SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Janin Keguguran (Dijawab Oleh Ustadz Ammi Nur Baits)


Ummu Adam Zakariya
Ummu Adam Zakariya
5 years ago

๐ŸŽˆ๐ŸŽˆ๐ŸŽˆ๐ŸŽˆ๐ŸŽˆ
JANIN KEGUGURAN
๐Ÿ“ Oleh : Ustadz Ammi Nur Baits

Janin Keguguran Tidak Perlu Dimandikan?

Assalamโ€ฆbagaimana cara memandikan janin dan apa hukum memandikan dan menyolatkan janin yang usia 5 bulan atau kurang atau lebih?

Dari: ahmadย 
(Dikirim melalui Aplikasi Tanya Ustadz untuk Windows Phone)

Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu โ€˜ala Rasulillah, amma baโ€™du,

โ˜† Pertama, bayi yang terlahir dalam keadaan hidup, kemudian dia meninggal, ulama sepakat, disyariatkan untuk dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan.

Ibnu Qudamah menyebutkan,

ุงู„ุณู‚ุท ุงู„ูˆู„ุฏ ุชุถุนู‡ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ู…ูŠุชุง ุฃูˆ ู„ุบูŠุฑ ุชู…ุงู… ูุฃู…ุง ุฅู† ุฎุฑุฌ ุญูŠุง ูˆุงุณุชู‡ู„ ูุฅู†ู‡ ูŠุบุณู„ ูˆูŠุตู„ู‰ ุนู„ูŠู‡ ุจุบูŠุฑ ุฎู„ุงู ู‚ุงู„ ุงุจู† ุงู„ู…ู†ุฐุฑ : ย ุฃุฌู…ุน ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุทูู„ ุฅุฐุง ุนุฑูุช ุญูŠุงุชู‡ ูˆุงุณุชู‡ู„ ูŠุตู„ู‰ ุนู„ูŠู‡

Janin keguguran adalah janin yang dilahirkan ibunya dalam keadaan telah meninggal atau tidak sempurna. Namun jika dia lahir hidup dan bisa menangis, kemudian mati, maka dia dimandikan dan dishalati, berdasarkan kesepakatan ulama.

Ibnul Mundzir mengatakan,
โ€œUlama sepakat bahwa bayi yang terlahir dalam keadaan hidup, dengan dia menangis, maka dia dishalati.โ€ (al-Mughni, 2/393).

โ˜† Kedua, janin yang meninggal dalam kandungan

Ulama berbeda pendapat di sana.

Menurut Imam Malik, janin yang meninggal di dalam kandungan, atau lahir dalam kondisi meninggal, tidak dishalati. Dalam kitab al-Mudawwanah dinyatakan,

ู„ุง ูŠุตู„ู‰ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ูˆู„ูˆุฏ ูˆู„ุง ูŠุญู†ุท ูˆู„ุง ูŠุณู…ู‰ ูˆู„ุง ูŠุฑุซ ูˆู„ุง ูŠูˆุฑุซ ุญุชู‰ ูŠุณุชู‡ู„ ุตุงุฑุฎุง ุจุงู„ุตูˆุช. ูŠุนู†ูŠ ูŠู†ุฒู„ ุญูŠุง

Bayi tidak perlu dishalati, tidak diberi wewangian (dikafani), tidak diberi nama, tidak mendapat warisan maupun memberi warisan, kecuali jika dia terlahir dengan menangis (mengeluarkan suara) terlahir dalam keadaan hidup. (al-Mudawwanah, 1/255)

Beliau berdalil dengan hadis Jabir Radhiyallahu โ€˜anhu, bahwa Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุงู„ุทูู‘ูู’ู„ู ู„ุงูŽ ูŠูุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุฑูุซู ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠููˆุฑูŽุซู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽุณู’ุชูŽู‡ูู„ูŽู‘

Bayi tidak perlu dishalati, tidak menerima warisan atau menurunkan warisan, sampai terlahir dalam keadaan hidup. (HR. Turmudzi 1049 dan dishahihkan al-Albani).

Pendapat Imam Malik juga sejalan dengan pendapat Sufyan at-Tsauri dan as-Syafii.

๐Ÿ‘‰ Pendapat kedua menyatakan bahwa janin meninggal di kandugan, yang usianya 4 bulan ke atas, dia dimandikan dan dishalati. Ini merupakan pendapat madzhab Hambali.

Ibnu Qudamah menyebutkan keterangan Imam Ahmad,

ู‚ุงู„ ุงู„ุฅู…ุงู… ุฃุญู…ุฏ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ : โ€ ุฅุฐุง ุฃุชู‰ ู„ู‡ ุฃุฑุจุนุฉ ุฃุดู‡ุฑ ุบูุณู‘ู„ ูˆุตู„ูŠ ุนู„ูŠู‡ ุŒ ูˆู‡ุฐุง ู‚ูˆู„ ุณุนูŠุฏ ุจู† ุงู„ู…ุณูŠุจ ุŒ ูˆุงุจู† ุณูŠุฑูŠู† ุŒ ูˆุฅุณุญุงู‚ ุŒ ูˆุตู„ู‰ ุงุจู† ุนู…ุฑ ุนู„ู‰ ุงุจู† ู„ุงุจู†ุชู‡ ูˆู„ุฏ ู…ูŠุชุงู‹ โ€œ

Imam Ahmad mengatakan, โ€˜Jika janin telah berusia 4 bulan, dia dimandikan dan dishalati. Ini merupakan pendapat Said bin Musayib, Ibnu Sirin, dan Ishaq bin Rahuyah. Ibnu Umar menyalati cucunya yang terahir dalam keadaan telah meninggal.โ€™ (al-Mughni, 2/393).

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini adalah hadis dari Mughirah bin Syuโ€™bah Radhiyallahu โ€˜anhu, Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ูˆูŽุงู„ุณูู‘ู‚ู’ุทู ูŠูุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽูŠูุฏู’ุนูŽู‰ ู„ููˆูŽุงู„ูุฏูŽูŠู’ู‡ู ุจูุงู„ู’ู…ูŽุบู’ููุฑูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽุฉู

Bayi keguguran itu dishalati, dan didoakan kedua orang tuanya dengan ampunan dan rahmat.
(HR. Ahmad 18665, Abu Daud 3182, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Imam Ahmad memberikan batasan usia janin 4 bulan, karena sejak usia itu, janin telah ditiupkan ruh. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ibnu Masโ€™ud yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Kemudian Ibnu Qudamah menjelaskan tentang hadis Jabir dia atas. Beliau mengarahkan bahwa hadis itu dipahami untuk janin yang meninggal sebelum ditiupkan ruh. Meninggal sebelum berusia 4 bulan dalam kandungan. Karena itu, sama sekali tidak memiliki hak waris.

Ibnu Qudamah juga menegaskan, mengapa dianjurkan untuk menshalati jenazah yang telah meninggal dalam kandungan,

ุฃู† ุงู„ุตู„ุงุฉ ุนู„ูŠู‡ ุฏุนุงุก ู„ู‡ ูˆู„ูˆุงู„ุฏูŠู‡ ูˆุฎูŠุฑ ูู„ุง ูŠุญุชุงุฌ ุฅู„ู‰ ุงู„ุงุญุชูŠุงุท ูˆุงู„ูŠู‚ูŠู† ู„ูˆุฌูˆุฏ ุงู„ุญูŠุงุฉ ุจุฎู„ุงู ุงู„ู…ูŠุฑุงุซ

Bahwa menshalati jenazah merupakan doa untuk janin dan untuk kedua orang tuanya, dan itu kebaikan. Sehingga tidak butuh memperhatikan kehati-hatian dan yakin bahwa dia pernah hidup. Berbeda dengan hukum warisan. (al-Mughni, 2/393).

Sehingga ๐Ÿ‘‰ pendapat kedua inilah yang lebih kuat.

Mengenai tata caranya, sama dengan tata cara memandikan jenazah pada umumnya.

Allahu aโ€™lam.

___
๐Ÿ“ฑ Dipost Ustadz Ammi Nur Baits -hafizhahullah- tgl 3 Sya'ban 1436 / 21 Mei 2015

Silakan Login untuk menulis komentar.

FORUM TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com