SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

LIMA PERKARA TERMASUK BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA SETELAH MENINGGALOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Alfi Syahrin Kirana
Alfi Syahrin Kirana
8 years ago

LIMA PERKARA TERMASUK BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA SETELAH MENINGGAL

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bagaimana caranya
berbakti kepada kedua orang tua ? Dan apakah boleh ibadah umrah
(mengumrahkan) untuk salah seorang mereka walaupun pernah
melaksanakannya ?

Jawaban
Berbakti kepada kedua orang tua adalah berbuat baik kepada mereka
dengan harta, wibawa (kedudukan) dan bantuan fisik. Ini hukumnya
wajib. Sedangkan durhaka kepada kedua orang tua termasuk perbuatan
yang berdosa besar, yaitu tidak memenuhi hak-hak mereka. Berbuat baik
kepada mereka semasa hidup, sudah maklum, sebagaimana kami sebutkan
tadi, yaitu dengna harta, wibawa (kedudukan) dan bantuan fisik. Adapun
setelah meninggal, maka cara berbaktinya adalah dengan mendo’akan dan
memohonkan ampunan bagi mereka, melaksanakan wasiat mereka,
menghormati teman-teman mereka dan memelihara hubungan kekerabatan
yang ada tidak akan punya hubungan kekerabatan dengan mereka tanpa
keduanya. Itulah lima perkara yang merupakan bakti kepada kedua orang
tua setelah mereka meninggal dunia.

Bersedekah atas nama keduanya hukumnya boleh. Tapi tidak harus,
misalnya dengan mengatakan kepada sang anak, “Bersedekahlah”. Namun
yang lebih tepat, “Jika engkau bersedekah, maka itu boleh”. Jika tidak
bersedekah, maka mendo’akan mereka adalah lebih utama, berdasarkan
sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Jika seorang manusia meninggal, terputuslah semua amalnya
kecuali tiga, shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak
shalih yang mendo’akannya” [Hadits Riwayat Muslim dalam Al-Washiyah
(1631)]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa do’a itu
bersetatus memperbaharui amal. Ini merupakan dalil bahwa mendo’akan
kedua orang tua setelah meninggal adalah lebih utama daripada ibadah
umrah (mengumrahkan) mereka, membacakan Al-Qur’an untuk mereka dan
shalat untuk mereka, karena tidak mungkin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam menggantikan yang utama dengan yang tidak utama, bahkan
tentunya beliau pasti menjelaskan yang lebih utama dan menerangkan
bolehnya yang tidak utama. Dalam hadits tadi beliau menjelaskan yang
lebih utama.

Adapun tentang bolehnya yang tidak utama, disebutkan dalam hadits Sa’d
bin Ubaidillah, yaitu saat ia meminta izin kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam untuk bersedekah atas nama ibunya, lalu beliau
mengizinkan[1]. Juga seorang laki-laki yang berkata kepada Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, ibuku meninggal
tiba-tiba, dan aku lihat, seandainya ia sampai berbicara, tentu ia
akan bersedekah. Bolehkah aku besedekah atas namanya ?” Beliau
menjawab, “Boleh”[2]

Yang jelas, saya sarankan kepada anda untuk banyak-banyak mendo’akan
mereka sebagai pengganti pelaksanaan umrah, sedekah dan sebagainya,
karena hal itulah yang ditujukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Kendati demikian, kami tidak mengingkari bolehnya bersedekah,
umrah, shalat atau membaca Al-Qur’an atas nama mereka atau salah
satunya. Adapun bila mereka memang belum pernah melaksanakan umrah
atau haji, ada yang mengatakan bahwa melaksanakan kewajiban atas nama
keduanya adalah lebih utama daripada mendo’akan. Wallahu a’lam

[Kitab Ad-Da’wah (5), Syaikh Ibnu Utsaimin 2/148-149]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il
Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia
Fatwa-Fatwa Terkini-3, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Penerjemah Amir
Hamzah, Penerbit Darul Haq]

Copas http://almanhaj.or.id/content/1810/slash/0
_________
Foote Note
[1]. Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Washaya (2760)
[2]. Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Janaiz (1388), Muslim dalam
Al-Washiyah (1004)

Silakan Login untuk menulis komentar.
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com