SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Lihatlah status anak kita.


asep
asep
7 years ago

EFFECTIVE PARENTING: LIHAT STATUS FACEBOOK ANAK
KITA!
Oleh Ustdaz Mohammad Fauzil Adhim
Dari ~DA'WAH AL HANIF~:
-"Bahasa menunjukkan bangsa"
-"You are what you write" (Karakter anda diketahui dari
apa yang anda tulis)
-"You are how you communicate" (Karakter anda
diketahui dari bagaimana anda berkomunikasi)
Maka lihatlah karakter asli anak-anak remaja kita dari
status Facebook mereka.
" Mereka berbicara kepada kita dengan bahasa yang kita
inginkan, tetapi mereka membuka dirinya kepada
manusia di seluruh dunia dengan perkataan-perkataan
ingkar,"
"Harapan saya tentang isi pembicaraan anak-anak yang
telah memperoleh tempaan bertahun-tahun di sekolah
Islam terpadu itu atau yang sejenis dengannya adalah
sosok anak-anak yang hidup jiwanya, cerdas akalnya,
tajam pikirannya dan jernih hatinya. Tetapi ternyata saya
harus terkejut. Sekolah-sekolah Islam itu ternyata hanya
mampu menyentuh fisiknya, tetapi bukan jiwanya."
Demikian sedikit kutipan dari Ustadz Mohammad Fauzil
Adhim.
Silahkan cermati pemaparan lengkap Ustadz Mohammad
Fauzil Adhim berikut ini:
Status Facebook Anak Kita
Sekali waktu, tengoklah status facebook anakmu.
Jelajahilah alam pikirannya. Pahamilah apa yang sedang
terjadi padanya. Dan bersiap-siaplah untuk terkejut
disebabkan apa yang berharga bagi hidupnya,
membanggakan dirinya, menyenangkan hatinya dan
menjadi keinginannya justru perkara yang kita
membencinya. Mereka sangat berhasrat justru terhadap
apa-apa yang kita ajarkan kepada mereka untuk
menjauhi. Astaghfirullahal ?adzim.
Sekali saat, periksalah status facebook anak-anakmu.
Ketahuilah apa yang sedang berkecamuk dalam dirinya.
Rasakan apa yang menjadi keinginan kuatnya. Rasakan
pula yang membuatnya terkagum-kagum. Dan bersiap-
siaplah untuk terperangah jika anak-anak itu lebih fasih
mengucapkan kalimat-kalimat yang tak berharga, ucapan
yang tak bernilai, pembicaraan yang mendekatkan
kepada maksiat, dan bahkan ada yang mendekati
kekufuran.
Mereka berbicara kepada kita dengan bahasa yang kita
inginkan, tetapi mereka membuka dirinya kepada
manusia di seluruh dunia dengan perkataan-perkataan
ingkar. Mereka menyiarkan keburukan dirinya sendiri,
tetapi mereka tidak menyadarinya. Astaghfirullahal
?adzim.
Kalau suatu saat ada kesempatan, cermatilah apa yang
ditulis oleh anakmu, gambar apa yang ditampilkan dan
siapa yang dielu-elukan di facebooknya. Sadari apa yang
telah terjadi dan sedang terjadi pada diri mereka.
Ketahui perubahan apa yang menerpa jiwa mereka. Dan
bersiaplah untuk terkejut bahwa apa yang tampak di
depan mata tak selalu sama dengan apa yang terjadi di
belakang kita. Mereka bisa bertutur tentang keshalihan
karena berharap terhindar dari kedukaan atau bahkan
kemurkaan kita. Tetapi di facebook, mereka merasa
merdeka mengungkapkan apa pun yang menjadi
kegelisahan, keinginannya dan kebanggaannya yang
benar-benar terlahir dari dalam diri mereka.
Beberapa waktu saya memeriksa akun facebook anak-
anak SDIT, alumni SDIT dan mereka yang masih belajar
di SMPIT maupun SMAIT. Hasilnya? Sangat
mengejutkan. Harapan saya tentang isi pembicaraan
anak-anak yang telah memperoleh tempaan bertahun-
tahun di sekolah Islam terpadu itu atau yang sejenis
dengannya adalah sosok anak-anak yang hidup jiwanya,
cerdas akalnya, tajam pikirannya dan jernih hatinya.
Tetapi ternyata saya harus terkejut. Sekolah-sekolah
Islam itu ternyata hanya mampu menyentuh fisiknya,
tetapi bukan jiwanya.
Betapa sedih ketika melihat anak-anak yang dulu
jilbabnya besar berkibar-kibar, hanya beberapa bulan
sesudah lulus dari SDIT atau SMPIT, sudah berganti
dengan busana yang menampakkan auratnya dan ia
perlihatkan kepada orang lain melalui foto-foto yang
mereka pajang di facebook.
Tentu saja saya tidak dapat mengatakan bahwa
pendidikan Islam terpadu, integral atau apa pun
istilahnya telah gagal total. Tetapi apa yang dapat
dengan mudah kita telusuri dari tulisan mereka di
facebook maupun media sosial lainnya memberi
gambaran betapa kita perlu berbenah dengan segera.
Selagi aqidah, akhlak dan secara umum agama ini hanya
kita sampaikan secara kognitif, maka tak banyak
perubahan yang dapat kita harapkan. Jika yang kita
berikan adalah pelajaran tentang agama, dan bukan
pendidikan beragama yang dikuati oleh budaya karakter
yang kuat di sekolah, maka anak-anak itu mampu
berbicara agama dengan fasih tapi tidak menjiwai. Tak
ada kebanggaan pada diri mereka terhadap apa-apa
yang datang dari agama; apa-apa yang menjadi
tuntunan Allah Ta?ala dan rasul-Nya.
Astaghfirullahal ?adzim. Na?udzubillahi min dzaalik.
Lalu apa yang merisaukan dari anak-anak itu?
Sekurangnya ada tiga hal. Pertama, cara mereka
berbahasa. Ini menggambarkan alam berpikir sekaligus
kesehatan mental mereka. Kedua, sosok yang mereka
banggakan dan mereka elu-elukan kehadirannya maupun
tingkah-lakunya. Sosok yang menjadi panutan (role
model). Ketiga, nilai-nilai dan keyakinan yang mereka
banggakan sehingga mempengaruhi sikap dan perilaku
mereka, meskipun tak tampak di mata orangtua dan
guru.
Betapa Mengenaskan Bahasa Mereka
Salah satu kelebihan Bani Sa?diyah adalah kefasihannya
berbahasa. Kepada Halimah dari Bani Sa?diyah
Rasulullah shallaLlahu ?alaihi wa sallam disusukan,
sehingga masa kecilnya memperoleh pengalaman
berbahasa yang baik. Tampaknya sepele, tetapi
bagaimana kita berbahasa sangat mempengaruhi
pertumbuhan mental dan perkembangan cara berpikir.
Adalah Alfred Korzybski, ahli semantik asal Rusia yang
menunjukkan bahwa cara berbahasa yang salah
berhubungan erat dengan mental yang sakit pada
masyarakat. Terlebih jika kesalahan serius dalam
berbahasa itu secara intens dilakukan oleh seseorang,
utamanya lagi yang masih dalam tahap perkembangan
sangat menentukan, yakni anak atau remaja. Dan kondisi
mengenaskan inilah yang sedang terjadi pada anak-anak
kita; dalam pergaulan dan terutama terlihat dari SMS
maupun status facebook mereka.
Mari kita ingat kembali ketika Lev Vygotsky, seorang
psikolog yang juga asal Rusia. Ia menunjukkan bahwa
apa pun kecerdasan yang ingin kita bangun, kuncinya
adalah bahasa. Ia juga menunjukkan betapa erat kaitan
antara bahasa dan pemikiran. Penggunaan bahasa
mempengaruhi cara berpikir. Siapa diri kita tercermin dari
bagaimana kita berbahasa. Sebaliknya, cara kita
berbahasa akan berpengaruh besar terhadap diri kita.
Nah, lalu apa yang bisa kita katakan terhadap anak-anak
yang berbahasa alay dan berbicara dengan perkataan
yang tak berguna penuh sampah? Sungguh, tengoklah
status facebook dan SMS mereka. Dan bersiaplah
terkejut dengan apa yang terjadi pada diri mereka.
Khawatirilah apa yang akan terjadi pada diri mereka di
masa-masa mendatang. Astaghfirullah. Laa ilaaha illa
Anta subhanaKa ini kuntu minazh-zhaalimin.
Bukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang
Mereka Kagumi
Cara berbahasa mempengaruhi apa yang berharga dan
apa yang tidak. Sulit bagi seseorang untuk mengagumi
dan menjadikan seseorang yang cara berbahasanya
sangat berbeda ?apalagi bertolak-belakang?sedang
sosok yang ingin mereka tiru, mereka banggakan dan
mereka pelajari kehidupannya. Maka jangan heran jika
mereka lebih terharu-biru oleh Justin Bieber daripada
para shahabat radhiyallahu ?anhum ajma?in. Jangan
terkejut pula jika Rasulullah shallaLlahu ?alaihi wa
sallam justru sosok yang sangat asing bagi mereka.
Ironisnya, anak-anak yang seperti itu justru banyak lahir
dari lembaga-lembaga Islam; sejak jenjang pendidikan
dasar hingga perguruan tinggi.
Apa pengaruhnya? Jika Rasulullah shallaLlahu ?alaihi wa
sallam yang menjadi sosok panutan (role model) yang
mereka banggakan, maka mereka akan berusaha untuk
mempelajari jejak-jejaknya, mengingati kata-katanya dan
mencoba melaksanakan apa yang mereka mampu dalam
hidupnya. Mereka juga bangga terhadap orang yang
meniru sosok panutannya. Itu juga berarti, jika sosok
panutan mereka adalah Justin Bieber atau Lady Gaga,
maka atribut, kata-kata dan segala hal yang berkait
dengan mereka akan mereka buru dengan penuh
kebanggaan. Mereka juga berusaha mengidentifikasikan
diri dengan sosok panutannya.
Na?udzubillahi min dzaalik. Laa haula wa laa quwwata
illa biLlah.
Pacaran Online Pun Terjadi
Maka, jangan terkejut jika anak-anak alumni SDIT yang
masih belajar di SMPIT atau sekolah Islam sejenis justru
amat liar pikirannya. Jangan terkejut juga jika
menemukan anak seorang ustadz asyik pacaran online,
mengungkapkan perasaan yang tidak sepatutnya ia
ungkapkan kepada lawan jenis, apalagi membiarkannya
diketahui oleh orang banyak. Sungguh, kemaksiatan yang
dilakukan secara sembunyi-sembunyi lebih ringan
nilainya dibanding kemaksiatan yang ia umumkan
sendiri.
Ingin sekali berbincang lebih panjang. Tetapi tak tega
rasanya berbicara blak-blakan tentang masalah ini.
Semoga catatan sederhana ini dapat menjadi pengingat
untuk kita semua. Semoga Allah mudahkan kita
menempuh kebaikan. Semoga pula Allah Ta?ala menjaga
iman kita dan anak-anak kita.
Sebelum kita akhiri perbincangan ini, mari sejenak kita
ingat firman Allah ?Azza wa Jalla:
?Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang
seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak
yang lemah, yang mereka khawatir terhadap
(kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah
mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar.? (QS. An-Nisaa?, 4:
9).
Wallahu a?lam bishawab
Ust. Mohammad Fauzil Adhim

Silakan Login untuk menulis komentar.

FORUM TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com