SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

HUKUM MENGUNJUNGI TEMPAT BERSEJARAH KENABIAN


Feby ummu maryam
Feby ummu maryam
7 years ago

Bismillah


Pertanyaan:
Bagaimana hukum mengunjungi tempat-tempat
bersejarah kenabian seperti gua Hira atau
gunung Uhud atau semacamnya?


Jawaban:
Syaikh Alwi bin Abdul Qadir Assegaf *) -
hafizhahullah- menjawab:

Mengunjungi tempat-tempat demikian dalam
rangka ibadah dan taqarrub adalah bid’ah yang
terlarang. Tidak terdapat dalil bahwa Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam melakukan hal
tersebut (yaitu mengunjungi tempat bersejarah
Nabi-Nabi sebelumnya dalam rangka ibadah,
pent). Dan para sahabat pun tidak pernah
melakukan hal tersebut (yaitu mengunjungi
tempat bersejarah Rasulullah sebelumnya dalam
rangka ibadah, pent).

Padahal para sahabat
adalah orang-orang yang paling memahami
sunnah dan paling paham agama. Dan mereka
paling taat kepada Allah Ta’ala. Dan dalam hadits
dikatakan:
ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ

“Barang siapa yang mengada-adakan ibadah
baru dalam urusan agama kami ini, yang tidak
ada tuntunannya, ibadah tersebut
tertolak” (Muttafaqun ‘alaih)

Adapun kalau bukan dalam rangka ibadah dan
taqarrub, misalnya sebagai program belajar agar
dapat lebih memahami sejarah peperangan dan
peristiwa sejarah atau semacamnya,
sebagaimana dilakukan oleh sebagian guru-guru,
yang demikian tidak mengapa. Karena aktifitas
yang non-ibadah hukum asalnya boleh,
sedangkan aktifitas ibadah hukum asalnya
haram.

Namun kebolehan tersebut dengan
beberapa syarat:
1. Tidak sampai ber-safar. Berdasarkan
hadis:
ﻻ ﺗﺸﺪﻭﺍ ﺍﻟﺮﺣﺎﻝ ﺇﻻ ﺇﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﻣﺴﺎﺟﺪ

“Tidak boleh melakukan perjalanan
kecuali kepada tiga masjid“
2. Tidak dilakukan diwaktu tertentu dan tata
cara tentu yang mirip ibadah
3. Tidak bersengaja mengerjakan ibadah di
sana, seperti shalat, dzikir, doa atau
tabarruk.
4. Mengingkari kemungkaran, jika ada,
dengan tangan atau lisan, namun sesuai
tuntunan syariat. Jika tidak mampu, wajib
baginya untuk mengingkari dengan hati
lalu menjauhi tempat itu, namun ini
merupakan iman yang paling lemah.

Tidak adanya riwayat yang menyatakan bahwa
para sahabat tidak mengunjungi tempat-tempat
tersebut tidak menunjukkan hukumnya
terlarang. Hukumnya terlarang hanya jika dalam
rangka ibadah saja.
Ada yang mengatakan bahwa mengunjungi
tempat-tempat tersebut merupakan jalan
menuju kesyirikan. Saya jawab, kalau hanya
sekedar mengunjungi tentu bukan jalan menuju
kesyirikan. Kecuali jika dibuat sedemikian rupa
sehingga tempat-tempat tersebut menjadi
tempat rekreasi yang dikunjungi orang dengan
berombongan, dan mereka memiliki niat-niat
tertentu, akhirnya jadilah tempat-tempat ini
menjadi objek wisata. Ini saja yang perlu di
cegah. Jadi, jika direnungkan secara
mendalam, berbeda antara perkara yang
pertama dan kedua.

Wallahu’alam.
Sumber: http://www.dorar.net/art/311
*) Beliau adalah pengasuh web Ad Durar As
Saniyah

Sumber ustadz Yulian Purnama Kangaswad.wordpress.com

Silakan Login untuk menulis komentar.

FORUM TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com