SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

KITAB BARZANJI, KITAB DAIBA DAN QOSIDAH BURDAH


Ummu Adam Zakariya
Ummu Adam Zakariya
7 years ago

Pertanyaan :



Assalamu'alaikum ana mau tanya apa yang dimaksud dgn KITAB BARZANJI yang suka dibaca oleh kaum muslimin didaerah "Jawa" atau org yang masih mengamalkan ajaran Islam Tradisional? Apakah artinya juga mengandung kesyirikan spt shalawat "nariyah"?

Mohon penjelasan & arti dari kitab itu sendiri? شكرا ​جَزَاك اللهُ خَيْرًا



Jawaban Disusun Di BBG Al Ilmu Oleh Ukhti Ayumi dan Ummu Virenza :



# BARZANJI, KITAB INDUK PERINGATAN MAULID NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM



Oleh Ustadz Abu Ahmad Zainal Abidin



SEPUTAR KITAB BARZANJI

Secara umum peringatan maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam selalu

disemarakkan dengan shalawatan dan puji-pujian kepada Rasulullah Shallallahu

'alaihi wa sallam, yang mereka ambil dari kitab Barzanji maupun Daiba', ada kalanya ditambah dengan senandung qasidah Burdah. Meskipun kitab Barzanji lebih populer di kalangan orang awam daripada yang lainnya, tetapi biasanya kitab Daiba', Barzanji dan Qasidah Burdah dijadikan satu paket untuk meramaikan maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang diawali dengan membaca Daiba', lalu Barzanji, kemudian ditutup dengan Qasidah Burdah. Biasanya kitab Barzanji menjadi kitab induk peringatan maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahkan

sebagian pembacanya lebih tekun membaca kitab Barzanji daripada membaca Al-Qur'an. Maka tidak aneh jika banyak di antara mereka yang lebih hafal kitab Barzanji bersama lagu-lagunya dibanding Al-Quran. Fokus pembahasan dan kritikan terhadap kitab Barzanji ini adalah karena populernya, meskipun penyimpangan kitab Daiba' lebih parah daripada kitab Barzanji. Berikut uraiannya :



Secara umum kandungan kitab Barzanji terbagi menjadi tiga :



1). Cerita tentang perjalanan hidup Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan

satra bahasa tinggi yang terkadang tercemar dengan riwayat-riwayat lemah.



2). Syair-syair pujian dan sanjungan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan bahasa yang sangat indah, namun telah tercemar dengan muatan dan sikap ghuluw (berlebihan).



3). Shalawat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi telah bercampur aduk dengan shalawat bid'ah dan shalawat-shalawat yang tidak berasal dari

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.



PENULIS KITAB BARZANJI

Kitab Barzanji ditulis oleh "Ja'far al-Barjanzi al-Madani, dia adalah khathib di Masjidil Haram dan seorang mufti dari kalangan Syaf'iyyah. Wafat di Madinah pada tahun 1177H/1763 M dan di antara karyanya adalah Kisah Maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

[Al-Munjid fî al A'lâm, 125]



Sebagai seorang penganut paham tasawwuf yang bermadzhab Syiah tentu Ja'far

al-Barjanzi sangat mengkultuskan keluarga, keturunan dan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ini dibuktikan dalam do'anya "Dan berilah taufik kepada apa yang Engkau ridhai pada setiap kondisi bagi para pemimpin dari keturunan az-Zahrâ di bumi Nu'mân".



KESALAHAN UMUM KITAB BARZANJI

Kesalahan kitab Barzanji tidaklah separah kesalahan yang ada pada kitab Daiba'

dan Qasidah Burdah. Namun, penyimpangannya menjadi parah ketika kitab Barzanji dijadikan sebagai bacaan seperti al-Qur'an. Bahkan, dianggap lebih mulia dari

pada Al-Qur'an. Padahal, tidak ada nash syar'I yang memberi jaminan pahala bagi orang yang membaca Barzanji, Daiba' atau Qasidah Burdah. Sementara, membaca Al-Qur'an yang jelas pahalanya, kurang diperhatikan. Bahkan, sebagian mereka lebih sering membaca Barzanji daripada membaca Al-Qur'an apalagi pada saat perayaan maulîd Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Padahal Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:



"Barang siapa membaca satu huruf dari Al-Qur'an maka dia akan mendapatkan satu

kebaikan yang kebaikan tersebut akan dilipatgandakan menjadi 10 pahala. Aku

tidak mengatakan Alif Lâm Mîm satu huruf. Akan tetapi, Alif satu huruf, lam satu huruf mim satu huruf". [HR.Tirmidzi dan dishahihkan al Albani di dalam shahihul jam'i hadits yang ke 6468]



KESALAHAN KHUSUS KITAB BARZANJI

Adapun kesalahan yang paling fatal dalam kitab Barzanji antara lain:



Kesalahan Pertama

Penulis kitab Barzanji meyakini melalui ungkapan syairnya bahwa kedua orangtua

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam termasuk ahlul Iman dan termasuk

orang-orang yang selamat dari neraka bahkan ia mengungkapkan dengan sumpah.



Dan sungguh kedua (orangtuanya) demi Allah Azza wa Jalla termasuk ahli iman dan telah datang dalil dari hadits sebagai bukti-buktinya.

Banyak ahli ilmu yang condong terhadap pendapat ini, maka ucapkanlah salam

karena sesungguhnya Allah Maha Agung.

Dan sesungguhnya Imam al-Asy'ari menetapkan bahwa keduanya selamat menurut nash tibyan (al-Qur'an).

[Lihat Majmûatul Mawâlid Barzanji, hal. 101]



Jelas, yang demikian itu bertentangan dengan hadits dari Anas Radhiyallahu 'anhu bahwa sesungguhnya seorang laki-laki bertanya: "Wahai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, di manakah ayahku (setelah mati)?" Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Dia berada di Neraka." Ketika orang itu pergi, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam memanggilnya dan bersabda: "Sesungguhnya BAPAKKU DAN BAPAKMU berada di Neraka".

[Shahih diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya (348) dan Abu Daud dalam

Sunannya (4718)]



Imam Nawawi rahimahullah berkata:

"Makna hadits ini adalah bahwa barangsiapa

yang mati dalam keadaan kafir, ia kelak berada di Neraka dan tidak berguna

baginya kedekatan kerabat. Begitu juga orang yang mati pada masa fatrah (jahiliyah) dari kalangan orang Arab penyembah berhala, maka ia berada di Neraka. Ini tidak menafikan penyampaian dakwah kepada mereka, karena sudah sampai kepada mereka dakwah Nabi Ibrahim Alaihissalam dan yang lainnya."

[Lihat Minhaj Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi, 3/ 74]



Semua hadits yang menjelaskan tentang dihidupkannya kembali kedua orangtua Nabi

Shallallahu 'alaihi wa sallam dan keduanya beriman serta selamat dari neraka semuanya palsu, diada-adakan secara dusta dan lemah sekali serta tidak ada satupun yang shahih. Para ahli hadits sepakat akan kedhaifannya seperti Daruquthni al-Jauzaqani, Ibnu Syahin, al-Khathîb, Ibnu Ashâkir, Ibnu Nashr, Ibnul Jauzi, as-Suhaili, al-Qurthubi, at-Thabari dan Fathuddin Ibnu Sayyidin Nas.

[Aunul Ma'bûd, Abu Thayyib (12/ 324)]



Adapun anggapan bahwa Imam al-Asyari yang berpendapat bahwa kedua orangtua Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam beriman, harus dibuktikan kebenarannya. Memang

benar, Imam as-Suyuthi rahimahullah berpendapat bahwa kedua orangtua Nabi

Shallallahu 'alaihi wa sallam beriman dan selamat dari neraka, namun hal ini

menyelisihi para hafidz dan para ulama peneliti hadits. [Aunul Ma'bud, Abu Thayyib (12/ 324)]



-----------------------



##Dari Artikel Almanhaj.Or.Id



Kitab ini mengandung sejarah dan perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam secara singkat mulai sejak beliau lahir, diangkat menjadi Rasul, peristiwa hijrah dan pada peperangan hingga wafat beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun, dalam penyajiannya dipenuhi dengan lafadz-lafadz ghuluw (berlebihan, pent-) dan pujian-pujian yang melampaui batas kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, terlebih ketika dibacakan masa-masa menjelang kelahiran beliau. Disebutkan bahwasanya binatang melata milik orang Quraisy sibuk memperbincangkan kelahiran beliau dengan bahasa Arab yang fasih', bahwa Asiah, Maryam binti Imran dan bidadari-bidadari dari surga mendatangi ibu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yakni Aminah menjelang kelahiran beliau, tanaman yang dulu kering, menjadi tumbuh dan bersemi kembali setelah beliau lahir dan masih banyak lagi kemungkaran dalan barzanji ini, bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam diberikan sebagian hak rububiyah yang tidak layak diberikan kecuali hanya kepada Allah semata. Semua ini muncul karena sikap ghuluw atau ifrath dari kelompok yang mengaku cinta kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Padahal, sikap ghuluw adalah sikap yang tercela dalam agama Islam dan merupakan sebab penyimpangan dan jauhnya kaum Muslimin dari kebenaran yang sebelumnya telah menghancurkan umat pendahulu kita.



Selengkapnya :

http://almanhaj.or.id/content/2584/slash/0/mengapa-harus-barzanji/
Silakan Login untuk menulis komentar.
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com