jQuery Mobile Framework

Navigation Search

Tanya Ustadz

keluarnya mani tidak pasti membatalkan puasa

Sabtu, 21 Juli 2012 , 05:39:56
Penanya : Ikhwan
Daerah Asal : jakarta.

Assalamualaikum ust. Saya mau tanya jika waktu puasa keluar air mani apakah puasa batal ? Dan bagaimana hukumnya dan dalilnya yg jelas ust. Tentang perkara yg membatalkan puasa. Terima kasih

Jawab :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Ada beberapa point yang ingin kami sampaikan sehubungan dengan pertanyaan yang dilontarkan.

Point pertama:
Keluar mani tidak membatalkan puasa jika:
1. Keluar saat tidur, yakni karena mimpi tertentu yang membuat maninya keluar. Ini tidak mempengaruhi puasa karena keluar tanpa ada kesengajaan dan diluar control orang yang bermimpi.
2. Keluar mani karena sakit saat terjaga. Ini tidak membatalkan karena ini keluar tanpa syahwat dengan begitu ini sama sperti keluarnya air kencing, sebab yang lainnya, ini keluar tanpa ada kesengajaan dan perbuatan yang memicu keluarnya mani itu (dan ini sama dengan mimpi basah) lih. Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah 3/128

Point kedua:
Keluar mani yang disengaja atau berbuat hal-hal yang memicu mani ini keluar maka ini membatalkan puasa, seperti bersetubuh dan onani, bersetubuh sudah ada dalilnya yang jelas, sedangkan onani dalilnya adalah:

1. hadits Qudsi:

الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِي.أخرجه البخاري رقم 7492 ومسلم رقم 1151.واللفظ للبخاري
Puasa adalah milikku dan Aku yang membalasnya, orang yang berpuasa meninggalkan syahwat, makan dan minumnya demi aku.

Dan onani masuk dalam kategori syahwat yang harus ditinggalkan.

2. Analogi dengan perbuatan menyengaja untuk muntah.
Orang yang sengaja muntah menyebabkan dia lemah saat berpuasa dan onani juga menyebabkan lemahnya badan pelakunya.
Lih. http://islamqa.info/ar/ref/93769

Point ketiga:
Dan tidak semua dalil dalam masalah ini khususnya atau dalam masalah lain secara umum harus berasal dari nash Qur’an dan Sunnah.
Dan orang yang bertanya tidak selamanya berhak untuk diikuti kemauannya ketika meminta dalil, berikut terjemahan dari tulisan Ibnu sholah dalam masalah ini
As-Sam’ani menyebutkan bahwasanya seseorang tidak dilarang untuk meminta dalil kepada mufti, ini dalam rangka untuk kehati-hatian. Dan seorang mufti ketika itu wajib menyebutkan dalil jika dalil itu memang dipastikan tepat untuk masalah yang difatwakan.
DAN MUFTI TIDAK WAJIB MENYEBUTKAN DALIL JIKA DALIL ITU TIDAK PASTI DALAM MASALAH YANG DIFATWAKAN KARENA PERLU IJTIHAD DALAM MASALAH TERSEBUT, DAN INI TIDAK DIFAHAMI OLEH ORANG AWAM. Wallahu a’lam. Adabul Mufti wal Mustafti oleh Ibnu sholah hal 171

Oleh : Redaksi salamdakwah.com
Sudah dibaca oleh 376 orang

Share:

Follow Us: