SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Apa Hukumnya jika Tidak Menikah Sampai Akhir Hayat?


Feby ummu maryam
Feby ummu maryam
7 years ago

Pertanyaan:
هُ .. Apa hukumnya pria atau wanita yang tidak menikah sampai akhir hayatnya??‎​

Jawaban:

Bismillah. Hukumnya tergantung pada sebab atau alasan mereka tidak menikah.
Jika sebab/alasannya karena memang mereka sdh berjuang sekuat tenaga mencari jodoh kesana-kemari, n dengan minta bantuan banyak orang utk mencarikan n menghubungkannya dengan calon pendamping hidup, namun belum jg mendapatkannya hingga ajal menjemput mereka, maka mereka tidak berdosa, n bahkan mendapatkan pahala spt orang yg menikah dengan niat mereka yg jujur n sungguh2 ingin mengamalkan sunnah Rasul shallallahu alaihi wasallam. Mereka tidak mendapatkan jodoh karena memang takdir Allah telah menetapkan demikian.

Demikian pula, mereka yg tidak sempat menikah hingga meninggal dunia dikarenakan tidak punya waktu utk menikah, spt sbgn ulama hadits yg hari2nya habis utk melakukan rihlah (perjalanan) dlm mencari hadits n mengkaji ilmu, mereka berpindah2 dr 1 negeri ke negeri yg lain, smntra sarana transportasi pd zaman mereka tdk secanggih transportasi di zaman kita ini, maka orang2 spt mereka ini tidaklah berdosa krn tidak menikah hingga akhir hayat.

Demikian pula, tidak berdosa orang2 yg tidak menikah hingga akhir hayat dikarenakan penyakit atau cacat permanen yg menimpa mereka, spt tidak punya syahwat, atau tidak punya kelamin yg normal yg dengannya mampu melakukan jima', spt terkena penyakit impoten atau alat kelaminnya terputus akibat kecelakaan atau bawaan dr lahir, dsb.

Adapun orang2 yg tidak menikah dengan alasan ingin bertaqorrub kpd Allah dengan membujang hingga akhir hayat pdhal mereka punya kemampuan nafkah lahir n nafkah batin, maka mereka berdosa, karena tlh menyelisihi tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sbgmn disebutkan di dlm hadits berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ : أَنَّ نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلُوا أَزْوَاجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ سَرِيرَتِهِ فِي الْبَيْتِ ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ : لا أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ : لا آكُلُ اللَّحْمَ ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ : لا أَنَامُ عَلَى فِرَاشِي ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ : أَصُومُ وَلا أُفْطِرُ . قَالَ أَبُو دَاوُدَ : فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَامَ خَطِيبًا وَقَالَ : فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ : أَمَّا بَعْدُ " مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا ، لَكِنِّي أَصُومُ ، وَأُفْطِرُ ، وَأَنَامُ ، وَأُصَلِّي ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي " (اللَّفْظُ لأَبِي دَاوُدَ)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, bahwa ia berkata: "Ada beberapa sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menanyakan kpd istri-istri Nabi shallallahu alaihi wasallam perihal ibadah beliau di rumah. Lalu sebagian mereka berkata; saya tidak akan menikah, sebagian lagi berkata; saya tidak akan makan daging, sebagian yg lain berkata; saya tidak akan tidur di atas kasur (tempat tidurku), n sbgn yg lain berkata; say akan terus berpuasa dan tidak berbuka.

Abu Daud (perowi n pentakhrij hadits) berkata; Berita ini sampai kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam, hingga (Beliau Shallallahu alaihi wasallam) berdiri utk berkhutbah seraya bersabda setelah memanjatkan puja-puji syukur kepada Allah: “Bagaimanakah keadaan suatu kaum yang mengatakan demikian dan demikian? Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku juga menikahi perempuan. Maka barangsiapa yang membenci sunnah (tuntunan)ku maka ia tidak termasuk golonganku."

Dan disebutkan di dalam riwayat lain:

 عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَت : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُهُمْ بِمَا يُطِيقُونَ ، فَيَقُولُونَ : إِنَّا لَسْنَا كَهَيْئَتِكَ ، قَدْ غَفَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ، فَيَغْضَبُ حَتَّى يُرَى ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ ، قَالَ : ثُمَّ يَقُولُ : " وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُكُمْ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَأَتْقَاكُمْ لَهُ قَلْبًا "

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memerintahkan mereka dengan apa yang mereka mampui.” Sehingga mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami tidak seperti engkau. Sebab Allah 'Azza WaJalla telah mengampuni dosa-dosa engkau yang telah lalu dan yang akan datang.”

Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam marah hingga terlihat dari raut wajahnya. Dia berkata; Kemudian beliau bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya saya adalah orang yang paling tahu tentang Allah dan paling bertakwa di antara kalian.”
(HR. Imam Al-Bukhari no.5063 kitab an-Nikaah, Muslim no.1401 kitab an-Nikaah, an-Nasa-i no.3217 kitab an-Nikaah, n Ahmad no.23763).

Dan diriwayatkan dari Samuroh radhiyallahu anhu, ia berkata: (anna an-Nabiyya shallallahu alaihi wasallam naha 'an at-tabattul) artinya: "Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang dari membujang (dengan niat ibadah kpd Allah, pent)."

Jadi kesimpulannya, Laki-laki n wanita yg tidak menikah hingga meninggal dunia dianggap telah berbuat dosa atau tidak tergantung pada niat n sebab (alasan)nya sbgmn yg telah kami jelaskan di atas.

Demikian jawaban yg dpt kami sampaikan. Smg mnjadi ilmu yg bermanfaat. Wallahu a'lam bish-showab. Wabillahi at-taufiq.

Sumber: Ustadz Washito
BBG Al Ilmu

Silakan Login untuk menulis komentar.
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com