SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Adab Makan


dede suhendi
dede suhendi
8 years ago

Tausiyah Ustadz Abu Sa'ad. A : "Makan dengan tangan kanan adalah termasuk Sunnah, namun yang dimaksud bukan Sunnah dalam arti kalau dikerjakan berpahala dan kalau ditinggalkan tidak berdosa. Bukan seperti itu makna Sunnah yang dimaksud. Karena Sunnah memiliki banyak makna. Ada yang maknanya lawan dari Bid'ah, ada juga yang maknanya segala sesuatu yang dinibatkan kepada Nabi, ada juga yang maknanya berasal dari Al Quran dan Hadits, dan ada juga yang maknanya berupa anjuran. Sedangkan dalam konteks makan dengan tangan kanan, maka masuknya kepada sunnah yang wajib hukumnya, karena hal itu adalah perintah dan ada ancamannya.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,



فمَن رغب عن سنَّتي فليس منِّي



Artinya: “Barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukanlah termasuk umatku.” (HR. Bukhari [5063] dan Muslim [1401]).



Jika Sunnah hanya memiliki makna anjuran saja (kalau dikerjakan berpahala dan kalau ditinggalkan tidak berdosa). Maka Rasulullah tidak akan mengancam seperti hadits diatas.

B : "Ooo...terus ada lagi koreksi yang lain?"

A : "Koreksi kedua adalah, orang itu meniup makanan sebelum memakannya. Itu adalah kesalahan yang perlu dikoreksi."

B : "Dia meniupkan karena makanan itu masih panas. Kalau tidak ditiup, maka bagaimana dia bisa memakan langsung?"

A : "Tunggu sampai agak dingin, dan bersabarlah. Karena meniup makanan atau minuman dilarang dalam Islam.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri ia berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah melarang meniup di dalam minuman.” Seseorang lalu berkata: “(Bagaimana bila) aku melihat kotoran di dalam bejana?” Lalu beliau berkata: “Tuangkanlah ia.” Dia berkata: “Aku tidak bisa minum dengan satu napas?” Beliau berkata: “Jauhkanlah bejana itu dari mulutmu.”

(Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ad-Darimi di dalam Sunan beliau no. 2029, Al-Imam Malik di dalam kitab Al-Muwattha‘ 2/945, Al-Imam At-Tirmidzi (1887) dan Al-Imam Ahmad (3/32). Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 1538).Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, jika beliau membuat roti Tsarid maka beliau tutupi roti tersebut dengan sesuatu sampai panasnya hilang. Kemudian beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hal tersebut lebih besar berkahnya.” (HR. Darimi no. 2047 dan Ahmad no. 26418, Syaikh al-Albani memasukkan hadits ini dalam Silsilah Shahihah no. 392).



Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Makanan itu tidak boleh disantap kecuali jika asap makanan yang panas sudah hilang.” (Dalam Irwa’ul Ghalil no. 1978 Syaikh al-Albani mengatakan shahih diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, 7/2580).



B : "Ooo...baru tau. Ada lagi?"

A : "Koreksi yang ketiga adalah, orang itu makan sambil berjalan."

B : "Tapi bukankah Rasulullah sendiri pernah makan sambil berdiri?"

A : "Benar, Rasulullah pernah makan atau minum sambil berdiri. Berikut hadits2nya,

Dari Ibnu Abbas beliau mengatakan, “Aku memberikan air zam-zam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau lantas minum dalam keadaan berdiri.” (HR. Bukhari no. 1637, dan Muslim no. 2027)



Dari An-Nazal, beliau menceritakan bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu mendatangi pintu ar-Raghbah lalu minum sambil berdiri. Setelah itu beliau mengatakan, “Sesungguhnya banyak orang tidak suka minum sambil berdiri, padahal aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan sebagaimana yang baru saja aku lihat.” (HR. Bukhari no. 5615)
Silakan Login untuk menulis komentar.

FORUM TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com