SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Seputar Puasa Daud


ummu ibrohim
ummu ibrohim
8 years ago

Pertanyaan:

Mau tanya tentang puasa nabi Daud, apa ada dasarnya/ketentuannya? Terus gimana niatnya untuk memulai puasa tersebut? Apa ada doanya?





Jawab:

Puasa Daud hukumnya sunnah,memiliki dasar hukum yang sangat kuat. Di antaranya adalah hadits berikut ini.





صُمْ أَفْضَلَ الصِّيَامِ عِنْدَ اللَّهِ صَوْمَ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا





“Kerjakanlah puasa yang paling afdhol di sisi Allah, itulah puasa Daud. Beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari” (HR Muslim no 2799 dari Abdullah bin Amr bin al ‘Ash).





Berdasarkan hadits di atas, menjalankan puasa Daud adalah bagian dari syariat nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam . Memang pada mulanya, puasa tersebut adalah bagian dari syariat nabi Daud namun karena nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji puasa ini sebagai puasa yang paling afdhol bahkan memerintahkan untuk melakukannya maka puasa Daud sudah menjadi bagian dari syariat Muhammad.





Seorang muslim yang menjalankannya bukan berarti mengikuti nabi Daud, bahkan mengikuti perintah nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam .





Niat puasa daud dan puasa yang lainnya bahkan niat untuk semua ibadah itu letaknya ada di hati dan tidak perlu diucapkan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan untuk mengucapkan niat. Para shahabatpun tidak ada yang melakukannya.





Sebatas pengetahuan kami, tidak terdapat doa khusus yang dibaca pada saat memulai puasa daud ataupun ketika sedang puasa daud.





Pertanyaan lain yang timbul, bagaimana kalau puasa Dawud bertepatan dengan hari Jum’at, atau hari Sabtu atau hari Ahad, apakah dia boleh berpuasa pada hari itu?







Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah pernah ditanya:

“Apabila ada seseorang yang berpuasa sehari dan tidak puasa sehari, sedangkan ketika itu giliran puasanya menepati hari Jumat, apakah dia diperbolehkan berpuasa di hari itu atau tidak?”





Beliau menjawab, “Ya, boleh bagi seseorang apabila dia telah terbiasa berpuasa sehari dan tidak puasa sehari kemudian dia berpuasa hari Jumat itu saja (tanpa mengiringi dengan puasa sehari sebelum atau sesudahnya -pent) atau hari Sabtu saja, atau Ahad, atau di hari-hari yang lainnya selama tidak menabrak hari-hari terlarang untuk puasa, karena apabila dia menabrak hari-hari terlarang untuk puasa maka dia haram berpuasa dan wajib baginya meninggalkan puasanya (tidak boleh puasa).





Misalnya apabila ada seorang lelaki yang berpuasa sehari dan tidak puasa sehari, kemudian (giliran) tidak puasanya bertepatan dengan hari Kamis sehingga giliran puasa (berikutnya) bertepatan dengan hari Jumat maka tidak ada halangan baginya untuk berpuasa pada hari Jumat dalam kondisi demikian, sebab dia tidaklah berpuasa di hari Jumat karena status hari itu adalah hari Jumat.





Akan tetapi karena dia sekedar meneruskan puasa yang biasa dilakukannya. Adapun apabila dia meneruskan puasa yang biasa dilakukannya (dan) bertepatan dengan hari terlarang untuk puasa maka wajib baginya meninggalkan puasa seperti apabila (giliran) puasanya itu bertepatan dengan hari Idul Adha atau hari Tasyriq, sebagaimana apabila ada seorang perempuan yang biasa berpuasa sehari dan tidak puasa sehari kemudian dia menjumpai sesuatu yang menghalanginya untuk berpuasa seperti karena sedang haidh atau nifas- maka saat itu dia tidak boleh berpuasa.” (Diterjemahkan dari Fatawa Arkanil Islam, hal. 492, cet Dar Ats Tsuraya).





_______________________________________________

Sumber

www.rumaysho.com

www.konsultasisyarah.com

Silakan Login untuk menulis komentar.
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com