SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Wanita Hamil, Menyusui, Nifas: Mengqodho Puasa Ramadhan Atau Membayar Fidyah? (Fatwa Ulama)


Ummu Adam Zakariya
Ummu Adam Zakariya
6 years ago

Pertanyaan :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Pertanyaan dari member Al Ilmu 444:
Saya Khadijah di Tangerang.
Saya mau tanya. Adik saya 8 bulan lalu melahirkan, pas bulan puasa kemarin sempat ga puasa +/- 2 minggu karena hamil, bagaimana hukumnya ?
Ketika dia mau bayar hutang puasanya itu, apa harus membayar fidyah juga ? Atau salah satunya saja ?
Mohon penjelasannya. Jazaakillahu khairan.

Jawaban Disusun Di BBG Al Ilmu Oleh Ukhti Ayumi:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Fatwa Ulama:
-------------------
Ini fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah. Beliau ditanya,

“Ada seorang wanita dimana ia mengalami NIFAS di bulan Ramadhan, atau dia mengalami HAMIL atau dia sedang MENYUSUI ketika itu.
Apakah wajib baginya qodho’ ataukah dia menunaikan fidyah (memberi makan bagi setiap hari yang ditinggalkan)? Karena memang ada yang mengatakan pada kami bahwa mereka tidak perlu mengqodho’, namun cukup menunaikan fidyah saja.
Kami mohon jawaban dalam masalah ini dengan disertai dalil.”

Beliau rahimahullah menjawab,

“Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat & Salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga & sahabatnya serta orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan.

Allah subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan bagi hamba-Nya puasa Ramadhan & puasa ini adalah bagian dari rukun Islam. Allah telah mewajibkan bagi orang yang memiliki udzur tidak berpuasa untuk mengqodho’nya ketika udzurnya tersebut hilang. Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya),

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia & penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa yang menyaksikan hilal, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya mengqodho’ puasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah km mencukupkan bilangannya dan hendaklah km mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya km bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa siapa saja yang tidak berpuasa karena ada udzur maka hendaklah ia mengqodho’ (mengganti) puasanya di hari yang lain. Wanita HAMIL, wanita MENYUSUI, wanita NIFAS, wanita HAIDH, kesemuanya meninggalkan puasa Ramadhan karena ada udzur. Jika keadaan mereka seperti ini, maka wajib bagi mereka mengqodho’ puasa karena diqiyaskan dengan orang sakit & musafir.

Sedangkan untuk haidh telah ada dalil tegas tentang hal tersebut. Disebutkan dalam Bukhari Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya beliau ditanya oleh seorang wanita,
“Mengapa wanita haidh diharuskan mengqodho’ puasa & tidak diharuskan mengqodho’ shalat?”
‘Aisyah menjawab,
“Dulu kami mendapati haidh. Kami diperintahkan (oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) untuk mengqodho’ puasa & kami tidak diperintahkan untuk mengqodho’ shalat.”
Inilah dalilnya.

Adapun ada riwayat dari sebagian ulama salaf yang memerintahkan wanita HAMIL & MENYUSUI (jika tidak puasa) cukup fidyah (memberi makan) & tidak perlu mengqodho’,
maka yang dimaksudkan disini adalah untuk mereka yang tidak mampu berpuasa selamanya. Dan bagi orang yang tidak dapat berpuasa selamanya seperti pada orang yang sudah tua & orang yang sakit dimana sakitnya tidak diharapkan sembuhnya, maka wajib baginya menunaikan fidyah.
Pendapat ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala (yang artinya),

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankan puasa (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan satu orang miskin (bagi satu hari yang ditinggalkan). Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 184)

Allah Ta’ala telah menjadikan fidyah sebagai pengganti puasa di awal-awal diwajibkannya puasa, yaitu ketika manusia punya pilihan untuk menunaikan fidyah (memberi makan) & berpuasa. Kemudian setelah itu, mereka diperintahkan untuk berpuasa saja.

[Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibni ‘Utsaimin, 17/121-122, Asy Syamilah]

•••

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal,

sarankan tetap mengqodho’ semampu mungkin. Jika memang tidak sanggup silahkan keluarkan fidyah. Namun ingat, tetap mencoba untuk mengqodho’.

والله أعلم بالصواب

Silakan Login untuk menulis komentar.
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com