SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Khilaf Ulama, Bukan Dalil! (Oleh Ustadz Ammi Nur Baits)


Ummu Adam Zakariya
Ummu Adam Zakariya
5 years ago

๐Ÿ“–โ—‹๐Ÿ“–โ—‹๐Ÿ“–โ—‹๐Ÿ“–โ—‹๐Ÿ“–

Khilaf Ulama, Bukan Dalil!

๐Ÿ“ Dijawab Oleh : Ustadz Ammi Nur Baitsย 



Apakah khilaf bisa dijadikan dalil pembenar? Ketika kita diskusi dengan teman, ada yg tidak terima ketika pendapatnya dikritik, dengan alasan ada khilaf ulama.



Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu โ€˜ala Rasulillah, amma baโ€™du,



Perbedaan dan perselisihan sesuatu yang tidak diinginkan dalam Islam.



Dalam banyak ayat, Allah memuji persatuan dan mencela perselisihan,



ูˆูŽุงุนู’ุชูŽุตูู…ููˆุง ุจูุญูŽุจู’ู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽููŽุฑูŽู‘ู‚ููˆุง



Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah (aturan Allah), dan jangan berpecah belah.

(QS. Ali Imran: 103)



Allah juga berfirman,



ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฒูŽุงู„ููˆู†ูŽ ู…ูุฎู’ุชูŽู„ููููŠู†ูŽ .ย ุฅูู„ูŽู‘ุง ู…ูŽู†ู’ ุฑูŽุญูู…ูŽ ุฑูŽุจูู‘ูƒูŽ



Mereka senantiasa bercerai kecuali orang yang dirahmati Rabbnya.

(QS. Hud: 118 โ€“ 119)



Kita memahami bahwa kebenaran itu bersumber dari Allah dan Rasul-Nya Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Karenanya, kebenaran itu tunggal dan tidak berbilang. Kecuali jika di sana, Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengajarkan beberapa model, yang umumnya terkait tata cara ibadah tertentu.



Seperti beberapa redaksi doa iftitah, doa rukuk, doa sujud, dst yang diisitilahkan para ulama dengan khilaf tanawwuโ€™ (perbedaan yang sifatnya ragam).



Karena itulah, khilaf ulama bukan dalil. Dalil adalah yang bersumber dari

al-Quran, sunnah, dan Ijmaโ€™.



Bahkan sebaliknya, semua khilaf butuh terhadap dalil. Agar kita bisa memilih mana diantara pendapat itu yang paling mendekati kebenaran.



Allah berfirman,



ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ุฃูŽุทููŠุนููˆุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูˆูŽุฃูŽุทููŠุนููˆุง ุงู„ุฑูŽู‘ุณููˆู„ูŽ ูˆูŽุฃููˆู„ููŠ ุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุฑู ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ููŽุฅูู†ู’ ุชูŽู†ูŽุงุฒูŽุนู’ุชูู…ู’ ูููŠ ุดูŽูŠู’ุกู ููŽุฑูุฏูู‘ูˆู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุงู„ุฑูŽู‘ุณููˆู„ู ุฅูู†ู’ ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุชูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ุขูŽุฎูุฑู ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ูˆูŽุฃูŽุญู’ุณูŽู†ู ุชูŽุฃู’ูˆููŠู„ู‹ุง



Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

(QS. an-Nisa: 59)



Anda bisa perhatikan, upaya kita mengembalikan kepada al-Quran dan sunnah ketika terjadi perbedaan, merupakan bukti keimanan kita kepada Allah dan hari akhir.

Bukan mempertahankan pendapat lama dengan alasan di sana ada khilaf di kalangan ulama.

(Tafsir as-Saโ€™di, hlm. 183)



Ketika anda memilih pendapat, yakini bahwa anda akan ditanya oleh Allah, mengapa kita mengambil pendapat itu. Karena baik ulama maupun pengikut ulama, masing-masing punya tanggung jawab.



Pengikut ulama bertanggung jawab untuk memilih pendapat yang paling mendekati kebenaran jika terjadi perbedaan di antara ulama.



Para ulama tidak bisa menyelamatkan kita ketika di hadapan pengadilan Allah. Masing-masing akan mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri,



ูƒูู„ูู‘ ู†ูŽูู’ุณู ุจูู…ูŽุง ูƒูŽุณูŽุจูŽุชู’ ุฑูŽู‡ููŠู†ูŽุฉูŒ



Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.

(QS. al-Mudatsir: 38)



Bayangkan, ketika hanya bisa gigit jari karena menyesali perbuatan kita di hari akhir,



ูˆูŽูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ูŠูŽุนูŽุถูู‘ ุงู„ุธูŽู‘ุงู„ูู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ูŠูŽู‚ููˆู„ู ูŠูŽุง ู„ูŽูŠู’ุชูŽู†ููŠ ุงุชูŽู‘ุฎูŽุฐู’ุชู ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุฑูŽู‘ุณููˆู„ู ุณูŽุจููŠู„ู‹ุง (27) ูŠูŽุง ูˆูŽูŠู’ู„ูŽุชูŽุง ู„ูŽูŠู’ุชูŽู†ููŠ ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽุชูŽู‘ุฎูุฐู’ ููู„ูŽุงู†ู‹ุง ุฎูŽู„ููŠู„ู‹ุง (28) ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุถูŽู„ูŽู‘ู†ููŠ ุนูŽู†ู ุงู„ุฐูู‘ูƒู’ุฑู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฅูุฐู’ ุฌูŽุงุกูŽู†ููŠ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ู ู„ูู„ู’ุฅูู†ู’ุณูŽุงู†ู ุฎูŽุฐููˆู„ู‹ุง



Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata:

โ€œAduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.

(QS. al-Furqan: 27 โ€“ 29)



Allahu aโ€™lam.



___

๐Ÿ“ฑ Dipost Ustadz Ammi Nur Baits -hafizhahullah- tgl 17 Sya'ban 1436 / 4 Juni 2015
Silakan Login untuk menulis komentar.
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com