SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Menjaga Lisan


abumaryam
abumaryam
9 years ago

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari Kiamat.

Diriwayatkan dari Abdullah ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



لاَ تُكْثِرُوا الْكَلاَمَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللهِ،

فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلاَمِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللهِ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ،

وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنَ اللهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي



“Janganlah memperbanyak pembicaraan selain dzikrullah. Karena banyak bicara selain dzikrullah akan membuat hati menjadi keras. Sesungguhnya manusia yang paling jauh dari Allah adalah (yang memiliki) hati yang keras.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2411; Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab no. 4951; Malik dalam Al-Muwatha’, II/986. Hadits ini dishahihkan oleh Ahmad Syakir dalam ‘Umdatut Tafsir, I/168 dan dihasankan oleh Syu’aib Al-Arnauth dalam Jami’ Al-Ushul, XI/737).

Menjaga Lisan Adalah Tanda Baiknya Keislaman Seseorang

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالاَ يَعْنِيْهِ



“Termasuk kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 2239 dan Ibnu Majah, no. 3966. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam Shohiih Ibni Majah, no. 3211)

Lidah adalah anggota badan yang benar-benar perlu untuk dijaga dan dikendalikan. Sesungguhnya lidah adalah penerjemah hati dan pengungkap isi hati. Oleh karena itulah, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan istiqomah, beliau mewasiatkan untuk menjaga lisan. Dan lurusnya lidah itu berkaitan dengan kelurusan hati dan keimanan seseorang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



لاَ يَسْتَقِيْمُ إِيْمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيْمَ قَلْبُهُ،

وَلاَ يَسْتَقِيْمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيْمَ لِسَانُهُ،

وَلاَ يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ



“Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya istiqomah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya istiqomah. Dan tidak akan masuk Surga, seseorang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 12636 dan dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali dalam Bahjatun Nazhirin, 3/13).

An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, setiap orang harus menjaga lisannya dari seluruh perkataan, kecuali ucapan yang jelas manfaatnya. Apabila belum jelas manfaatnya, maka ditekankan baginya agar lebih memilih diam. Sebab ucapan yang mubah itu bisa menyeret kepada yang haram dan makruh. Bahkan kenyataan seperti ini sangat banyak dan sering terjadi. Sedangkan keselamatan tidak dapat dinilai dengan apapun.” (Al-Adzkar, karya An-Nawawi, hal. 284).

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara, maka hendaklah ia berpikir terlebih dahulu. Jika ia yakin bahwa ucapan itu tidak merugikannya, maka bicaralah. Jika ia yakin bahwa ucapan tersebut mengandung muhdharat atau ia masih ragu-ragu, maka hendaklah ia menahan (lesannya).” (Al-Adzkaar, karya An-Nawawi, 2/713-714)

Ada seseorang yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta nasehat. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



إِذَا قُمْتَ فِي صَلاَتِكَ فَصَلِّ صَلاَةَ مُوَدِّعٍ،

وَلاَ تَكَلَّمْ بِكَلاَمٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ،

وَأَجْمِعِ الْيَأْسَ عَمَّا فِيْ أَيْدِي النَّاسِ



“Jika engkau mengerjakan sholat, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh seolah-olah itu adalah sholat terakhirmu. Janganlah engkau berbicara dengan ucapan yang nantinya engkau akan menyesal karenanya. Singkirkanlah keinginanmu terhadap apa yang ada di tangan manusia.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no. 4161 dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shohih Ibni Majah, no. 3363).

Apakah Semua Ucapan Itu Tercatat?

Seluruh ucapan yang keluar dari lisan manusia akan dicatat oleh Malaikat pencatat amal, baik itu ucapan yang bernilai pahala maupun ucapan buruk yang bernilai dosa. Lalu, bagaimanakah dengan ucapan mubah, yang tidak bernilai pahala dan dosa? Apakah dicatat?!

Ada perbedaan pendapat diantara para ulama kita berkaitan dengan masalah ini. Ada ulama kita yang mengatakan bahwa yang dicatat hanyalah ucapan yang bernilai pahala dan dosa. Sedangkan ulama yang lain berpendapat bahwa semua ucapan, termasuk yang mubah, akan dicatat dan dimasukkan dalam lembaran catatan amalan. Wallahu Ta’ala a’lam, pendapat terakhirlah yang lebih kuat berdasarkan firman Allah Ta’ala:



مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ



“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18)

Yakni tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, baik yang bernilai pahala, bernilai dosa, maupun yang mubah (tidak bernilai pahala dan dosa), melainkan dicatat oleh Malaikat pencatat amal. Bahkan rintihan orang yang kesakitan juga akan ditulis dalam lembar catatan amal.

Imam Ahmad rahimahullah pernah dijenguk oleh seseorang tatkala sedang sakit. Ketika beliau merintih karena sakit yang dideritanya, ada seseorang (yakni Thowus, ulama terkenal generasi Tabi’in) yang berkata kepadanya, “Sesungguhnya rintihan sakit juga dicatat (oleh Malaikat)”. Setelah mendengar ucapan itu, Imam Ahmad langsung diam dan tidak merintih lagi. Beliau takut jika rintihan sakit itu akan dicatat oleh Malaikat. (Silsilah Liqo’at al-Bab al-Maftuh, 11/5)

Bahaya Tidak Menjaga Lisan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ اْلأَجْوَفَانِ : اَلْفَمُّ وَالْفَرْجُ



“Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah dua lubang : mulut (lisan) dan farji (kemaluan).” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Ahmad, II/291; At-Tirmidzi, no. 2040; Ibnu Majah, no. 4246; al-Hakim, no. II/342)

Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jaminan masuk Surga bagi setiap muslim yang mampu menjaga lisan dan kemaluannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ



“Barangsiapa memberi jaminan untuk menjaga apa yang ada di antara dua jenggotnya (yakni mulut) dan dua pahanya (yakni kemaluan), aku jamin baginya Surga.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhori, no. 6474 dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu).

Orang yang bijak adalah orang yang menjaga lisannya dari ucapan-ucapan batil dan menggunakannya untuk perkara yang bermanfaat. Ada seorang hamba yang datang membawa kebaikan setinggi gunung, namun ia dapati lesannya telah mengharcurkan semua kebaikannya itu. Sebaliknya, ada hamba yang datang membawa dosa setinggi gunung, namun ia dapati lisannya telah merobohkan tumpukan dosa-dosa itu karena banyaknya ia beristighfar, berdzikir dan bermunajat kepada Allah Ta’ala. (Al-Jawaab al-Kaafi, karya Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, hal. 276-281)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَا فِي النَّارِ

أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ



“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan sesuatu perkataan yang tidak ia perhatikan (baik dan buruknya) menyebabkan tergelincir ke Neraka dengan jarak yang lebih jauh dari jarak timur dan barat.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhori, no. 6477 dan Muslim, no. 2988).

Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia! Tidak ada sesuatu yang lebih perlu dipenjarakan dalam waktu yang lama selain lisanku.” Beliau juga mengatakan, “Wahai lisan, ucapkanlah yang baik-baik, niscaya kamu akan beruntung! Berhentilah dari mengucap yang buruk-buruk, niscaya kamu akan selamat sebelum menyesal!” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab al-Hambali, hal. 241–242)



Sumber : Buletin at-Taubah edisi ke-51
www.attaubah.com

Silakan Login untuk menulis komentar.

FORUM TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com