SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

HUKUM BEPERGIAN KE NEGERI KAFIR by Ustadz Kholid Syamhudi


JengNiken
JengNiken
9 years ago

Bepergian dan wisata ke negeri kafir merupakan satu hal yang biasa pada masa sekarang ini, bahkan sebagian kaum muslimin bangga dan menjadikannya sebagai simbol prestise bagi kehidupannya. Ini musibah besar yang menimpa kaum muslimin, yaitu adanya sebagian mereka yang mengagungkan negara kafir dari negerinya sendiri. Padahal hal itu menyelisihi aqidah wala’ dan bara’ yang telah menjadi konsekuensi keimanan seorang muslim.
Oleh karena itulah agama Islam memperingatkan bahaya ini dan menetapkan hukum bepergian tersebut dengan tegas.

Dalam tulisan ini kami kemukakan fatwa para ulama tentang hukum bepergian kenegeri Kafir. Diantaranya:

#1. Fatawa Lajnah daimah Lil Buhuts Al Ilmiyah Wal Ifta’ No. 4873.
Soal: Saya bepergian setiap tahun keluar negeri (Yunani-Namsa) bersama istri dan anak saya. Kami menghabiskan waktu dua pekan di laut dan kepulaaun Yunani yang indah serta taman-tamannya dalam rangka rekreasi. Apakah itu diperbolehkan? Perlu diketahui saya dan istri saya selalu menjaga sholat dan istri saya tidak membuka tubuhnya. Demikian juga kani tidak memakan kecuali buah-buahan, kami tidak bercampur dengan orang asing dan tidak pula melihat aurat mereka . kami mohon jawabannya!

Jawabannya:

Tidak boleh bepergian kenegeri ahli syirik kecuali karena hal-hal yang diperbolehkan syari’at dan rekreasi bukan termasuk yang membolehkan berpergian kesana, karena sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
أَنَا بَرِيْءٌ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ يُقِيْمُ بَيْنَ أَظْهُرِ الْمُشْرِكِيْنَ
Artinya: “Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal diantara orang-orang musyrik.” [Hadits riwayat Abu daud]

Oleh karena itu kami nasehatkan anda jangan bepergian kenegara tersebut atau yang sejenisnya dengan tujuan tersebut, karena terdapat padanya masuk kedalam fitnah dan tinggal ditengah-tengah kaum muslrikin. Telah shahih riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
Artinya: “Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal diantara orang-orang musyrik”.
Terdapat hadist lain yang semakna dengannya.
Wabilahi Taufiiq.

Yang menandatangani:
Syaikh Abdulaziz bin Abdillah bin Baaz : Ketua
Syaikh Abdurrazaaq Afifi : Wakil Ketua
Syaikh Abdullah bin Ghadhayan : Anggota
Syaikh Abdullah bin Qu’ud : Anggota
* Fatawa lajnah daimah lil buhuts ilmiyah wal ifta 2/107-108

#2. Pernyataan Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadhush Shalihin
“Tidak diperbolehkan seseorang bepergian ke negeri kufur kecuali dengan tiga syarat, yaitu:

1. Memiliki ilmu yang dapat menolak syubhat-syubhat mereka, karena orang-orang kafir selalu melontarkan kepada kaum muslimin syubhat-syubhat seputar agama, Rasul dan akhlak mereka dalam setiap kesempatan agar seseorang itu tetap ragu dan bimbang (tentang Islam). Dan telah dimaklumi bersama bahwa seseorang yang ragu dalam perkara yang diwajibkan yakin padanya, maka dia belum menunaikan kewajiban, padahal iman kepada Allah ta’ala, malaikat, kitab-kitab suci, para Rasul, hari kiamat dan takdir yang baik dan buruk adalah perkara yang diwajibkan padanya keyakinan, maka jika seseorang ragu dalam satu dari hal-hal tersebut, maka dia menjadi kafir. Oleh karena itulah kaum kufar berusaha memasukkan keraguan kedalam diri kaum muslimin. Sehingga sebagian tokoh pemimpin mereka berkata: “Janganlah kalian berusaha untuk mengeluarkan kaum muslimin dari agamanya ke agama Nashrani akan tetapi cukuplah kalian membuat mereka ragu terhadap agamanya karena jika kalian telah berhasil membuat mereka ragu terhadap agamanya berarti kalian berhasil mengeluarkan mereka dari agamanya dan itu cukup”. Kalian telah mengeluarkannya dari tembok yang terdapat padanya kejayaan, kemenangan dan kemuliaan… Dan itu cukup!, adapun jika kalian berusaha memasukkan mereka ke dalam agama Nashrani yang ditegakkan atas dasar kesesatan dan kebodohan, maka ini tidak mungkin, karena orang-orang Nashrani telah tersesat sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

2. Memiliki kekuatan agama yang dapat melindungi dirinya dari syahwat karena seseorang yang tidak memiliki kekuatan agama jika pergi kenegeri kufur akan tenggelam karena dia mendapatkan perhiasan dunia dari khomr (miras), zina, homo seksual dan lain-lainnya.

3. Memiliki kebutuhan untuk itu seperti dia sedang sakit yang dibutuhkan dalam pengobatannya bepergian ke negeri kufur atau membutuhkan ilmu khusus yang tidak terdapat di negeri Islam lalu berangkat kesana atau seseorang yang butuh berdagang berangkat, berdagang dan pulang.
Saya tandaskan sekali lagi bahwa hijrah dari negeri kufur yang tidak dapat ditegakkan padanya agama seseorang adalah satu kewajiban dan bepergian kenegeri kufur untuk berdakwah diperbolehkan jika hal itu memiliki efek dan pengaruh disana hal itu diperbolehkan kerena bepergian untuk kemaslahatan sedangkan benyak dari orang awam dinegeri kufur buta tentang Islam tidak mengetahui sedikitpun tentang Islam bahkan mereka tersesatkan dengan opini bahwa Islam adalah agama liar, teroris dan kacau balau,apalagi jika orang-orang barat mendengar kejadian yang terjadi atas orang-orang tersebut yang mengaku sebagai muslim, niscaya mereka berkata: mana Islam? Ini liar!!Lalu mereka lari dari Islam disebabkan kaum muslimin dan perbuatannya. Kita memohon kepada Allah untuk menunjuki kita semuanya”. (lihat Rubrik Hadits Niat, Hijroh dan hukum Bepergian ke Negeri Kafir dalam majalah Assunnah edisi ?/VI/ 2002 M.)

#3. Fatwa Syaikh Sholeh bin Abdillah Al Fauzaan hafizhahullah No. 154

Soal: Apa hukum bepergian kenegeri yang tidak islam dengan tujuan tinggal dan menetap disana?.

Jawabannya:
Pada asalnya bepergian kenegeri kafir tidak boleh bagi orang yang tidak dapat menampakkan syiar agamanya dan tidak boleh kecuali darurat seperti berobat dan yang sejenisnya disertai kemampuan menampakkan agamanya dan melaksanakan kewajiban Allah atasnya. Juga tidak melakukan basa-basi dalam agamanya serta tidak malas melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Adapun tinggal menetap disana maka ini lebih lagi. Tidak boleh seorang muslim tinggal menetap diantara kaum musyrikin, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seorang muslim tinggal diantara kaum musyrikin kecuali jika dalam menetap tersebut terdapat maslahat syar’i seperti berdakwah kejalan Allah dan menampakkan agamnyaserta menyebarkan islam, maka itu sesuatu yang baik, jika untuk tujuan tersebut, yaitu berdakwah kepada Allah, menyebarkan agamaNya dan menguatkan kaum muslimin yang berada disana. Sedangkan jika hanya sekedar tinggal menetap bersama mereka tanpa ada kemaslahatan syar’i maka tidak boleh tinggal menetap dinegeri kaum musyrikin.

Diantara tujuan yang memperbolehkan bepergian kenegeri kafir adalah belajar ilmu-ilmu yang dibutuhkan kaum muslimin seperti kedokteran dan industri yang tidak mungkin mempelajarinya dinegeri kaum muslimin.

Soal: Kalau begitu seandainya bepergian untuk berdagang saja, apakah hal itu dibolehkan?
Beliau menjawab:
Diperbolehkan bepergian kenegeri kafir dengan dua syarat:
1. Bepergian tersebut diperbolehkan oleh syariat.
2. Mampu menampakkan syiar agamanya dengan berdakwah, menunaikan kewajiban dan tidak meninggalkan satupun kewajiban yang Allah bebankan kepadanya serta tidak bercampur aduk dengan orang kafir pada tempat-tempat kefasikan dan kegilaan mereka. Juga jangan masuk ke tempat-tempat rusak yang terdapat dinegeri-negeri kafir.
Dibolehkan bepergian kenegeri kafir dengan dua syarat ini. Sedangkan jika tidka terpenuhi syarat-syarat ini maka tidak boleh. (Al Muntaqa Min Fatawa Syeikh Sholeh Al fauzaan 1/257-258)

#4. Fatwa Syaikh Sholeh bin Abdillah Al Fauzaan hafizhahullah No. 221.

Ditanya beliau tentang hokum bepergian kenegeri yang tidak beragama islam baik negeri beragama nashrani atau negara tak beragama? Apakah disana ada perbedaan antara bepergian untuk wisata dan bepergian untuk berobat dan belajar dan yang lainnya?
Beliau menjawab:
Bepergian kenegeri kafir tidak diperbolehkan karena terdapat bahaya atas aqidah, akhlak, bercampur baur dengan orang kafir dan menetap diantara mereka akan tetapi jika hajat darurat dan tujuan yang benar dalam bepergian menuntutnya seperti berobat dari penyakit yang tidak tersedia perawatannya kecuali dinegeri mereka atau belajar yang tidak dapat dilakukan di negeri muslimin atau berdagang, maka ini semua adalah tujuan safar yang benar yang diperbolehkan bepergian karenanya kenegeri kafir dengan syarat menjaga syiar-syiar islam dan kemampuan menegakkan agama dinegeri mereka. Ini semua sebatas kebutuhan saja kemudian setelah itu kembali kenegeri islam.

Adapun bepergian untuk wisata maka ini tidak boleh, karena seorang muslimin tidak membutuhkannya dan tidak pula kembali kemaslahatannya seimbang atau lebih kuat dari kemudhoratan dan bahaya terhadap agama dan aqidah yang ada padanya”. (Al Muntaqa Min Fatawa Syeikh Sholeh Al fauzaan 2/253-254).

KESIMPULAN:
Dari fatwa diatas dapat disimpulkan bahwa hukum bepergian kenegeri kafir tidak untuk menetap tinggal disana haram kecuali bagi orang yang memiliki syarat-syarat:

1. Dapat menampakkan syiar agamanya dan melaksanakan kewajiban Allah atasnya

2. Memiliki kekuatan agama yang dapat melindungi dirinya dari syahwat dan memiliki ilmu yang dapat menolak syubhat-syubhat mereka.

3. Memiliki kebutuhan dan darurat syar’i untuk kesana seperti berobat dan yang sejenisnya.

Sumber : http://ustadzkholid.com/aqidah/tinggal-di-negeri-kafir/

Silakan Login untuk menulis komentar.
© 2021 - Www.SalamDakwah.Com