SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Jangan Marah


Alfi Syahrin Kirana
Alfi Syahrin Kirana
9 years ago

Marah antara yang Keterlaluan dan Kelewat Teledor

Menuruti amarah dan melampiaskannya akan menimbulkan akibat fatal, seperti pembunuhan, kezhaliman, ganggan dan pukulan. Akan tetapi meninggalkan marah secara total juga membuahkan hasil yang tidak baik. Tidak dibenarkan menuntut orang supaya meninggalkan marah secara mutlak. Karena hal itu merupakan hal yang mustahil untuk diwujudkan.

Yang paling utama hendaknya seseorang marah secara proporsional.

Yakni jangan sampai melampaui batas dari yang disyari'atkan, atau berlanjut kepada tindakan zhalim, dan hendaknya kemarahan tersebut bukan karena kesombongan, gengsi, ujub dan yang semisalnya.

Terlalu kendornya sifat kemarahan bisa menyebabkan kehilangan penjagaan yang mestinya ada untuk membela nyawa, kehormatan, harta dan agamanya.

Maka barangsiapa yang kehilangan total potensi marah, maka dia menjadi orang yang memiliki banyak kekurangan. Karena dia idak akan memiliki sikap yang tegas ketika menghadapi musibah. Dan dia akan menjadi obyek kezhaliman dan penganiayaan tanpa bisa marah aa melakukan pembelaan.

Tentang hal ini Imam Syafi'i Rahimahllah berkata: "Barangsiapa yang dipancing kemarahannya api tidak marah, maka dia seperi keledai."

Diantara buah kemarahan yang proporsional adalah adanya Ghirah untk membela kehormaan isteri, anak, saudari dan ibu. Sifat ini juga menghilangkan kesan hina dan mencegah gangguan dari orang jahat.

Diantara buah yang lain adalah terhindar dari rendahnya motivasi dan kerdilnya jiwa, juga sebagai sarana untuk melaih diri menuju kemuliaan akhlak.

Sebab tidak akan sempurna latihan jiwa kecuali dengan mengendalikan amarah yang dipacu oleh syahwat dan dia marah kepada dirinya sendiri cenderung kepada syahwat yang hina.

Maka kemarahan yang terpuji adalah marah yang dibimbing oleh akal dan agama, sehingga ia akan menyala disaat dibutuhkan untuk membela dan padam ketika kondisi lebih membutuhkan sifat santun.

ALlah berfirman, ketika mensifati orang-orang mukmin:

"Keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka." (QS. Al-Fath:29) dan Firman-Nya:

"Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersifat keraslah terhadap mereka." (QS.At-aubah:72)

Sifat keras dan tegas ini merupakan pengaruh dari kemarahan yang terpuji di mana seorang mukmin mesti memiliki sifat tersebut.

Adapun kemarahan yang melampaui batas juga tercela. Karena kemarahan seperti ini akan mengeluarkan seseorang dari batas-batas akal dan agama. Marah akan menyebabkan dia seperti orang gila yang tidak memiliki wawasan, tidak memiliki pikiran dan pilihan.

Bahkan karena kemarahan memuncak dia dipaksa seperti orang yang dipaksa hingga tidak kuasa untuk mengendalikan diri sedikitpun. Untuk itulah setiap kali api kemarahan menyala dan menguat maka akan membuat mata orang yang marah itu buta dan telinganya tuli untuk mendengarkan nasehat.

Jika dinasehati dia tidak mau mendengarnya, bahkan semakin meluap kemarahannya. Ketika hendak mengambil faedah dengan cahaya akalnya, akhirnya asap kemarahan akan memadamkan cahaya akalnya secara total.

Kitab Jangan Marah - Divisi Ilmiah Darul Wathan, hal 13-16

Bilal copas yahoogroups

Silakan Login untuk menulis komentar.

FORUM TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com