SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Dusta dan Pengecualiannya


Feby ummu maryam
Feby ummu maryam
7 years ago

Bismillah

Pertanyaan:
Apa saya kategori dusta yang berbuah dosa?
Bagaimana jika tidak bermaksud untuk dusta?
Syaikh Muhammad Ali Farkus menjawab:
ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ
ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺃﺭﺳﻠﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﺣﻤﺔ ﻟﻠﻌﺎﻟﻤﻴﻦ، ﻭﻋﻠﻰ
ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺇﺧﻮﺍﻧﻪ ﺇﻟﻰ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ، ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ
Hukum asal berdusta adalah haram,
berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam:
ﺇﻳﺎﻛﻢ ﻭﺍﻟﻜﺬﺏ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻬﺪﻱ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻔﺠﻮﺭ ﻭﺇﻥ
ﺍﻟﻔﺠﻮﺭ ﻳﻬﺪﻱ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻨﺎﺭ، ﻭﻣﺎ ﻳﺰﺍﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ
ﻳﻜﺬﺏ ﻭﻳﺘﺤﺮﻯ ﺍﻟﻜﺬﺏ ﺣﺘﻰ ﻳﻜﺘﺐ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ
ﻛﺬﺍﺑﺎ
“Jauhilah dusta karena dusta itu menyeret
pada kefajiran dan kefajiran itu menyeret ke
neraka. Dan tidaklah seserang berdusta dan
biasa berdusta hingga ia dicap sebagai
pendusta” (HR. Muslim 6803, At Tirmidzi 2099)
Dusta diharamkan karena di dalamnya
terdapat bahaya bagi lawan bicara atau juga
bagi selainnya. Namun jika berdusta terkait
sebuah maslahah syar’iyyah, hukumnya boleh.
Misalnya ketika sedang perang dan tidak
tercapai tujuannya kecuali dengan dusta, atau
ketika mendamaikan dua orang yang berselisih
untuk mengambil hati salah satunya, atau
ketika suami-istri terancam kerukunannya
kecuali dengan dusta. Berdasarkan sabda Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam:
ﻻ ﻳﺤﻞ ﺍﻟﻜﺬﺏ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺛﻼﺙ: ﻳﺤﺪﺙ ﺍﻟﺮﺟﻞ
ﺍﻣﺮﺃﺗﻪ ﻟﻴﺮﺿﻴﻬﺎ، ﻭﺍﻟﻜﺬﺏ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺮﺏ ﻭﺍﻟﻜﺬﺏ
ﻟﻴﺼﻠﺢ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ”
“Tidak halal berdusta kecuali pada 3 hal:
seorang suami berbicara kepada istrinya
supaya ia ridha, atau berdusta ketika perang,
atau untuk mendamaikan orang yang
berselisih” (HR. At Tirmidzi 1939, Ahmad
27050, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al
Jami’ 7723)
Karena pembolehkan dusta ini sebatas pada
hal yang darurat, maka tidak boleh bermudah-
mudah dalam hal yang sebenarnya tidak perlu
berdusta. Tsauban maula Rasulullah berkata:
ﺍﻟﻜﺬﺏ ﻛﻠﻪ ﺇﺛﻢ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻧﻔﻊ ﺑﻪ ﻣﺴﻠﻤﺎ ﺃﻭ ﺩﻓﻊ
ﻋﻨﻪ ﺿﺮﺭﺍ
“Dusta itu semuanya dosa kecuali yang
bermanfaat bagi (agama) seorang muslim atau
yang menjauhkannya dari bahaya” (HR. Ar
Ruyani 24/126/2, Al Bazzar 2061, secara
marfu’. Didha’ifkan oleh Al Albani dalam Silsilah
Ash Shahihah 5/192, dan yang benar hadits ini
mauquf[1])
Oleh karena itu, jika memungkinkan, seseorang
mencapai sebuah manfaat atau mencegah
sebuah bahaya dengan mu’aridh[2].
Sebagaimana perkataan:
ﺇﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﺎﺭﻳﺾ ﻣﻨﺪﻭﺣﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﻜﺬﺏ
“Mu’aridh adalah alternatif dari dusta”
Perkataan ini dikatakan oleh para salaf.

[1] Artinya perkataan ini hanya perkataan
Tsauban, bukan sabda Nabi Shallallahu’alahi
Wasallam.
[2] Mu’aridh artinya mengatakan sesuatu yang
multitafsir, dengan mengatakannya tidak
secara lugas dan tegas. Misalnya ketika ditanya
pemalak “Kamu punya duit engga?”, kita
jawab “Didompet saya tidak ada uang”.
Padahal di tas kita ada uang.

Sumber: http://www.ferkous.com/site/rep/
Bq7.php

Sumber: Ustadz Yuli
kangaswad.wordpress.com/

Silakan Login untuk menulis komentar.
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com