SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Benarkah Waktu Shalat Shubuh Di Indonesia Lebih Cepat 20-25 Menit Dari Waktu Yang Sebenarnya ?


Bagas Udi Sahsangka
Bagas Udi Sahsangka
4 years ago

Berdasarkan info itu, ada kaum muslimin yang mensiasatinya dengan tetap bergabung bersama jamaah masjid yang sedang shalat shubuh hingga selesai bersama imam, namun ia niatkan dalam hati bahwa ia sedang shalat qabliyah shubuh. Kemudian setelah lewat 20-25 menit dari waktu adzan shubuh, barulah ia melakukan shalat shubuh sendirian.

Ini terjadi karena mereka menganggap bahwa waktu shubuh belum masuk, karena langit masih gelap dan belum terlihat cahaya yang terang benderang. Perbuatan ini tidak benar dan harus diluruskan.

Fajar itu ada dua jenis yaitu :

(1). Fajar Kadzib :

persegi panjang berwarna putih yang terlihat di sisi langit, ia lalu hilang kemudian berganti dengan kegelapan.

(2). Fajar Shadiq :

warna putih yang bergaris dan terlihat di ufuk, cahayanya bertambah terang hingga matahari terbit.

Dan awal waktu shalat Fajar (shubuh) adalah mulai dari terbitnya fajar shadiq.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ

"Waktu shalat shubuh adalah mulai terbit fajar (shadiq)" (HR. Muslim no. 612, hadits dari Abdullah bin Amr).

Dalil yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat shubuh di akhir malam saat gelap masih menyelimuti, diantaranya adalah :

(1). Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata :

كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ ، ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلاَةَ ، لاَ يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْغَلَسِ

"Dahulu para wanita mukminah menghadiri shalat shubuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka melilit badan mereka dengan pakaian masing-masing. Kemudian mereka kembali ke rumah masing-masing ketika shalat telah selesai, tanpa seorang pun yang mengenali mereka karena keadaan masih gelap" (HR. Bukhari no. 578 dan Muslim no. 645)

(2). Dari Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu 'anhu, ia berkata :

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat shubuh, kemudian beliau tidak berpaling dari tempatnya dan tidak seorang pun di antara kami yang mengetahui tempat duduk beliau (saking gelapnya) dan saat itu beliau membaca 60 ayat hingga 100 ayat" (HR. Bukhari no. 541 dan Muslim no. 1097)

(3). Dari Abu Mas’ud al-Anshaari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :

وَصَلَّى الصُّبْحَ مَرَّةً بِغَلَسٍ ثُمَّ صَلَّى مَرَّةً أُخْرَى فَأَسْفَرَ بِهَا ثُمَّ كَانَتْ صَلَاتُهُ بَعْدَ ذَلِكَ التَّغْلِيسَ حَتَّى مَاتَ وَلَمْ يَعُدْ إِلَى أَنْ يُسْفِرَ

"Dan beliau (Rasulullah) shalat shubuh di saat gelap pada akhir malam. Kemudian beliau shalat pada kesempatan lain ketika cahaya mulai terang. Lalu setelah itu shalat beliau dilakukan saat gelap dan itu dilakukannya "Sampai Wafat". Beliau tidak lagi melakukannya di waktu hari telah terang" (lihat Shahih Sunan Abi Dawud no. 394)

Imam al-Albani rahimahullah berkata :

"Hadits inilah (no.3 diatas) yang diamalkan oleh jumhur (mayoritas) ulama dari Sahabat dan Tabi'in serta para imam mujtahid" (lihat Silsilah adh-Dha'iifah II/372).

Lalu kenapa ada pihak yang menyalah-nyalahkan shalat shubuh ketika masih gelap ?

Bukankah itu yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga wafatnya ?

"Mensegerakan dalam melaksanakan shalat shubuh adalah kebiasaan Khulafaa'ur Raasyidin" (Al-Ausath II/374 oleh Imam Ibnu Mundzir).

Ini merupakan pendapat mayoritas sahabat dan ulama setelahnya, seperti Umar, Utsman, Anas, Abu Hurairah, Ibnu Zubair, Abu Musa, Ibnu Mas’ud, Abu Mas’ud al-Anshari, penduduk Hijaz, dan dikalangan imam kaum muslimin seperti Malik, asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, al-Auza’I, Dawud, Abu Ja’far ath-Thabari dll.

Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr hafizhahullah berkata :

وإنما فعله في بعض الأحيان لبيان الجواز ولبيان أن ذلك سائغ، ولكن الذي داوم عليه والمعروف من فعله صلى الله عليه وسلم أنه كان يصليها بغلس.

"Sesungguhnya perbuatan Nabi pada sebagian waktu (melakukan saat terang) sebagai penjelas kebolehannya dan menjelaskan bahwa hal itu mudah, tetapi yang menjadi rutinitasnya dan diketahui sebagai perbuatannya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bahwa beliau shalat shubuh pada saat masih gelap" (Syarah Sunan Abi Dawud no. 60)

🔊 *Ust Najmi Umar Bakkar*

Silakan Login untuk menulis komentar.
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com