang hanya berhubungan dengan Allah saja.

Berikut ini syarat-syarat taubat yang disebutkan oleh Ulama':
1. Ikhlas karena Allah ta’ala : maksudnya adalah karena takut kepada Allah ta’ala dan ingin mendekat kepadaNya

2. Menyesal atas perbuatan dosa yang telah dia perbuat sebelumnya.

3. Segera meninggalkan dosa tersebut dan tidak menunda-nundanya

4. Bertekad kuat untuk tidak kembali kepada dosa tersebut

5. Taubat itu dilaksanakan pada saat taubat masih diterima, yaitu sebelum ajal menjemput dan sebelum matahari terbit dari sebelah barat. Diterjemahkan secara bebas dari Asy-Syarh Al-Mumti’ Ala Zad Al-Mustaqni’ oleh syaikh Utsaimin 14/380

Apabila dosa itu berbentuk kedholiman kepada yang lain maka ada syarat lain yang harus dipenuhi yaitu meminta keridhoan dan kehalalan dari orang yang didholimi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ 


“Siapa yang berbuat kedzaliman kepada saudaranya baik dari sisi kehormatan atau sesuatu hal, maka mohonlah dihalalkan darinya sekarang (pada hari ini) sebelum tidak berguna lagi dinar dan dirham. Kalau dia mempunyai amal shaleh, maka akan diambil darinya sesuai dengan kadar kedzalimannya. Kalau tidak mempunyai kebaikan, maka keburukan orang tersebut akan diambil dan dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari, no. 2449)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:


قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " الظُّلْمُ ثَلَاثَةٌ: فَظُلْمٌ لَا يَتْرُكُهُ اللهُ، وَظُلْمٌ يُغْفَرُ، وَظُلْمٌ لَا يُغْفَرُ، فَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُغْفَرُ فَالشِّرْكُ لَا يَغْفِرُهُ اللهُ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي يُغْفَرُ فَظُلْمُ الْعَبْدِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُتْرَكُ فَظُلْمُ الْعِبَادِ فَيَقْتَصُّ اللهُ بَعْضَهُمْ مِنْ بَعْضٍ "


“Kedzaliman itu ada tiga; kedzaliman yang tidak akan Allah biarkan, kedzaliman yang akan dia ampuni, dan kezhaliman yang tidak akan dia ampuni. Adapun kedzaliman yang tidak Allah ampuni adalah syirik, itu tidak akan Allah ampuni. Adapun kedzaliman yang akan diampuni adalah kedhaliman hamba (terhadap dirinya sendiri) dalam perkara yang ada antara dirinya dan Rabb-nya. Adapun kedzaliman yang tidak akan Allah biarkan adalah kezhaliman sesama hamba hingga Alah akan mengqishah yang satu dengan yang lain.” Hilyatul auliya' wa Tabaqat al-Ashfiya' 6/309 . Hadits ini hasan menurut syaikh al-Albani, lih. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 4/560
 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2022 - Www.SalamDakwah.Com