SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Akikah Ketika Sudah Dewasa, Kewajiban Orangtua atau Diri Sendiri?


Feby ummu maryam
Feby ummu maryam
9 years ago

Bismillah, Assalamau’alaikum Warahmatullah
Wabarakatuh. Ustadz, saya mau bertanya mengenai
Akikah. Apabila sewaktu kecil belum diakikahi, apakah setelahbbesar harus diakikahkan juga?
Bagaimana hukumnya jika akikah tersebut dilakukan ketika telah dewasa??
Terimakasih atas jawabanya.
Nafeesa

Wa ‘alaikumussalam
Akikah Untuk Diri Sendiri Setelah Dewasa

Bismillah
Pertama, akikah hukumnya sunah muakkad
(ditekankan) menurut pendapat yang lebih kuat. Dan
yang mendapatkan perintah adalah bapak. Karena itu, tidak wajib bagi ibunya atau anak yang diakikahi untuk menunaikannya.

Jika Akikah belum ditunaikan, sunah akikah tidak
gugur, meskipun si anak sudah balig. Apabila seorang bapak sudah mampu untuk melaksanakan akikah, maka dia dianjurkan untuk memberikan akikah bagi anaknya yang belum diakikahi tersebut.
Kedua, jika ada anak yang belum diakikahi bapaknya, apakah si anak dibolehkan untuk mengakikahi diri sendiri?

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.
Pendapat yang lebih kuat, dia dianjurkan untuk
melakukan akikah.
Ibnu Qudamah mengatakan, “Jika dia belum diakikahi sama sekali, kemudian balig dan telah bekerja, maka dia tidak wajib untuk mengakikahi dirinya sendiri.”

Imam Ahmad ditanya tentang masalah ini, ia
menjawab, “Itu adalah kewajiban orang tua, artinya
tidak wajib mengakikahi diri sendiri. Karena yang lebih sesuai sunah adalah dibebankan kepada orang lain (bapak). Sementara Imam Atha dan Hasan Al-Bashri mengatakan, “Dia boleh mengakikahi diri sendiri, karena akikah itu dianjurkan baginya, dan dia
tergadaikan dengan akikahnya. Karena itu, dia
dianjurkan untuk membebaskan dirinya.”

Sementara menurut pendapat kami, akikah
disyariatkan untuk dilakukan bapak. Oleh karena itu,
orang lain tidak perlu menggantikannya….” (Al-Mughni, 9:364).

Ibnul Qayim mengatakan, “Bab, hukum untuk orang
yang belum diakikahi bapaknya, apakah dia boleh
mengakikahi diri sendiri setelah balig?” Al-Khalal
mengatakan, “Anjuran bagi orang yang belum
diakikahi di waktu kecil, agar mengakikahi diri sendiri
setelah dewasa.” Kemudian ia menyebutkan
kumpulan tanya jawab dengan Imam Ahmad dari
Ismail bin Sa’id Al-Syalinji, ia mengatakan, “Saya
betranya kepada Ahmad tentang orang yang diberi
tahu bapaknya bahwa dia belum diakikahi. Bolehkah
mengakikahi diri sendiri?” Imam Ahmad menjawab,
“Itu adalah kewajiban bapak.” Dalam kitab Al-Masail
karya Al-Maimuni, ia bertanya kepada Imam Ahmad,
“Jika orang belum diakikahi, apakah boleh dia akikah
untuk diri sendiri ketika dewasa?” Kemudian ia
menyebutkan riwayat akikah untuk orang dewasa dan ia dhaifkan. Saya melihat bahwasanya Imam Ahmad menganggap baik, jika belum diakikahi waktu kecil agar melakukan akikah setelah dewasa.

Imam Ahmad mengatakan, “Jika ada orang yang melaksanakannya, saya tidak membencinya.”
Abdul Malik pernah bertanya kepada Imam Ahmad,
“Bolehkah dia berakikah ketika dewasa?” Ia
menjawab, “Saya belum pernah mendengar hadis
tentang akikah ketika dewasa sama sekali.” Abdul
Malik bertanya lagi, “Dulu bapaknya tidak punya,
kemudian setelah kaya, dia tidak ingin membiarkan
anaknya sampai dia akikahi?” Imam Ahmad
menjawab, “Saya tidak tahu. Saya belum mendengar hadis tentang akikah ketika dewasa sama sekali.”

kemudian Imam Ahmad mengatakan, “Siapa yang
melakukannya maka itu baik, dan ada sebagian ulama yang mewajibkannya.” (Tuhfatul maudud, Hal. 87 – 88)

Setelah membawakan keterangan di atas, Syekh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan, “Pendapat pertama yang lebih utama, yaitu dianjurkan untuk melakukan akikah untuk diri sendiri. Karena akikah sunah yang sangat ditekankan. Bilamana orang tua anak tidak
melaksanakannya, disyariatkan untuk melaksanakan
akikah tersebut jika telah mampu. Ini berdasarkan
keumuman banyak hadis, diantaranya, sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam :
ﻛﻞ ﻏﻼﻡ ﻣﺮﺗﻬﻦ ﺑﻌﻘﻴﻘﺘﻪ ﺗﺬﺑﺢ ﻋﻨﻪ ﻳﻮﻡ
ﺳﺎﺑﻌﻪ ﻭﻳﺤﻠﻖ ﻭﻳﺴﻤﻰ
“Setiap anak tergadaikan dengan akikahnya,
disembelih pada hari ketujuh, dicukur, dan diberi
nama.”

Diriwayatkan Imam Ahamd, Nasa’i, Abu Daud,
Turmudzi, dan Ibn Majah, dari Samurah bin Jundub
radliallahu ‘anhu dengan sanad yang shahih.
Termasuk juga hadis Ummu Kurzin, bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk
memberikan akikah bagi anak laki-laki dua kambing
dan anak perempuan dengan satu kambing. Hadis ini diriwayatkan Imam Ahamd, Nasa’i, Abu Daud,
Turmudzi, dan Ibn Majah. Demikian pula Tirmudzi
meriwayatkan yang semisal dari Aisyah. Dan ini tidak
hanya ditujukan kepada bapak, sehingga mencakup
anak, ibu, atau yang lainnya, yang masih kerabat bayi tersebut.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 26:266)

Referensi: http://www.islamqa.com/ar/ref/96462
Sumber: konsultasisyariah.com

Silakan Login untuk menulis komentar.

FORUM TERKAIT

© 2022 - Www.SalamDakwah.Com