jQuery Mobile Framework

Navigation Search

Tanya Ustadz

Bagaimana Menyikapi Orang yang Membenci Kita Selama Bertahun-Tahun dan Tidak Mau Memaafkan Kesalahan Kita?

Senin, 15 April 2013 , 09:07:00
Penanya : Akhwat
Daerah Asal : Lahat

Assalamu'alaikum,
bagaimana menyikapi orang yang telah membenci kita selama bertahun-tahun, walaupun kita telah meminta maaf berulang kali dan orang tersebut terus-menerus mengungkit-ungkit kesalahan kita di masa lalu, dan mengatakan kepada orang-orang di sekeliling kita bahwa ibadah yang kita lakukan adalah kebohongan dan tipu daya semata ?

Jawab :


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته


Apabila memang kita pernah berbuat salah kepada seseorang maka cobalah untuk melakukan hal-hal berikut:

1. Kita ikhlas kepada Allah ta'ala dalam permintaan maaf kepada orang yang pernah kita dholimi.
2. Kita jujur dalam permintaan maaf kita.
3. Kita memilih waktu yang tepat untuk meminta maaf.
4. Kita memilih kata-kata yang tepat untuk meminta maaf.
5. Lebih baik lagi jika kita memberikan hadiah saat meminta maaf.

Apabila orang yang pernah kita dholimi tidak mau memaafkan maka hendaknya kita:
1. Bersabar dan tidak putus asa untuk meminta maaf kepadanya.
2. Banyak melaksanakan amalan-amalan sunnah dan melakukan perbuatan-perbuatan baik.
3. Banyak mendoakan kebaikan untuk orang yang pernah kita dholimi dan menyebut kebaikannya di tempat-tempat pertemuan, baik dia ada di majlis tersebut atau tidak. Semoga Allah ta'ala membuka hati orang yang pernah kita dholimi sehingga ia berkenan memaafkan kealpaan dan kelalaian kita yang berakibat tersakitinya diri atau hati seseorang.


Perlu diketahui oleh orang yang tidak mau memaafkan saudaranya bahwa Allah ta'ala telah berfirman dalam surat Asy-Syuro ayat 40:


فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ


Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik Maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.

Perlu diketahui juga oleh orang yang tidak mau memaafkan saudaranya yang bersalah, bahwa memaafkan adalah termasuk akhlaq yang mulia dan sebab terwujudnya cinta kasih.
Ibnu Hibban pernah menyinggung masalah ini dalam salah satu kitabnya:
Orang berakal wajib untuk menerima udzur saudaranya dalam kejahatan dan kelalaian yang telah diperbuat, kemudian ia menjadikan orang yang bersalah itu bersih dari kesalahannya. Sebab, jika seseorang (yang bersalah) ingin memiliki hubungan lagi dengannya tapi tidak diterima olehnya maka aku takut ia tidak bisa mendatangi telaga Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Raudhatul Uqola' wa Nuzhatul Fudhola' 183


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Oleh : Mukhsin Suaidi
Sudah dibaca oleh 1291 orang

Share:

Follow Us: