SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

HUKUM PASIEN LAKI-LAKI BEROBAT KEPADA DOKTER WANITA YANG BUKAN MAHROMNYA DAN SEBALIKNYA


Ummu Adam Zakariya
Ummu Adam Zakariya
7 years ago

Pertanyaan :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه
Ustadz Wasitho...Afwan, ada pertanyaan dari member Majlis Hadits Akhwat 14 :

​​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
Ustadz ada pertanyaan dari teman akhwat, drg di puskesmas, beliau menganggap tdk mengapa melayani pasien laki2 bukan mahrom, krn Allah akan mengetahui bhw niatnya adalah menolong, ga pandang jenis kelamin. Mohon penjelasannya ustadz, bolehkah drg melayani pasien yg berbeda jenis kelaminnya? Dan niatnya adalah menolong apakah ttp dosa.
جَزَاك اللهُ خَيْرًا

Jawaban Oleh Ustadz Muhammad Wasitho, LC, MA :
(Disusun Di BBG Majlis Hadits: Tanya Jawab Masalah 324)

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bismillah. Anggapan tsb tidak benar, karena di dlm syari'at Islam seorang wanita DILARANG berkholwat (berduaan) dan bersentuhan dengan laki2 asing yg bukan mahromnya, baik utk keperluan pengobatan, atau selainnya.

Seorang dokter wanita mengobati pasien laki2, atau sebaliknya DIBOLEHKAN dengan beberapa syarat, diantaranya:

1. Tidak ada dokter yg sesama jenis dengan pasiennya. Maksudnya, seorang pasien wanita tidak menemukan dokter wanita yg akan mengobati penyakitnya. Dan pasien laki2 tidak menemukan dokter laki2 yg akan mengobati penyakitnya. Maka dlm kondisi spt ini dibolehkan karena terpaksa dan darurat (adanya kebutuhan yg sangat mendesak).

Di dlm kaedah fiqih disebutkan:

(Adh-Dhoruurootu Tubiihu al-Mahzhuuroot)

Artinya: "Kondisi2 darurat itu membolehkan apa2 yg dilarang."

2. Ketika berobat kpd dokter yg beda jenis kelaminnya, maka si pasien wanita harus didampingi oleh mahromnya, spt suaminya, ayahnya, saudara kandungnya yg laki2.

3. Jika dlm pengobatan dibutuhkan membuka sebagian anggota badan yg merupakan aurot, maka yg boleh dibuka hanya bagian yg akan diobatinya saja.

Hal ini sbgmn disebutkan dlm sebuah kaedah fiqih:

(Adh-Dhoruurootu Tuqoddaru Biqodariha)

Artinya: "keadaan2 darurat itu diukur sesuai kebutuhan."

Adapun jika syarat2 ini tidak terpenuhi, maka hukumnya DILARANG KERAS, meskipun niat dan tujuannya adalah baik, yaitu ingin menolong pasien. Karena hal itu merupakan pelanggaran terhdp syariat Allah dan Rosul-Nya.

Sesuatu tindakan/perbuatan dianggap sebagai amal kebaikan apabila mendatangkan keridhoan Allah Ta'ala dengan sebab mentaati perintah2-Nya dan menjauhi larangan2-Nya.

Demikian jawaban yg dapat kami sampaikan. Smg mudah dipahami dan menjadi tambahan ilmu yg bermanfaat.
Wallahu a'lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq.

(*) Blog Dakwah Kami:
http://abufawaz.wordpress.com

Silakan Login untuk menulis komentar.

FORUM TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com