SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Jalan-jalan Syurga

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رضي الله عنه، قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي اْلجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي عَنِ النَّارِ، قَالَ: لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْ عَظِيْمٍ وَإِنَّهُ لَيَسِيْرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللهُ عَلَيْهِ: تَعْبُدُ اللهَ وَلاَ تُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ الْبَيْتَ. ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ اْلخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ اْلخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ اْلمَاءُ النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِيْ جَوْفِ اللَّيْلِ. ثُمَّ تَلاَ: (تَتَجَافَى جُنُوْبُهُمْ عَنِ اْلمَضَاجِعِ) حَتَّى بَلَغَ (يَعْمَلُونَ). ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ اْلأَمْرِ كُلِّهِ وَعَمُوْدِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: رَأْسُ اْلأَمْرِ اْلإِسْلاَمُ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ اْلجِهَادُ، ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا نَبِيَّ اللهِ، فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هذَا، قُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ، فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ -أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ- إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ


Dari Mu’adz bin Jabal RA, ia mengatakan, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang amalan yang akan mema-sukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka.’ Beliau bersabda, ‘Sungguh kamu bertanya tentang suatu yang besar, dan sesungguhnya itu sangat mudah bagi siapa yang dimudahkan oleh Allah: yaitu kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu tentang pintu-pintu kebajikan? Puasa adalah perisai, sedekah menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat yang dilakukan seseorang di tengah malam.’ Kemudian beliau membaca:’Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya’ hingga ‘yang telah mereka kerjakan.’ (as-Sajdah: 16-17). Kemudian beliau bertanya, ‘Maukah aku beritahukan kepadamu tentang pokok urusan, tiangnya, dan puncaknya?’ Aku menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Pokok segala urusan ialah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya ialah jihad. Kemudian beliau bertanya, ‘Maukah aku beritahukan kepadamu tentang inti semua itu?’ Aku menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah. Lantas beliau memegang lisannya, seraya bersabda, ‘Tahanlah ini padamu.’ Aku bertanya, ‘Wahai Nabi SAWllah, apakah kami akan dihukum karena apa yang kami ucapkan?’ Beliau menjawab, ‘Semoga ibumu kehilangan kamu! (ung-kapan terkejut). Tidak ada yang menjatuhkan wajah manusia -atau beliau bersabda, ‘Leher manusia,’- ke dalam neraka, melainkan hasil lisan mereka (yang buruk).” (HR. at-Tirmidzi, dan ia menilai se-bagai hadits hasan shahih).*

SYARAH

Imam an-Nawawi berkata:

Sabdanya, “Dzirwatu sanamihi,” yakni, yang tertingginya. Dan Milaku asy-Syai’ dengan kasrah mim, artinya, tujuannya.

Sabdanya, “Tsakilatka ummuka.” Artinya, semoga ibumu kehi-langanmu, dan Rasulullah SAW tidak memaksudkan doa yang sesungguhnya. Tetapi hal itu berlaku menurut kebiasaan bangsa Arab dalam percakapan.

“Hasha’idu Alsinatihim” (hasil (keburukan) lisan mereka). Kejahat-an lisan terhadap manusia ialah dengan mengusik kehormatan mereka, pergi ke sana ke mari dengan membawa namimah (adu domba), dan sejenisnya. Kejahatan-kejahatan lisan ialah ghibah (menggunjing), namimah, dusta, tuduhan dusta, kata-kata kufur, mengolok-olok, dan mengingkari janji. Allah SWT berfirman,” Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (Ash-Shaff: 3).

Imam Ibnu Daqiq berkata:

Sabdanya, “Sungguh kamu bertanya tentang suatu yang besar, dan sesungguhnya itu sangat mudah bagi siapa yang dimudahkan oleh Allah.” Yakni, bagi siapa yang diberi taufik oleh Allah. Kemudian Dia mem-bimbingnya untuk beribadah kepadaNya dengan mengikhlaskan ke-taatan kepadaNya, ia beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Kemudian beliau bersabda, “Mendirikan shalat.”Mendirikannya ialah mengerjakannya dengan sempurna. Kemudian beliau menyebutkan syariat-syariat Islam berupa zakat, puasa dan haji.

Kemudian beliau bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepadamu tentang pintu-pintu kebajikan: puasa adalah perisai.” Yang dimaksud puasa di sini ialah selain puasa Ramadhan karena telah disebutkan. Maksudnya, ialah memperbanyak berpuasa. Junnah ialah perisai. Artinya, puasa adalah penutup bagimu dan melindungi dari api neraka.

Kemudian beliau bersabda, “Sedekah menghapuskan kesalahan.” Yang dimaksudkan dengan sedekah di sini ialah selain zakat.

Kemudian beliau bersabda, “Dan shalat yang dilakukan seseorang di tengah malam.” Kemudian beliau membaca, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (ber-macam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (As-Sajdah: 16-17).

Artinya, bahwa orang yang bangun tengah malam, meninggal-kan tidurnya dan kelezatannya, dan lebih mengutamakan apa yang diharapkannya dari Tuhannya dibandingkan hal itu, maka balasannya ialah apa yang disebutkan dalam firmanNya, “Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk me-reka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (As-Sajadah: 17).

Disebutkan dalam suatu riwayat bahwa Allah membangga-banggakan orang-orang yang bangun malam dalam gelap, dengan firmanNya, “Lihatlah hamba-hambaKu, mereka bangun dalam kegelapan malam di mana tiada seorang pun melihat mereka selainKu. Aku menjadikan kalian sebagai saksi bahwa Aku telah perkenankan kepada mereka negeri kemurahanKu.”

Kemudian beliau bersabda, “Maukah aku beritahukan kepadamu tentang pokok urusan” hingga akhirnya, beliau menjadikan perkara ini seperti pejantan unta. Beliau menjadikan Islam sebagai pokok urusan ini, dan hewan tidak akan hidup dengan tanpa kepala.

Kemudian beliau bersabda, “Tiangnya adalah shalat.” ‘Amud asy-Syai’ ialah suatu yang menegakkannya dari apa yang tidak dapat kukuh menurut kebiasaan dengan tanpa tiang.

Sabdanya, “Dan puncaknya ialah jihad.” Dzirwatu kulli Syai’ ialah yang tertinggi. Dzirwatu sinam al-Ba’ir ialah ujung punuknya. Dan jihad tidak ada sesuatu pun yang membandinginya. Sebagaimana Abu Hurairah meriwayatkan, ia mengatakan, “Seseorang datang ke-pada Rasulullah SAW seraya mengatakan, ‘Tunjukkan kepadaku ten-tang suatu amalan yang menyamai jihad?’ Beliau menjawab, ‘Aku tidak menjumpainya.’Kemudian beliau bertanya,

هَلْ تَسْتَطِيْعُ إِذَا خَرَجَ اْلمُجَاهِدُ أَنْ تَدْخُلَ مَسْجِدَكَ فَتَقُوْمَ وَلاَ تَفْتُرُ وَتَصُوْمُ وَلاَ تُفْطِرُ؟

‘Apakah kamu mampu, ketika mujahid keluar, kamu masuk masjidmu lalu kamu mengerjakan shalat tanpa henti dan berpuasa tanpa ber-buka?!’ Ia menjawab, ‘Siapa yang mampu melakukan demikian.’”**

Sabdanya, “Maukah aku beritahukan kepadamu tentang inti semua itu?’ Aku menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah.’ Lantas beliau memegang lisannya, seraya bersabda, ‘Tahanlah ini padamu…’ hingga akhirnya. Beliau mengkhususkan pertama-tama berjihad melawan kekafiran (jihadul kufr), kemudian beliau mengalihkannya kepada jihad yang lebih besar, yaitu jihadun nafs dan mengekangnya dari berbicara me-ngenai suatu yang menyakitinya dan membahayakannya. Beliau menilai kebanyakan manusia masuk neraka disebabkan oleh lisan mereka, di mana beliau bersabda,

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فيِ النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ، -أَوْ قَالَ: عَلَى مَنَاخِرِهِمْ- إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟

“Semoga ibumu kehilangan kamu! Tidak ada yang menjatuhkan wa-jah manusia -atau beliau bersabda, ‘Leher manusia,’- ke dalam neraka, kecuali akibat ucapan lisan mereka yang buruk.”

Telah disinggung sebelumnya dalam hadits muttafaq ‘alaih,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka ber-kata-katalah yang baik atau diamlah.”

Dalam hadits yang lain,

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ.

“Siapa yang memberi jaminan kepadaku apa yang berada di antara kedua tulang dagunya (lidahnya) dan apa yang berada di antara kedua kakinya (kemaluannya), maka aku menjamin surga baginya.” (HR. al-Bukhari, no. 6474, 6807)

Syaikh as-Sa’di berkata:

Banyak hadits disinyalir mengenai prinsip besar yang ditunjuk-kan oleh hadits ini. Semua pengertiannya sama atau mirip, bahwa siapa yang menunaikan apa yang difardhukan Allah atasnya menu-rut fardhu-fardhu yang umum dan fardhu-fardhu yang dikhususkan dengan sebab-sebab yang barangsiapa diwajibkan di dalamnya, maka menjadi wajib atasnya. Siapa yang menunaikan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan, maka ia berhak masuk surga dan selamat dari neraka. Siapa yang bersifatkan dengan ini, maka ia berhak dengan sebutan Islam dan Iman, serta menjadi golongan orang-orang yang bertakwa lagi beruntung, dan termasuk orang yang menempuh jalan yang lurus.

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata:

Dari Mu’adz bin Jabal RA, ia mengatakan, “Aku bertanya, wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku tentang suatu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka.” Surga adalah negeri yang dijanjikan Allah SWT untuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa, yang di dalamnya terdapat apa yang tidak per-nah dilihat mata, didengar telinga, dan terlintas di hati manusia. Sedangkan neraka adalah negeri yang dijanjikan Allah buat orang-orang kafir, yang di dalamnya berisikan adzab yang pedih sebagai-mana yang diketahui dalam al-Qur’an dan Sunnah. Ia bertanya tentang hal ini, karena ini suatu yang paling penting baginya. Dan semestinya bagi setiap muslim, ini menjadi suatu yang paling pen-ting baginya, yaitu masuk surga dan jauh dari neraka.

Inilah puncak keberuntungan, berdasarkan firmanNya, “Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)

Nabi SAW bersabda, “Sungguh kamu bertanya tentang suatu yang besar.” Suatu yang besar, yaitu sukses dengan masuk surga dan jauh dari neraka. Tetapi beliau mengatakan, “Dan sesungguhnya itu sangat mudah bagi siapa yang dimudahkan oleh Allah.” Bisa jadi, sabdanya “ten-tang suatu yang besar” bermakna tentang amal yang dapat memasuk-kan surga dan menjauhkan dari neraka. “Dan sesungguhnya amalan tersebut sangatlah mudah bagi siapa yang dimudahkan oleh Allah.” Kemu-dian beliau memerincinya untuknya dengan sabdanya, “Kamu ber-ibadah kepada Allah dan tidak menyukutukanNya dengan sesuatu pun.”Beribadah kepada Allah SWT ialah menaatiNya dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya dengan ikhlas karenaNya. “Kamu tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun.” Yakni, baik malai-kat yang paling dekat (kepada Allah) maupun nabi yang diutus; karena syarat beribadah ialah ikhlas karenaNya.

Perkara kedua, di antara perbuatan yang dapat memasukkan surga dan menjauhkan dari neraka ialah mendirikan shalat, di mana beliau bersabda, “Dan mendirikan shalat.” Makna mendirikan shalat ialah kamu mengerjakannya dengan lurus lagi sempurna rukun, kewajiban, dan syaratnya, serta menyempurnakannya dengan hal-hal yang dapat menyempurnakannya.

Perkara ketiga, “Menunaikan zakat.” Yaitu harta yang diwajibkan Allah SWT untuk dikeluarkan manusia dari harta-harta tertentu de-ngan syarat-syarat tertentu yang sudah dikenal kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Ini sudah dikenal dalam kitab-kitab para ulama.

“Berpuasa Ramadhan.” Yakni, bulan Ramadhan, dan ini juga sudah dimaklumi.
Puasa ialah beribadah kepada Allah SWT dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga ter-benam matahari.

“Dan berhaji ke Baitullah.” Yaitu, menuju al-Baitul Haram, Ka’bah, untuk menunaikan manasik haji. Inilah kelima rukun Islam itu, “Kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan ber-haji ke Baitullah.”

Persaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah masuk dalam persaksian bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, jika ia tidak disebutkan bersamanya. Karena persaksian bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, artinya tiada sem-bahan yang hak kecuali Allah. Dan termasuk beribadah kepada Allah ialah membenarkan RasulNya dan mengikutinya.

Kemudian Nabi SAW bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepadamu tentang pintu-pintu kebajikan?” Yakni, tentang perkara yang mengan-tarkan kamu menuju pintu-pintu kebajikan. Seolah-olah ia menjawab, “Ya.” Lalu Nabi SAW bersabda, “Puasa adalah perisai.” Artinya, ia sebagai pelindung yang melindungi dari kemaksiatan pada saat berpuasa dan melindunginya dari api neraka pada hari Kiamat. Kemudian beliau bersabda, “Sedekah menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api.” Sedekah adalah mendermakan harta untuk orang fakir dan orang yang membutuhkan dengan niat beribadah kepada Allah SWT, yang di-ungkapkan dengan beramal dan berbuat baik kepada orang fakir. Sedekah ini akan menghapuskan kesalahan, yakni kesalahan yang dilakukan manusia berupa meninggalkan kewajiban atau mengerjakan perkara yang diharamkan, sebagaimana air memadamkan api. Kita semua tahu bahwa air mampu memadamkan api sehingga tidak tersi-sa sedikit api pun. Demikian pula sedekah tidak meninggalkan suatu dosa pun.

“Shalat yang dilakukan seseorang di tengah malam.” Artinya, ia akan menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api. Jauf al-Lail ialah tengah malam, dan shalat malam yang paling utama ialah paruh yang kedua, atau sepertiga malam sesudah separuh ma-lam yang pertama. Adalah Nabi Daud j tidur separuh malam dan bangun sepertiganya, lalu tidur seperenamnya. Kemudian Rasulullah SAW membaca, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkah-kan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata seba-gai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (As-Sajadah: 16-17)

Beliau membacanya sebagai dalil. Ayat ini, sebagaimana zha-hirnya, bahwa lambung mereka jauh dari tempat tidurnya. Yakni, untuk shalat di malam hari, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Allah berikan kepada mereka. Kedua perkara inilah, ya-itu sedekah dan shalat malam, yang disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits ini.

Kemudian beliau bersabda, “Maukah aku beritahukan kepadamu tentang pokok urusan, tiangnya, dan puncaknya?’ Aku menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Pokok segala urusan ialah Islam.”Urusan yang dimaksud ialah urusan yang terbesar. Pokok segala urusan ialah Islam; karena Islam tinggi dan tidak ada yang meng-unggulinya. Dengan Islam manusia terbebas dari kejahatan para hamba Allah dari kalangan kaum kafir, musyrik dan munafik.

Tiangnya, yakni tiang Islam, adalah shalat; karena tiang sesu-atu ialah apa yang di atasnya sesuatu dibangun dan sesuatu menjadi lurus, serta tidak bisa lurus kecuali dengannya. Shalat hanyalah men-jadi tiang Islam; karena dengan meninggalkannya seseorang keluar dari Islam kepada kekafiran. Kita berlindung kepada Allah.
Dan puncaknya ialah jihad fi sabilillah. Sinam ialah punuk un-ta, dan dzirwatuhu ialah yang paling atasnya. Puncak Islam adalah jihad fi sabilillah, tidak lain karena dengannyalah kaum muslimin mengungguli musuh-musuh mereka.

Kemudian beliau bertanya, “Maukah aku beritahukan kepadamu tentang inti semua itu?” Yakni perkara yang menjadi semua urusan ini.

“Aku menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah.’ Lantas beliau memegang lisannya, seraya bersabda, ‘Tahanlah ini padamu’.” Yakni, jangan me-ngumbarnya dengan kata-kata karena berbahaya.

“Aku bertanya, ‘Wahai Nabi SAWllah, (apakah) kami akan dihukum ka-rena apa yang kami ucapkan?” Ini kalimat tanya (jumlah istifhamiyyah) . Artinya, apakah kami akan dihukum karena apa yang kami ucap-kan?

Nabi SAW menjawab, “”Semoga ibumu kehilangan kamu!” “Yakni, ia kehilanganmu sehingga bersedih hati karena kehilanganmu. Kalimat ini bukan maknanya yang dituju, tetapi yang dituju ialah perintah supaya memahami apa yang diucapkan. Beliau bersabda, “”Semoga ibumu kehilangan kamu! Tidak ada yang menjatuhkan wajah manusia ke dalam neraka, kecuali akibat ucapan lisan mereka yang buruk—atau beliau bersabda: Tidak ada yang menjatuhkan leher manusia ke dalam neraka, ke-cuali akibat ucapan lisan mereka yang buruk.” “Yakni, melainkan berasal dari ucapan yang dihasilkan oleh lisan mereka. Artinya, jika manu-sia mengumbar lisannya, maka itu menjadi sebab wajahnya dijatuh-kan di dalam neraka. Kita berlindung kepada Allah.

Dalam hadits ini terdapat banyak faedah, di antaranya

1. Para sahabat sangat berkeinginan melakukan amalan-amalan yang akan memasukkan mereka ke dalam surga dan menjauh-kan mereka dari neraka. Ini adalah perkara yang terpenting bagi mereka. Karena itu, Mu’adz bin Jabal y bertanya kepada Nabi SAW tentang amalan yang akan memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka.

2. Menetapkan surga dan neraka. Keduanya sekarang sudah ada, dan keduanya tidak akan fana selama-lamanya.

3. Penjelasan bahwa pertanyaan Mu’adz bin Jabal y adalah per-tanyaan yang besar; karena imbalannya besar. Dan imbalan itu menurut kadar perbuatan yang diberi imbalan. Karena itu, Ra-sulullah a bersabda,“”Sungguh kamu bertanya tentang suatu yang besar.” “Yakni, kamu bertanya tentang amalan yang besar, berda-sarkan akibat yang diperolehnya berupa pahala.

Kemudian Nabi SAW menjelaskan bahwa perkara yang besar ini sangat mudah bagi siapa yang dimudahkan oleh Allah. Dapat dipetik faedah dari sini bahwa manusia semestinya kembali ke-pada Allah dengan memohon agar dimudahkan segala urusan. Ia juga semestinya tahu bahwa salah satu sebab kemudahan yang diberikan Allah ialah bertakwa kepadaNya, berdasarkan firmanNya, “”Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menja-dikan baginya kemudahan dalam urusannya.” ” (Ath-Thalaq: 4).

4. Prioritas pertama dan yang terbesar ialah mentauhidkan Allah SWT dan ikhlas karenaNya berdasarkan dalil “‘Sembahlah Allah dan jangan menyekutukannya’.

5. Pentingnya arti shalat karena Rasulullah SAW menyebutkannya se-telah ikhlas jika seseorang bertanya, di manakah syahadat kedua? Persaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kami jawab, persaksian ini sudah dimaklumi dari sabdanya, “”Kamu beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun.” “Penjelasan mengenai hal itu telah disebutkan sebelumnya.

6. Zakat didahulukan atas puasa, karena ia lebih ditekankan.
7. Puasa didahulukan atas haji, karena ia berulang setiap tahun. Berbeda dengan haji, karena ia tidak wajib kecuali sekali dalam seumur hidup.

8. Dalam kalimat ini mengisyaratkan tentang kelima rukun Islam, “Kamu beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.”
9. Mengemukakan pertanyaan kepada murid dengan cara yang membuat murid ingin tahu, berdasarkan sabdanya, “Maukah aku tunjukkan kepadamu tentang pintu-pintu kebajikan?”

10. Kebajikan itu memiliki banyak pintu, dan pintu-pintu tersebut sebagai gerbangnya. Ini mirip dengan sabda Rasulullah SAW,

الإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً.

“Iman itu 70 cabang lebih.” (HR. Muslim, no. 35)

11. Puasa itu perisai. Artinya, menghalangi orang yang berpuasa ter-jerumus dalam kesia-siaan, kekejian, ucapan dan perbuatan dusta, serta kebodohan. Ini juga perisai bagi orang yang berpuasa dari neraka, yang melindunginya dari neraka, berdasarkan firmanNya,

الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ.

“Puasa itu untukKu, dan Aku akan membalasnya.” (Muttafaq alaih: al-Bukhari, no. 7492; dan Muslim, no. 1151)

12. Keutamaan bersedekah, berdasarkan sabdanya, “Sedekah meng-hapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api.”

13. Shalat seseorang di tengah malam dapat menghapuskan kesa-lahan, berdasarkan sabda Nabi SAW,

الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ اْلخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ اْلمَاءُ النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فيِ جَوْفِ اللَّيْلِ.

“”Sedekah menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan (juga) shalat yang dilakukan seseorang di tengah malam.”

14. Nabi SAW berdalilkan dengan al-Qur’an, karena beliau membaca firmanNya, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (ber-macam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” “(As-Sajadah: 16-17)

15. Nabi SAW mengemukakan berbagai permasalahan dalam bentuk pertanyaan untuk mengingatkan orang yang diajak berbicara, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ini.

16. Urusan, yakni urusan manusia, memiliki pokok (pondasi), tiang, dan puncaknya. Pokok urusan ialah Islam, tiangnya ialah sha-lat; yakni tiang Islam ialah shalat, dan puncaknya ialah jihad fi sabilillah.

17. Orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, sebagaimana sabdanya, “Dan tiangnya ialah shalat?”Seperti diketahui, jika tiang itu roboh maka bangunannya pun juga roboh. Pendapat inilah yang kuat dari berbagai pendapat ulama, berdasarkan dalil-dalil Kitab Allah dan Sunnah RasulNya serta pendapat para sahabat. Kami telah menjelaskan hal itu dalam risalah kami*** me-ngenai hal ini.

18. Dalam jihad terletak ketinggian dan kemuliaan Islam berdasarkan sabdanya, “Dan puncaknya ialah jihad fi sabilillah”.

19. Inti dari semua ini ialah memelihara lisan, berdasarkan sabdanya, “Maukah aku beritahukan kepadamu tentang inti semua itu? Aku men-jawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah. Lantas beliau memegang lisannya, seraya bersabda, ‘Tahanlah ini padamu’.”

20. Boleh mengajarkan dengan isyarat, karena beliau memegang lisannya sendiri seraya bersabda,“Tahanlah ini padamu.”

21. Bahayanya lisan atas manusia, berdasarkan sabdanya, “Tidak ada yang menjatuhkan wajah manusia—atau leher mereka—ke dalam ne-raka, melainkan karena hasil lisan mereka.”

22. Teliti terhadap apa yang dinukil dalam hadits dari ucapan-ucapan Rasulullah SAW, di mana perawi mengungkapkan sabda Nabi de-ngan, “Wajah mereka—atau leher mereka.” Ini menunjukkan amanat yang sempurna dalam menukil hadits, dan segala puji bagi Allah.

NB:

* Hadits hasan shahih, riwayat at-Tirmidzi, no. 2616; Ibnu Majah, no. 3973; Ahmad, 5/ 231, 234, 237; dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 5136
** HR. an-Nasa’i, 6/ 19 dan dalam al-Kubra, 3/ 13; Ahmad, 2/ 344; dan al-Baihaqi dalam al-Kubra, 9/ 157
*** Yaitu risalah, Hukm Tarik ash-Shalah


© 2017 - Www.SalamDakwah.Com