SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Hukum Wanita Minum Obat Pencegah Haid Ketika Puasa Ramadhan, Manasik Haji dan Umroh (Oleh Ustadz Muhammad Wasitho, MA)


Ummu Adam Zakariya
Ummu Adam Zakariya
5 years ago

(*) HUKUM WANITA MUSLIMAH MINUM OBAT PENCEGAH HAIDH KETIKA PUASA ROMADON, MANASIK HAJI DAN UMROH (*)


«Masalah nomor 353»


» Tanya:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dari member Grup Majlis Hadits Akhwat 7: 

Apakah boleh makan obat penunda haid, supaya bisa ibadah puasa penuh di bulan Ramadhan, dan agar bisa menunaikan manasik haji dan umroh dengan sempurna dan pada waktunya ? Mohon dalilnya.

جَزَاكِ اللّهُ خَيْرًا


»» Jawab:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillah. Mayoritas ulama berpendapat bahwa hal tersebut hukumnya BOLEH, namun dengan beberapa syarat, diantaranya:


1. Obat penunda haidh tersebut terbuat dari bahan-bahan yang halal. Adapun jika obat tersebut terbuat dari bahan-bahan yang haram seperti minyak atau daging babi atau selainnya, maka hukumnya HARAM.


2. Obat penunda haidh tersebut tidak menimbulkan mudhorot (bahaya) bagi wanita yang meminumnya, seperti terjadinya gangguan kesuburan pada rahim, atau melemahnya kekebalan tubuh, dan lain sebagainya.


3. Adanya izin dan ridho dari suami jika ia telah berkeluarga.


» Dalil yang melandasi bolehnya hal tersebut, ialah sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dari Abdullah bin Umar bin Khoththob radhiyallahu 'anhuma, bahwa ia pernah ditanya tentang hukum seorang wanita yang membeli (dan minum) obat pencegah haidh.” Maka beliau berpendapat bahwa hal tersebut tidak apa-apa (yakni BOLEH).


Hanya saja dalam masalah ini syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rahimahullah berpendapat bahwa yang lebih utama bagi wanita muslimah adalah tidak meminum obat pencegah haidh baik ketika ia puasa Romadhon, ataupun menunaikan manasik haji dan umroh, agar ia berjalan sesuai dengan ketentuan (takdir) Allah Ta’ala pada para wanita.


Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Semoga mudah dipahami dan menjadi ilmu yang bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq.


(Klaten, 4 Romadhon 1437 H)


»Dijawab oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz


________________

Dipost Ustadz Muhammad Wasitho, MA -hafizhahullah- Arbi'a 3 Ramadhan 1437 / 8 Juni 2016

Silakan Login untuk menulis komentar.
© 2022 - Www.SalamDakwah.Com