SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Waspadai Jargon Jangan Menggurui


Abu Auzai Adri Azhari Al Qisthi bin Darojat Affandi
Abu Auzai Adri Azhari Al Qisthi bin Darojat Affandi
7 years ago

Penulis : Akh Abun Nada
Penyunting : Akh Abu Auza'i

“Jangan menggurui!”
Pernahkah Anda mendengar orang mengatakan ini? Menurut Anda, apa maksud perkataan ini, dan apa efek sampingnya?



Guru + Meng-i = Menggurui
Menggurui berasal dari kata dasar “guru” yang mendapat imbuhan “meng-i”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata menggurui diartikan sebagai “menjadikan dirinya sbg guru (dng mengajari, menasihati, dsb)” . Begitu makna denotatifnya.

Jika mengacu pada definisi KBBI, maka tidak ada yang salah dengan kata menggurui. Bahkan, kata ini justru maknanya mengandung semangat perbaikan. Pelajaran diberikan agar orang yang kurang ajar menjadi terpelajar. Nasihat diberikan agar orang yang khilaf atau salah dapat memperbaiki dirinya. Jadi, mengajari, menasihati, dan kata-kata yang semakna dengan itu, mengandung arti mengubah suatu keadaan dari tidak tahu, tidak bisa, salah, menjadi tahu, bisa, benar atau baik. Mengubah keadaan negatif menjadi positif.

Namun, dalam praktiknya, kata menggurui sering digunakan untuk mencela orang-orang yang salah cara dalam memberi teguran atau nasihat. Sayang, kemudian orang menggunakannya secara serampangan. Bahkan, kata ini menjadi senjata ampuh bagi orang-orang yang menolak nasihat. Penggunaannya yang demikian itu membuat kata menggurui menjadi berkonotasi negatif.



Berkaca Pada Rosuul
Sebaik-baik guru di dunia ini adalah Muhammad bin Abdillaah Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda

عن أبي هريرة رضي الله عنه: قال رسو ل الله: (حق المسلم على المسلم ست: إذا لقيه فسلم عليه, وإذا دعاك فأجبه, و إذا استنصحك فانصحه, وإذا عطس فحمد الله فسمته, وإذا مرض فعده, وإذا مات فاتبعه) (رواه مسلم) 1

Artinya: Dari Abi Huroirota Rodhiyalloohu ‘anhu: Telah berkata Rosuulullooh: (hak muslim atas muslim ada enam: jika berjumpa, maka ucapkan salam; jika dia (saudara muslimmu) mengundangmu, maka penuhi undangannya; jika dia (saudara muslimmu) meminta nasihat, maka nasihati dia; jika dia (saudara muslimmu) bersin lalu dia mengucap hamdalah, maka doakan dia; jika dia (saudara muslimmu) sakit, jenguklah dial dan jika dia (saudara muslimmu) meninggal, antarkan sampai ke kuburnya) (hadiits riwayat Muslim)

Salah satu hak muslim atas sesama muslim adalah memberi nasihat ketika diminta. Orang meminta untuk dinasihati bisa dengan lisaan bisa pula dengan haal. Dengan lisan: orang tersebut memang mengatakan secara langsung. Sedangkan meminta dengan haal: orang tersebut menampakkan keadaan orang yang perlu dinasihati. Misal, dia menunjukkan kondisi psikis tertekan, wajahnya kalut, sikapnya penuh keluh kesah, dan semisal itu. Dia tidak mengatakan minta nasihat, tetapi haal atau keadaannya yang mengatakan demikian. Maka, kita berhak memberi nasihat padanya. Memberi nasihat tanpa diminta karena melihat haal atau keadaan saudara kita bukan termasuk turut campur.

Rosuul bersabda:

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه ) أخرجه البخاري في الإيمان، ومسلم في الإيمان من حديث أنس رضي الله عنه( 2

Artinya: Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga dia suka melihat saudaranya memiliki apa-apa yang dia sukai ada pada dirinya.

Misalnya, kita merasa Allooh telah melimpahi kita nikmat iman dan ilmu. Kita suka berada dalam kondisi seperti itu. Sementara, kita melihat ada saudara kita yang hidupnya bergelimang kejaahilan. Maka, sebagai bukti cinta pada sesama muslim, kita ingin saudara kita itu dapat merasakan nikmat iman dan ilmu sebagaimana yang kita rasakan. Lalu kita datangi dia. Kita beri motivasi. Kita ajak dia untuk menghadiri majelis ilmu. Maka, yang demikian ini, in syaa Allooh, masuk dalam kategori mengamalkan sunnah, bukan termasuk mencampuri urusan orang.

Bukankah Allooh telah berfirman:

وَٱلْعَصْرِ إِنَّ ٱلإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ إِلاَّ ٱلَّذِينَ ءامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْاْ بِٱلْحَقّ وَتَوَاصَوْاْ بِٱلصَّبْرِ )العصر:1-3(3

Artinya: Demi masa (waktu)! Sesungguhnya orang-orang dalam keadaan merugi, kecuali mereka yang beriman dan ber’amal shoolih dan saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran.

Saling menasihati dan memberi wasiat dalam kebenaran itu perintah Allooh dan RosuulNya. Baik diminta secara langsung atau tidak.



Waspadai Jargon “Jangan Menggurui!”
Kata-kata “Jangan menggurui!” , jika tidak kita pahami benar maksudnya, maka itu dapat menghambat niat ber‘amar ma’ruf nahi mungkar. Secara manusiawi, siapa pun akan berusaha menghindari penolakan, apalagi cemoohan. Jargon “Jangan menggurui!” saat ini sudah nyaris menjadi senjata pamungkas orang-orang yang menolak nasihat. Mereka yang dituju oleh kata-kata itu berarti dia telah melakukan sesuatu yang keliru.

Jargon tersebut tetap harus kita perhatikan. Tetapi, hendaknya diletakkan pada konteksnya yang tepat. Jangan sampai kita terpengaruh orang-orang yang salah menggunakannya. Jika kita terganggu dengan jargon itu, maka, jangan-jangan, itu justru akan membuat kita surut dan meninggalkan sunnah untuk saling menasihati. Akibatnya, kita akan semakin acuh dengan lingkungan sekitar. Dampak paling parah, ‘amar ma’ruf nahi mungkar akan pudar bahkan musnah. Na’udzubillaahi min dzaalik. Walloohu a’lam.
__________________

1-http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php
2-بلوغ المرام من أدلة الأحكام للحافظ ابن حجر العسقلاني من كتاب الجامع باب الأداب حديث الرقم: 1437
3- http://www.mktaba.org/vb/showthread.php?t=8656

Silakan Login untuk menulis komentar.
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com