SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Suami Tidak Perduli Kepada Orang Tua Istri


Akhwat (Sidoarjo)
1 week ago on Keluarga

Assalamua'laikum wr wb ust.. Sy ibu dr anak yg masih berumur 4 bulan. Dan sy lg bekerja mnjadi guru ngaji disebuah sekolahan dan TPQ didaerah rumah sy. Tiap kali sy mengajar anak sy titipkan ortu sy, karna kbetulan tmpat kerja dket dr rumah. Kluarga sy emng kluarga yg sderhana, sdgkan kluarga suami sy kluarga yg agak mampu. Tp ntah knp suami sy g suka sm ortu sy, bahkan dg kluarga sy. Dia g mau pake apapun dr rumah sy, misal g mau pake air, makan, apapun dr rumah sy. Kdang jg sy dihina krn kondisi kluarga sy. Dia pun g prnah sapa ortu sy, dia bicara klo kluarga sy yg mulai. Sy g enk sm ortu sy ust, krn ank kita yg ngrawat ortu sy, sy g bisa kasih apa2 sm mreka, tp sy tau ortu sy hanya ingin diperhatiin dan dibantu beres2 rmh aja. Sy uda berkali2 bilang k suami klo ajak ngomong ortu sy, tp dia ttep gengsi. Kdng sy sedih ust, suami g peduli sm kluarganya. Sdgkan sy msih bisa bantu2 mertua sy, krn mertua sy uda sy anggep ortu sy. Bgaimana cara menasehati suami sy yg punya sift sperti itu ust, mohon solusinya🙏🙏
Redaksi salamdakwah.com
1 week ago

 

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Bila faktanya sebagaimana yang disalampaikan oleh penanya maka si suami memang perlu diberi masukan dan nasehat. 

Wallahu ta'ala a'lam dilihat dari sisi teknis di lapangan seorang istri lebih tahu tentang karakter suami yang dengan itu istri bisa memilih cara terbaik supaya nasehat yang disampaikan bisa diterima seperti apakah suami mudah terpengaruh dengan tulisan atau audio atau audio visual, kemudian saat bagaimana suami biasanya mudah untuk menerima masukan apakah saat ia makan, saat habis shalat atau yang lain, istri juga lebih tahu bahwa kata-kata yang bagaimana yang bisa diterima suaminya, begitu pula tekanan suara dan intonasi. Namun secara umum ada arahan dalam mendakwahi seseorang. Allah ta'ala berfirman dalam surat an-Nahl ayat 125,


ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ


Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. 

Syaikh Sa'di menerangkan makna ayat tersebut," Berdakwahlah kepada jalan Rabb mu yang lurus yang mencakup ilmu yang bermanfaat dan amal shalih (baik dakwah itu kepada orang muslim atau orang kafir) dengan hikmah yakni menyesuaikan dengan keadaan, pemahaman, ucapan dan ketundukan objek dakwah.

Termasuk hikmah dalam berdakwah adalah:
- dakwah didasari dengan ilmu bukan dengan kebodohan
- memprioritaskan materi dakwah yang paling penting
- Mendahulukan apa yang mudah dicerna di benak dan pemahaman objek dakwah, dan mendahulukan yang mudah diterima dengan sempurna
- dilakukan dengan lembut dan halus

Apabila dakwah yang dilakukan dengan hikmah tidak diterima maka beralih ke cara selanjutnya yakni dengan al- Mauidhoh al-Hasanah yakni perintah dan larangan yang disertai dengan dorongan dan ancaman
- itu bisa dilakukan dengan menyebutkan dan memperinci maslahat dari perintah-perintah agama dan bisa dilakukan dengan menyebutkan dan memperinci mudhorot dari larangan agama. 
- atau dengan menyebutkan kemuliaan yang diberikan kepada orang yang melaksanakan aturan agama Allah dan menyebutkan kehinaan yang ditimpakan kepada orang yang tidak melaksanakan aturan agama Allah 
- atau menyebutkan pahala yang disegerakan dan pahala yang disiapkan nanti bagi orang-orang yang taat serta menyebutkan balasan yang disegerakan atau yang disiapkan nanti bagi orang-orang yang tidak mau taat 

Apabila objek dakwah berpendapat bahwa sikap dia benar atau dia mengajak orang kepada kebatilan maka dia diajak untuk berdiskusi dengan cara yang baik. Itulah metode-metode yang lebih dekat dengan kemungkinan diterimanya dakwah oleh objek dakwah baik itu ditinjau dari sisi logika atau nash. Taisir al-Karim ar-Rahman 452 

Diantara hal yang bisa disampaikan ke si suami adalah bahwa seorang laki-laki disyariatkan untuk berbuat baik kepada mertuanya dan orang lain, namun kepada mertuanya lebih ditekankan karena dengan berbuat baik kepada mertuanya dia telah membantu istrinya untuk berbakti. Dalam salah satu riwayat yang shahih disebutkan:


عَنْ عَلِيٍّ قَالَ: كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً وَكُنْتُ أَسْتَحْيِي أَنْ أَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ: «يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ»


Dari Ali bin Abi thalib radhiyallahu anhu, ia berkata:”Aku adalah orang yang banyak mengeluarkan madzi, namun aku malu untuk bertanya langsung kepada Rasulullah karena kedudukan putrinya (Fatimah) yang menjadi istriku. Akupun meminta al-Miqdad Ibnu al-Aswad untuk menanyakan kepada Rasulullah, Beliau menjawab:


يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ


“Seharusnya ia mencuci kemaluannya dan berwudhu" HR. Bukhari no.178 dan Muslim no.303. Lafadz ini adalah lafadz Muslim

Setelah membawakan riwayat tersebut imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan:

 

وَفِيهِ اسْتِحْبَابُ حُسْنِ الْعِشْرَةِ مَعَ الْأَصْهَارِ وَأَنَّ الزَّوْجَ يستحب له أن لا يذكر بِجِمَاعِ النِّسَاءِ وَالِاسْتِمْتَاعِ بِهِنَّ بِحَضْرَةِ أَبِيهَا وَأَخِيهَا وَابْنِهَا


Imam an-Nawawi rahimahullah ta'ala terkait hadits itu menerangkan: pada hadits itu ada anjuran untuk berbuat baik kepada keluarga istri. Syarh an-Nawawi Ala Shahih Muslim 3/214

Pertanyaan Apakah sikap baik dan bakti kepada kedua orang tua suami adalah hak suami atas istrinya, meskipun kedua mertua itu non-muslim? Perlu diketahui, bahwa istri tersebut tinggal bersama suaminya di sebuah rumah yang terpisah dari keluarga suami. Istrinya juga mengunjungi kedua mertuanya dari waktu ke waktu. Mohon jelaskan kepada kami. Semoga Allah memberi kebaikan kepada Anda.

Mereka menjawab: Seorang muslimah dituntut bersikap baik kepada kedua mertua dan yang lainnya. Akan tetapi, yang paling ditekankan adalah sikap baik terhadap kedua mertua, karena itu merupakan bentuk bakti kepada suami. Ini juga berarti membantu suami untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Bakr Abu Zaid (Anggota)    
Shalih al-Fawzan (Anggota)    
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)    
Abdul Aziz Alu asy-Syaikh (Ketua)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz 
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 19/266 Pertanyaan Ketiga dari Fatwa Nomor:18280

Semoga Allah ta'ala memberi hidayah kepada si suami dan kepada orang-orang yang telah salah jalan

 Wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com