SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Tata Cara Tayamum


Feby ummu maryam
Feby ummu maryam
7 years ago

Pertanyaan:
Ukhty cara tayammum yg benar itu kya gmna? U/ d pesawat?

Jawaban:
Tayammum secara bahasa diartikan sebagai Al Qosdu (ﺍﻟﻘَﺼْﺪُ) yang berarti maksud. Sedangkan secara istilah dalam syari’at adalah sebuah peribadatan kepada Allah berupa mengusap wajah dan kedua tangan dengan menggunakan sho’id yang bersih

[1]. Sho’id adalah seluruh permukaan bumi yang dapat
digunakan untuk bertayammum baik yang terdapat tanah
di atasnya ataupun tidak [2].

Dalil Disyari’atkannya Tayammum
Tayammum disyari’atkan dalam islam berdasarkan dalil Al
Qur’an, As Sunnah dan Ijma’ (konsensus) kaum muslimin
[3]. Adapun dalil dari Al Qur’an adalah firman Allah
‘Azza wa Jalla,
ﻭَﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻣَﺮْﺿَﻰ ﺃَﻭْ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻔَﺮٍ ﺃَﻭْ ﺟَﺎﺀَ ﺃَﺣَﺪٌ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﺎﺋِﻂِ ﺃَﻭْ ﻟَﺎﻣَﺴْﺘُﻢُ
ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀَ ﻓَﻠَﻢْ ﺗَﺠِﺪُﻭﺍ ﻣَﺎﺀً ﻓَﺘَﻴَﻤَّﻤُﻮﺍ ﺻَﻌِﻴﺪًﺍ ﻃَﻴِّﺒًﺎ ﻓَﺎﻣْﺴَﺤُﻮﺍ ﺑِﻮُﺟُﻮﻫِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻳْﺪِﻳﻜُﻢْ
ﻣِﻨْﻪُ
“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali
dari tempat buang air atau berhubungan badan dengan
perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka
bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik
(bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah
itu”. (QS. Al Maidah [5] : 6).

Adapun dalil dari As Sunnah adalah sabda Rasulullah
shollallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat Hudzaifah
Ibnul Yaman rodhiyallahu ‘anhu,
« ﻭَﺟُﻌِﻠَﺖْ ﺗُﺮْﺑَﺘُﻬَﺎ ﻟَﻨَﺎ ﻃَﻬُﻮﺭًﺍ ﺇِﺫَﺍ ﻟَﻢْ ﻧَﺠِﺪِ ﺍﻟْﻤَﺎﺀَ »
“Dijadikan bagi kami (ummat Nabi Muhammad shollallahu
‘alaihi was sallam ) permukaan bumi sebagai thohur/
sesuatu yang digunakan untuk besuci [4] (tayammum)
jika kami tidak menjumpai air”.[5]

Media yang dapat Digunakan untuk Tayammum
Media yang dapat digunakan untuk bertayammum adalah
seluruh permukaan bumi yang bersih baik itu berupa pasir,
bebatuan, tanah yang berair, lembab ataupun kering. Hal
ini berdasarkan hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam
dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu ‘anhu di
atas dan secara khusus,
ﺟُﻌِﻠَﺖِ ﺍﻷَﺭْﺽُ ﻛُﻠُّﻬَﺎ ﻟِﻰ ﻭَﻷُﻣَّﺘِﻰ ﻣَﺴْﺠِﺪﺍً ﻭَﻃَﻬُﻮﺭﺍً
“Dijadikan (permukaan, pent.) bumi seluruhnya bagiku
(Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam) dan ummatku sebagai
tempat untuk sujud dan sesuatu yang digunakan untuk
bersuci”. [6]

Jika ada orang yang mengatakan bukankah dalam sebuah
hadits Hudzaifah ibnul Yaman [7] Nabi mengatakan
tanah?! Maka kita katakan sebagaimana yang dikatakan
oleh Ash Shon’ani rohimahullah, “Penyebutan
sebagian anggota lafadz umum bukanlah pengkhususan” [8]. Hal ini merupakan pendapat Al
Auzaa’i, Sufyan Ats Tsauri Imam Malik, Imam Abu
Hanifah [9] demikian juga hal ini merupakan pendapat Al
Amir Ashon’ani[10], Syaikh Al Albani[11], Syaikh
Abullah Alu Bassaam[12] -rohimahumullah-, Syaikh DR.
Sholeh bin Fauzan Al Fauzan[13] dan Syaikh DR. Abdul
Adzim bin Badawiy Al Kholafiy hafidzahumallah[14].

Keadaan yang Dapat Menyebabkan Seseorang
Bersuci dengan Tayammum
Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullah
menyebutkan beberapa keadaan yang dapat
menyebabkan seseorang bersuci dengan tayammum,
Jika tidak ada air baik dalam keadaan safar/dalam
perjalanan ataupun tidak [15].
-Terdapat air (dalam jumlah terbatas pent.)
bersamaan dengan adanya kebutuhan lain yang
memerlukan air tersebut semisal untuk minum dan
memasak.
-Adanya kekhawatiran jika bersuci dengan air
akan membahayakan badan atau semakin lama
sembuh dari sakit.
-Ketidakmapuan menggunakan air untuk
berwudhu dikarenakan sakit dan tidak mampu
bergerak untuk mengambil air wudhu dan tidak adanya orang yang mampu membantu untuk berwudhu bersamaan dengan kekhawatiran habisnya waktu sholat.
-Khawatir kedinginan jika bersuci dengan air
dan tidak adanya yang dapat menghangatkan air tersebut.

Tata Cara Tayammum Nabi shallallahu ‘alaihi
was sallam
Tata cara tayammum Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam
dijelaskan hadits ‘Ammar bin Yasir rodhiyallahu ‘anhu,
ﺑَﻌَﺜَﻨِﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻓِﻰ ﺣَﺎﺟَﺔٍ ﻓَﺄَﺟْﻨَﺒْﺖُ ، ﻓَﻠَﻢْ
ﺃَﺟِﺪِ ﺍﻟْﻤَﺎﺀَ ، ﻓَﺘَﻤَﺮَّﻏْﺖُ ﻓِﻰ ﺍﻟﺼَّﻌِﻴﺪِ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﻤَﺮَّﻍُ ﺍﻟﺪَّﺍﺑَّﺔُ ، ﻓَﺬَﻛَﺮْﺕُ ﺫَﻟِﻚَ ﻟِﻠﻨَّﺒِﻰِّ
– ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻓَﻘَﺎﻝَ » ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻜْﻔِﻴﻚَ ﺃَﻥْ ﺗَﺼْﻨَﻊَ ﻫَﻜَﺬَﺍ . «
ﻓَﻀَﺮَﺏَ ﺑِﻜَﻔِّﻪِ ﺿَﺮْﺑَﺔً ﻋَﻠَﻰ ﺍﻷَﺭْﺽِ ﺛُﻢَّ ﻧَﻔَﻀَﻬَﺎ ، ﺛُﻢَّ ﻣَﺴَﺢَ ﺑِﻬَﺎ ﻇَﻬْﺮَ ﻛَﻔِّﻪِ
ﺑِﺸِﻤَﺎﻟِﻪِ ، ﺃَﻭْ ﻇَﻬْﺮَ ﺷِﻤَﺎﻟِﻪِ ﺑِﻜَﻔِّﻪِ ، ﺛُﻢَّ ﻣَﺴَﺢَ ﺑِﻬِﻤَﺎ ﻭَﺟْﻬَﻪُ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam mengutusku untuk
suatu keperluan, kemudian aku mengalami junub dan aku
tidak menemukan air. Maka aku berguling-guling di tanah
sebagaimana layaknya hewan yang berguling-guling di
tanah. Kemudian aku ceritakan hal tersebut kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi was sallam. Lantas beliau mengatakan,
“Sesungguhnya cukuplah engkau melakukannya seperti
ini”. Seraya beliau memukulkan telapak tangannya ke
permukaan bumi sekali pukulan lalu meniupnya. Kemudian
beliau mengusap punggung telapak tangan (kanan)nya
dengan tangan kirinya dan mengusap punggung telapak
tangan (kiri)nya dengan tangan kanannya, lalu beliau
mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.[16]
Dan dalam salah satu lafadz riwayat Bukhori,
ﻭَﻣَﺴَﺢَ ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﻭَﻛَﻔَّﻴْﻪِ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓً
“Dan beliau mengusap wajahnya dan kedua telapak
tangannya dengan sekali usapan”.
Berdasarkan hadits di atas kita dapat simpulkan bahwa
tata cara tayammum beliau shallallahu ‘alaihi was sallam
adalah sebagai berikut.
1. Memukulkan kedua telapak tangan ke permukaan
bumi dengan sekali pukulan kemudian meniupnya.
2. Kemudian menyapu punggung telapak tangan kanan
dengan tangan kiri dan sebaliknya.
3. Kemudian menyapu wajah dengan dua telapak
tangan. Semua usapan baik ketika mengusap telapak
tangan dan wajah dilakukan sekali usapan saja.
Bagian tangan yang diusap adalah bagian telapak
tangan sampai pergelangan tangan saja atau dengan kata lain tidak sampai siku seperti pada saat wudhu [17].

Tayammum dapat menghilangkan hadats besar
semisal janabah, demikian juga untuk hadats kecil.
Tidak wajibnya urut/tertib dalam tayammum.

Pembatal Tayammum
Pembatal tayammum sebagaimana pembatal wudhu.
Demikian juga tayammum tidak dibolehkan lagi apa bila
telah ditemukan air bagi orang yang bertayammum karena
ketidakadaan air dan telah adanya kemampuan menggunakan air atau tidak sakit lagi bagi orang yang
bertayammum karena ketidakmampuan menggunakan air
[18]. Akan tetapi shalat atau ibadah lainnya[19] yang
telah ia kerjakan sebelumnya sah dan tidak perlu
mengulanginya. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu
‘alaihi was sallam dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri
radhiyallahu ‘anhu,
ﺧَﺮَﺝَ ﺭَﺟُﻠَﺎﻥِ ﻓِﻲ ﺳَﻔَﺮٍ ، ﻓَﺤَﻀَﺮَﺕْ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓُ – ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻣَﻌَﻬُﻤَﺎ ﻣَﺎﺀٌ – ﻓَﺘَﻴَﻤَّﻤَﺎ
ﺻَﻌِﻴﺪًﺍ ﻃَﻴِّﺒًﺎ ، ﻓَﺼَﻠَّﻴَﺎ ، ﺛُﻢَّ ﻭَﺟَﺪَﺍ ﺍﻟْﻤَﺎﺀَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻮَﻗْﺖِ ، ﻓَﺄَﻋَﺎﺩَ ﺃَﺣَﺪُﻫُﻤَﺎ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ
ﻭَﺍﻟْﻮُﺿُﻮﺀَ ، ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﻌِﺪْ ﺍﻟْﺂﺧَﺮُ ، ﺛُﻢَّ ﺃَﺗَﻴَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ
ﻓَﺬَﻛَﺮَﺍ ﺫَﻟِﻚَ ﻟَﻪُ ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟِﻠَّﺬِﻱ ﻟَﻢْ ﻳُﻌِﺪْ : ﺃَﺻَﺒْﺖ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔَ ﻭَﺃَﺟْﺰَﺃَﺗْﻚ ﺻَﻠَﺎﺗُﻚ ﻭَﻗَﺎﻝَ
ﻟِﻠْﺂﺧَﺮِ : ﻟَﻚ ﺍﻟْﺄَﺟْﺮُ ﻣَﺮَّﺗَﻴْﻦِ
Dua orang lelaki keluar untuk safar. Kemudian tibalah
waktu shalat dan tidak ada air di sekitar mereka.
Kemudian keduanya bertayammum dengan permukaan
bumi yang suci lalu keduanya shalat. Setelah itu keduanya
menemukan air sedangkan saat itu masih dalam waktu
yang dibolehkan shalat yang telah mereka kerjakan tadi.
Lalu salah seorang dari mereka berwudhu dan mengulangi
shalat sedangkan yang lainnya tidak mengulangi
shalatnya. Keduanya lalu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi
was sallam dan menceritakan yang mereka alami. Maka
beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan kepada
orang yang tidak mengulang shalatnya, “ Apa yang
kamu lakukan telah sesuai dengan sunnah dan
kamu telah mendapatkan pahala shalatmu ”.
Beliau mengatakan kepada yang mengulangi shalatnya,
“ Untukmu dua pahala[20]”[21].

Juga hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dari
sahabat Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu,
ﺍﻟﺼَّﻌِﻴﺪُ ﻭُﺿُﻮﺀُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢِ ، ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﺠِﺪْ ﺍﻟْﻤَﺎﺀَ ﻋَﺸْﺮَ ﺳِﻨِﻴﻦَ.ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻭَﺟَﺪَ ﺍﻟْﻤَﺎﺀَ
ﻓَﻠْﻴَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻟْﻴُﻤِﺴَّﻪُ ﺑَﺸَﺮَﺗَﻪُ
“Seluruh permukaan bumi (tayammum) merupakan
wudhu bagi seluruh muslim jika ia tidak menemukan air
selama sepuluh tahun (kiasan bukan pembatasan angka)
[22], apabila ia telah menemukannya hendaklah ia
bertaqwa kepada Allah dan menggunakannya sebagai
alat untuk besuci”. [23]





Sumber: http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/panduan-tata-cara-tayammum.html

Silakan Login untuk menulis komentar.
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com