SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Fiqh Thaharah: Darah Wanita


Ummu Adam Zakariya
Ummu Adam Zakariya
3 years ago

Dauroh Itikaf 10 Hari Terakhir Ramadhan 1436 H
(Oleh Ustadzah Ummu Faynan Arfah, Lc -hafizhahallah- : Mahasiswi S2 Universitas Ummul Quro, Makkah)
@Masjid An Nur Ma'had Al Myskat Lil Yaatimaat Kampung Garogol, Garut Jawa Barat

Assalamu'alaikum wa rohmatullaah wa barokatuh yaa Ikhwaah Fiillaah

REPOST..Save at MemoPad or ColorNote ya..
Semoga bermanfaat untuk menghadapi hari-harimu..

📚SUB BAB Materi FIQH THAHARAH 
Ustadzah Arfah Ummu Faynan, Lc -hafizhahallah- (Mahasiswi S2 Universitas Ummul Qurro, Makkah
📅Jum'at 23 Ramadhan 1436 H di Masjid An Nur Mahad Al Myskat Lil Yaatimaat kp.Garogol Garut Jawa Barat

Bismillaah..
Jenis-Jenis Cairan Kewanitaan, Hukum dan Cara Mensucikannya

1. CAIRAN dari SALURAN AIR SENI (selain Air Seni)
Wadi : Yaitu Cairan berupa tetesan yang keluar setelah buang air seni, putih, licin, kental dan keruh.
Hukum Wadhi : Najis, Pakaian yang terkena wadi harus dicuci serta membatalkan wudhu.

2. CAIRAN dari SALURAN JALAN LAHIR
Shufrah (صفرة) & Kudrah (كدرة)
Shufrah ialah Cairan kuning warnanya seperti nanah yang keluar dari jalan lahir.
Kudrah ialah Cairan keruh kadang bercampur kemerahan atau kecoklatan (disebut flek).
Hukum Shufrah & Kudrah keluar ketika masa Haidh maka hukumnya masih dihukumi darah Haidh (Najis) sebelum haidh itu berhenti.
Contoh ilustrasi : Seorang wanita biasa haidh 5 hari. Pada hari 1 dan 2 keluar haidh lalu hari ke 3 keluar Shufrah atau Kudrah. Hari ke 4 dan 5 keluar lagi haidh. Maka hukum cairan yang keluar pada hari ke 3 dihukumi darah haidh karena keluar pada masa haidh.

Contoh ilustrasi lain untuk memahamkan; Seorang wanita biasa Haidh 5 hari. Tanggal 1-5 keluar haidh kemudian suci, lalu pada hari ke 15 keluar shurfah atau kudrah, maka cairan yang keluar pada hari ke 15 tersebut dihukumi Suci karena keluar pada masa Suci (diluar masa haidh).

Untuk mengetahui berhentinya Haidh bisa diketahui dengan 2 tanda, yaitu :

1⃣. Keringnya/berhentinya darah haidh dengan menempelkan secarik kapas pada kemaluan.

2⃣. Keluarnya cairan putih di ujung masa Haidh (sebagaimana Hadits 'Aisyah Rodhiallaahu 'anhaa..ketika wanita Anshar (tidak malu untuk bertanya dengan) membawakan secarik kapas yang berisi Qudrah) maka disebutkan, "Tidak, Kalian belum suci sampai melihat adanya cairan putih di akhir masa Haidh".

Hukum Shufrah & Kudrah di Masa Suci hukumnya Suci seperti kentut tetapi membatalkan Wudhu (kecuali pada kasus seseorang yang punya penyakit keluar cairan tersebut terus menerus, maka tidak membatalkan wudhu).

Madzi : Cairan yang licin, ringan, bening, mengalir dan tidak memancar keluar ketika tergeraknya syahwat.
Hukum Madzi : Najis dan membatalkan (sebagaimana Hadits 'Ali Rodhiallaahu 'anhu yang sering keluar madzi lalu mengutus Miqdad Rodhiallaahu 'anhu karena malu, kemudian Rasulullaah Sholallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Cucilah kemaluanmu lalu berwudhulah".

Keputihan : Cairan kental normalnya berwarna bening atau putih, licin, elastis, mengalir dan tidak memancar.
Normal : Tidak berbau dan tidak berwarna hanya berupa kelembaban.
Penyakit : Berbau, berwarna kuning, hijau atau abu-abu.

Hukum Keputihan : Suci dan tidak membatalkan Wudhu (menurut pendapat yang paling rajih) dari 2 pendapat : 

1. Tidak membatalkan Wudhu karena Cairan alami seperti dahak, ingus meski menjijikan tapi tidak najis.

2. Membatalkan wudhu seperti kentut, suci tapi membatalkan wudhu...salah seorang 'ulama yang dulunya berpendapat membatalkan wudhu ialah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullaah, namun setelah membaca Kitab Karangan seorang Doktorah bernama Ruqayyah yang membahas "Kelembaban kemaluan wanita" bahwa keputihan tidak keluar dari saluran najis maka beliau rujuk sehingga akhirnya berpendapat bahwa keputihan tidak membatalkan wudhu.

Mani : Cairan berwarna kuning, ringan, keluar memancar dengan syahwat ketika puncaknya, berbau seperti bau tumbuhan atau putih telur. 

Hukum Mani :

1⃣Pendapat pertama : Suci. 
🚿 Cara Membersihkan Mani bagi yang berpendapat Suci :
ketika mani kering : dikerik (sebagaimana Hadits 'Aisyah Rodhiallaahu 'anhaa)
ketika mani basah : cukup dilap (sebagaimana hadits Ibnu Abbas Rodhiallaahu 'anhumaa)

2⃣Pendapat kedua : Najis 
🚿Cara membersihkannya menurut yang berpendapat Najis :
ketika mani kering : dikerik (sebagaimana Hadits 'Aisyah Rodhiallaahu 'anhaa)
ketika mani basah : dicuci pakaiannya sampai hilang maninya.

Dan pendapat yang Rajih ialah bahwa Mani itu Suci karena manusia itu berasal dari mani dan manusia itu tidaklah berasal dari sesuatu yang najis. Namun ada beberapa rincian : 

Jika keluar tanpa syahwat seperti karena suhu yang terlalu dingin atau kecelakaan lalu pecah alat penampung maninya maka ia tidak wajib mandi janabah hanya cukup berwudhu.
Jika mani keluar dengan syahwat maka membatalkan wudhu dan mewajibkan mandi bertemu 2 khitan, dan karena mimpi basah.

Haidh & Istihadhah 

Perbedaan antara Darah Haidh & Darah Istihadhah dari 5 Hal :
Tempat keluar, Sebab, Sifat, Waktu Keluar dan Masa Keluar

1. Tempat Keluarnya
Haidh : Tempat keluarnya dari Dinding Rahim.
Istihadhah : Tempat keluarnya dari Pembuluh Vena pada Leher Rahim.

2. Sebabnya
Haidh : Disebabkan karena adanya pemisahan membran/selaput internal rahim (Siklus Darah Normal & Alami).
Istihadhah : Disebabkan karena adanya penyakit pada rahim.

3. Sifatnya
Haidh : Bersifat Kental dgn warna merah kehitaman, bau busuk dan tidak menggumpal ketika keluar (kecuali kasus tertentu).
Istihadhah : Bersifat cair dengan warna merah terang, aroma darah biasa, namun menggumpal ketika keluar.

4. Waktu keluarnya
Haidh : Waktu keluarnya mulai dari usia pubertas yaitu 9 tahun sampai masa menopause (45-55 tahun menurut pendapat medis) dan (50-60 tahun menurut pendapat jumhur 'Ulama).
Istihadhah : Waktu keluarnya tidak ada batas waktu tertentu, bisa keluar sebelum masa pubertas, setelah menopause atau pada masa subur.

5. Masa Keluar
Haidh : Masa Minimal keluarnya darah Haidh ialah 24 jam (menurut pendapat medis & jumhur 'Ulama) dan masa maksimal haidh ialah 15 hari (Jumhur 'Ulama).
Istihadhah : Tidak ada batas minimal dan maksimal, bisa kurang dari 24 jam atau lebih dari 15 hari.

🔴🔵Perbedaan antara Darah Haidh & Darah Istihadhah dari 5 Hal : Tempat keluar, Sebab, Sifat, Waktu Keluar dan Masa Keluar

1. Tempat Keluarnya
🌹Haidh : Tempat keluarnya dari Dinding Rahim.
🌹Istihadhah : Tempat keluarnya dari Pembuluh Vena pada Leher Rahim.

2. Sebabnya
🌹Haidh : Disebabkan karena adanya pemisahan membran/selaput internal rahim (Siklus Darah Normal & Alami).
🌹Istihadhah : Disebabkan karena adanya penyakit pada rahim.

3. Sifatnya
🌹Haidh : Bersifat Kental dengan warna merah kehitaman, bau busuk dan tidak menggumpal ketika keluar (kecuali kasus tertentu).
🌹Istihadhah : Bersifat cair dengan warna merah terang, aroma darah biasa, namun menggumpal ketika keluar.

4. Waktu keluarnya
🌹Haidh : Waktu keluarnya mulai dari usia pubertas yaitu 9 tahun sampai masa menopause (45-55 tahun menurut pendapat medis) dan (50-60 tahun menurut pendapat jumhur 'Ulama).
🌹Istihadhah : Waktu keluarnya tidak ada batas waktu tertentu, bisa keluar sebelum masa pubertas, setelah menopause atau pada masa subur.

5. Masa Keluar
🌹Haidh : Masa Minimal keluarnya darah Haidh ialah 24 jam (menurut pendapat medis & jumhur 'Ulama) dan masa maksimal haidh ialah 15 hari (Jumhur 'Ulama).
🌹Istihadhah : Tidak ada batas minimal dan maksimal, bisa kurang dari 24 jam atau lebih dari 15 hari.

💧Nifas : Darah yang keluar dari seorang wanita yang telah melahirkan bayi yang sudah berbentuk manusia disertai rasa sakit dan darah yang keluar sebelum melahirkan jika disertai kontraksi. Masa minimal Nifas tidak ada batasannya, bisa jadi darah nifas berhenti sebelum 40 hari. Sedangkan maksimalnya juga tidak ada batasannya disesuaikan dengan 'urf pada keluarganya namun pada umumnya 40 hari, sehingga darah yang keluar lebih dari 40 hari termasuk darah istihadhah (penyakit).

🔨Hukum Darah Nifas : Najis dan membatalkan wudhu, diharamkan Sholat, Puasa, Thawaf dan berjima' dengan suami.

📝5 Perbedaan Mandi Haidh dan Mandi Junub : 

1. 🛁Pada Mandi Haidh (atau setelah Nifas) disunnahkan menggunakan campuran 🌿daun bidara🌿 pada air mandinya atau bila tidak ada bisa menggunakan sabun, shampoo, sedangkan pada 🚿mandi junub tidak.

2. 🛁Pada Mandi Haidh disunnahkan bersungguh-sungguh dalam 👋🏻menggosok-gosok badan dan harus membuka 🎀ikatan atau kepangan rambut, sedangkan pada 🚿Mandi Junub tidak disunnahkan.

3. 🛁Pada Mandi Haidh disunnahkan ♻mengulang-ulang mandi sedangkan pada 🚿Mandi Junub tidak.

4. 🛁Pada Mandi Haidh tidak ada perbedaan kapan waktu 💧berwudhu apakah sebelum atau sesudah mandi, sedangkan pada 🚿Mandi Junub mesti di awal (sebelum mandi).

5. 🛁Pada Mandi Haidh, setelahnya disunnahkan membubuhkan 🌹Misk🌹 (sejenis minyak wangi dan aman untuk daerah kewanitaan) ke 💭kapas kemudian dioleskan ke daerah kewanitaan pasca Haidh sedangkan pada 🚿mandi Junub tidak.

🎁Semoga Bermanfaat🎁.. Semoga kita dipertemukan dengan 🌙 Bulan Ramadhan Berikutnya...

🌿🌹عائشة أمّ عبد اللّه🌹🌿

__________________________________
Dishare Oleh Ustadzah Ari Mardiah Joban -hafizhahallah-

http://www.salamdakwah.com/forum/8915-fiqh-thaharah-darah-wanita

Silakan Login untuk menulis komentar.

FORUM TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com