SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Emas Sampai Empat Hari Setelah Akad


Ikhwan
1 week ago on Riba

Assalamualaikum Saya baru mengetahui bahwa jual beli emas harus dilakukan secara kontan. Yang saya tanyakan: 1. Apakah transaksi jual beli emas yang dilakukan dengan cara pembayaran pada hari H, sedangkan emas baru diterima pembeli pada H+4 (melalui kurir) digolongkan sebagai riba nasi'ah? 2. Apakah seluruh dana hasil penjualan emas dengan cara tersebut menjadi haram? Atau hanya sebagiannya? 2. Bagaimana hukumnya bekerja pada perusahaan yang melakukan jual beli emas sebagiannya dengan cara tersebut? Jazakallahu khair Ustadz.
Redaksi salamdakwah.com
1 week ago

 

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Wallahu ta'ala a'lam. Ini termasuk yang dilarang karena ini masuk ke dalam larangan Nabi shallallahu alaihi wa sallam: 


الذهب بالذهب، والفضة بالفضة، والبر بالبر، والشعير بالشعير، والتمر بالتمر، والملح بالملح، مثلا بمثل، سواء بسواء، يدا بيد، فإذا اختلفت هذه الأصناف، فبيعوا كيف شئتم، إذا كان يدا بيد

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan. Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” HR. Muslim 1587 

Telah ada dalam keputusan Majma’ Al-Fiqh Al-Islamiy dibawah Muktamar Islami yang teksnya adalah ‘Terkait dengan hukum uang kertas, ia adalah uang yang diakui. Ia mempunyai nilai penuh. Dan ada hukum syar’i yang telah ditetapkan untuk emas dan perak dari sisi hukum riba, zakat, salam dan seluruh hukumnya.’ Selesai dari Majalah Al-Mujamma’ Vol. III Juz.3 hal. 1650 dan Vol. V juz.3 hal. 1609.

Para ulama’ AL-Lajnah Ad-Daiah Lil Ifta’ mengatakan, ‘Tidak diperbolehkan menjual emas dengan emas, perak dengan perak kecuali dengan harga yang sama dan langsung (diserahkan tangan ke tangan).  Kalau salah satu barangnya itu emas campuran atau uang sementara barang lain perak campuran atau uang. Atau jenis uang lain. Maka diperbolahkan ada perbedaaan timbangan diantara keduanya. Akan tetapi harus saling memegang sebelum berpisah di tempat akad. Kalau menyalahi dalam masalah ini, maka ia termasuk riba. Maka pelakunya termasuk dalam keumuman firman-Nya :

(الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ)

‘Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.’ SQ. Al-Baqarah: 275. Selesai.

Syekh Abdul Aziz bin Baz, Syekh Abdur Razaq Afifi, Syekh Abdullah Godyan, Syekh Abdullah bin Qa’ud. Selesai dari ‘Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 13/483-485.

Apabila akadnya rusak maka hasil akad tersebut haram karena akad tersebut batal sehingga dengan dasar apa kepemilikan berpindah. Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin menerangkan:

 إيقاع العقود الفاسدة أو الشروط الفاسدة حرام لا يجوز؛ لأن الفساد نتيجة التحريم وثمرته، فلا فساد إلا بتحريم، ولهذا نقول: " كل فاسد محرم وليس كل محرم فاسداً، ومعنى فاسداً أي: لا تترتب عليه أحكامه

Merujudkan akad atau syarat yang fasid (rusak) tidaklah diperbolehkan. Karena fasad (kerusakan) itu adalah hasil dan buah dari  pengharaman sesuatu. Tidak ada kerusakan kecuali disebabkan oleh pengharaman. Sehingga kita katakan: Setiap yang fasid hukumnya haram namun tidak semua yang haram hukumnya fasid. maksud dari fasad adalah tidak terwujud efek hukumnya.

Diantara dalil untuk ini adalah hadits:


عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: أُتِيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتَمْرٍ، فَقَالَ: «مَا هَذَا التَّمْرُ مِنْ تَمْرِنَا؟

، فَقَالَ الرَّجُلُ: يَا رَسُولَ اللهِ، بِعْنَا تَمْرَنَا صَاعَيْنِ بِصَاعٍ مِنْ هَذَا،

  فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هذَا الرِّبَا فَرُدُّوهُ، ثُمَّ بِيعُوا تَمْرَنَا وَاشْتَرُوا لَنَا مِنْ هَذَا  


Abu Sa’id mengatakan: “Didatangkan kurma kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam. Lalu beliau mengatakan: “Kurma ini bukanlah dari jenis kurma kita”.
Maka lelaki yang mendatangkan kurma mengatakan: “Wahai Rosululloh, kami menjual dua sho’ (salah satu jenis takaran) jenis kurma kita, dengan satu sho’ dari jenis ini”.
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, lantas berkata: “Ini adalah riba, kembalikanlah oleh kalian. Kemudian juallah kurma kita (dengan benda yang lain). Lalu kalian belilah untuk kami dari jenis kurma ini”. (HR Muslim no.1594)

Dengan demikian maka hasil akad yang rusak dan batal ini adalah tidak terjadinya perpindahan kepemilikan sehingga kalau dipaksakan maka ini seperti menggunakan harta oang lain dengan cara yang tidak syar'i. Idealnya mencari pekerjaan di tempat lain 

 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com