SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Pinjam Modal ke Bank



7 years ago

Tanya:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Kalo pinjam modal ke bank itu hukumnya bagaimana ?

Para ulama telah menegaskan hukum keuntungan yang didapat dari piutang, melalui sebuah kaidah yang sangat masyhur dalam ilmu fikih, yaitu,
“Setiap piutang yang mendatangkan kemanfaatan/keuntungan maka itu adalah riba.”

Keuntungan dari piutang yang diharamkan adalah keuntungan yang diberikan berdasarkan kesepakatan di dalamnya. Jika pihak peminjam memberikan tambahan kepada pemberi pinjaman tanpa kesepakatan sebelumnya (dan tanpa tuntutan dari pihak pemberi pinjaman), maka hal ini tidak mengapa, karena hal tersebut merupakan bentuk pembayaran utang yang bagus.

Jabir radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang memberikan/membayar riba (nasabah), penulisnya (sekretarisnya), dan juga dua orang saksinya. Beliau juga bersabda, ‘Mereka itu sama dalam hal dosanya.’” (H.R. Muslim)

Mungkin, ada yang berpendapat, ketika seseorang meminjam uang di bank syariat maka sebenarnya dia tidak melakukan transaksi utang-piutang, namun dia melakukan transaksi MUDHARABAH atau "BAGI HASIL".
Perlu ditanyakan, jenis transaksi apa yang dilakukan tersebut? Jika memang transaksi yang dilakukan adalah transaksi "bagi hasil" maka TIDAK MENGAPA. Namun, jika ternyata pada hakikatnya yang dia lakukan adalah TRANSAKSI UTANG-PIUTANG, maka setiap keuntungan yang dihasilkan dari piutang adalah RIBA.

Nah, untuk membedakan antara transaksi utang-piutang dengan transaksi bagi hasil, bisa dicermati dengan dua hal di bawah ini:

1.Jika bank yang mendatangkan barang, itu adalah perniagaan biasa. Akan tetapi, bila nasabah yang mendatangkan barang maka itu berarti akad utang-piutang.
2.Bila bank tidak bersedia bertanggung jawab atas setiap komplain terhadap barang yang diperoleh nasabah melalui akad itu (ketika terdapat kerusakan atau pun cacat pada barang), akad yang terjadi adalah utang-piutang. Akan tetapi, bila bank bertanggung jawab atas kerusakan pada barang yang didapatkan nasabah melalui akad itu, berarti akad itu adalah akad perniagaan biasa dan insya Allah halal.

Dua kaidah ini berlaku pada bank konvensional dan bank syariat. Dengan demikian, boleh atau tidaknya meminjam uang di bank, baik bank konvensional maupun bank syariat, TERGANTUNG PADA BENTUK TRANSAKSI yang dilakukan nasabah dengan bank. Namun, mayoritas bank melakukan transaksi utang-piutang, bukan bagi hasil.
Wallahu a’lam.

Sumber: Pengusahamuslim.com

Silakan Login untuk menulis komentar.
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com