SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Tabur Bunga di Kubur


Feby ummu maryam
Feby ummu maryam
7 years ago

Pertanyaan:

1. Apa hukumnya bila kita menaburkan bunga di

atas kuburan sementera kita tidak ada niat

untuk syirik kepada allah melainkan hanya untuk

mengharumkan kuburan tersebut dan sekitarnya.

2. Kita masuk kubur dengan memakai sandal

bagaimana hukumnya,



Demikian pertanyaan kita terima kasih.

Hasanuddin (fispra_bappXXXXXXX@yahoo.com)



Penjelasan tabur bunga di kubur.

Perbuatan ini sering dilakukan oleh para peziarah

kubur. Kami tidak menemukan satu pun riwayat

valid yang menunjukkan bahwa rasulullah

shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya

melakukan hal yang serupa ketika menziarahi

suatu kubur.



Berdasarkan keterangan para ulama, perbuatan

ini merupakan tradisi yang diambil dari orang-

orang kafir, khususnya kaum Nasrani. Tradisi

tebar bunga dipandang sebagai bentuk

penghormatan terhadap orang yang telah wafat.



Tradisi tersebut kemudian diserap dan

dipraktekkan oleh sebagian kaum muslimin yang

memiliki hubungan erat dengan orang-orang

kafir, karena memandang perbuatan mereka

merupakan salah satu bentuk kebaikan terhadap

orang yang telah wafat.



Seorang ulama hadits Mesir, Syaikh Ahmad Syakir

rahimahullah mengatakan, “Perbuatan ini

digalakkan oleh kebanyakan orang, padahal hal

tersebut tidak memiliki sandaran dalam agama.

Hal ini dilatarbelakangi oleh sikap berlebih-lebihan

dan sikap mengekor kaum Nasrani. Apa yang

terjadi, khususnya di negeri Mesir merupakan

contoh dari hal ini. Orang Mesir pun melakukan

tradisi tebar bunga di atas pusara atau saling

menghadiahkan bunga sesama mereka. Orang-

orang meletakkan bunga di atas pusara kerabat

atau kolega mereka sebagai bentuk

penghormatan kepada mereka yang telah wafat.”



Beliau melanjutkan, “Oleh karena itu, apabila para

tokoh muslim mengunjungi sebagian negeri

Eropa, anda dapat menyaksikan mereka

menziarahi pekuburan para tokoh di negeri

tersebut atau ke pekuburan para pejuang tanpa

nama kemudian melakukan tradisi tebar bunga,

sebagian lagi meletakkan bunga imitasi karena

mengekor Inggris dan mengikuti tuntunan hidup

kaum terdahulu.” Lalu di akhir perkataan, beliau

menyatakan, “Semua ini adalah perbuatan bid’ah

dan kemungkaran yang tidak berasal dari agama

Islam, tidak pula memiliki sandaran dari Al quran

dan sunnah nabi. Dan kewajiban para ulama

adalah mengingkari dan melarang segala tradisi

ini sesuai kemampuan mereka.” (Ta’liq Ahmad

Syakir terhadap Sunan At Tirmidzi 1/103, dinukil

dari Ahkaamul Janaaizhal. 254).



Oleh karena itu, tradisi yang banyak dilakukan

oleh kaum muslimin ini tercakup dalam larangan

nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak

mengekor kebudayaan khas kaum kafir

sebagaimana yang termaktub dalam sabda Beliau

shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ﻭﻣﻦ ﺗﺸﺒﻪ ﺑﻘﻮﻡ ﻓﻬﻮ ﻣﻨﻬﻢ



“Barangsiapa menyerupai suatu kaum ,maka ia

termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad nomor

5114, 5115 dan 5667; Sa’id bin Manshur dalam

Sunannya nomor 2370; Ibnu Abi Syaibah dalam

Mushannaf-nya: 19401, 19437 dan 33010. Al

‘Allamah Al Albani menghasankan hadits ini

dalam Al Irwa’ 5/109).

Ibnu ‘Abdil Barr Al Maliki rahimahullah

mengatakan, “(Maksudnya orang yang

menyerupai suatu kaum) akan dikumpulkan

bersama mereka di hari kiamat kelak. Dan bentuk

penyerupaan bisa dengan meniru perbuatan

yang dilakukan oleh kaum tersebut atau dengan

meniru rupa mereka.” (At Tamhid lima fil

Muwaththa minal Ma’ani wal Asaanid 6/80).



Sebagian kaum muslimin menganalogikan tradisi

tabur bunga ini dengan perbuatan Nabi

shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menancapkan

pelepah kurma basah pada dua buah kubur

sebagaimana yang terdapat dalam hadits

‘Abdullah bin ‘Abbas radliallahu ‘anhuma. (H.r.

Bukhari: 8 dan Muslim: 111). Mereka

beranggapan bahwa pelepah kurma atau bunga

yang diletakkan di atas pusara akan meringankan

adzab penghuninya, karena pelepah kurma atau

bunga tersebut akan bertasbih kepada Allah

selama dalam keadaan basah.

Anggapan mereka tersebut tertolak dengan

beberapa alasan sebagai berikut:



Alasan pertama, keringanan adzab kubur yang

dialami kedua penghuni kubur tersebut adalah

disebabkan doa dan syafa’at Nabi shallallahu

‘alaihi wa sallam kepada mereka, bukan pelepah

kurma tersebut. Hal ini dapat diketahui jika kita

melihat riwayat Jabir bin ‘Abdillah radliallahu

‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇﻧﻲ ﻣﺮﺭﺕ ﺑﻘﺒﺮﻳﻦ ﻳﻌﺬﺑﺎﻥ ﻓﺄﺣﺒﺒﺖ

ﺑﺸﻔﺎﻋﺘﻲ ﺃﻥ ﻳﺮﻓﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻣﺎ ﺩﺍﻡ

ﺍﻟﻐﺼﻨﺎﻥ ﺭﻃﺒﻴﻦ

“Saya melewati dua buah kubur yang

penghuninya tengah diadzab. Saya berharap

adzab keduanya dapat diringankan dengan

syafa’atku selama kedua belahan pelepah

tersebut masih basah.” (H.r. Muslim: 3012).

Hadits Jabir di atas menerangkan bahwa yang

meringankan adzab kedua penghuni kubur

tersebut adalah doa dan syafa’at nabi shallallahu

‘alaihi wa sallam , bukan pelepah kurma yang

basah.



Alasan kedua, anggapan bahwa pelepah kurma

atau bunga akan bertasbih kepada Allah selama

dalam keadaan basah sehingga mampu

meringankan adzab penghuni kubur

bertentangan dengan firman Allah Ta’ala,

ﺗﺴﺒﺢ ﻟﻪ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ ﺍﻟﺴﺒﻊ ﻭﺍﻷﺭﺽ

ﻭﻣﻦ ﻓﻴﻬﻦ ﻭﺇﻥ ﻣﻦ ﺷﻲﺀ ﺇﻻ ﻳﺴﺒﺢ

ﺑﺤﻤﺪﻩ ﻭﻟﻜﻦ ﻻ ﺗﻔﻘﻬﻮﻥ ﺗﺴﺒﻴﺤﻬﻢ ﺇﻧﻪ

ﻛﺎﻥ ﺣﻠﻴﻤﺎ ﻏﻔﻮﺭﺍ )٤٤(



“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di

dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada

suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-

Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih

mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha

Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Q.s. Al Israa:

44).

Makhluk hidup senantiasa bertasbih kepada Allah,

begitupula pelepah kurma. Tidak terdapat bukti

yang menunjukkan bahwa pelepah kurma atau

bunga akan berhenti bertasbih jika dalam

keadaan kering.



Alasan ketiga, perbuatan nabi shallallahu ‘alaihi

wa sallam tersebut bersifat kasuistik (waqi’ah

al-’ain) dan termasuk kekhususan beliau sehingga

tidak bisa dianalogikan atau ditiru. Hal ini

dikarenakan beliau tidak melakukan hal yang

serupa pada kubur-kubur yang lain. Begitu pula

para sahabat tidak pernah melakukannya, kecuali

sahabat Buraidah yang berwasiat agar pelepah

kurma diletakkan di dalam kuburnya bersama

dengan jasadnya. Namun, perbuatan beliau ini

hanya didasari oleh ijtihad beliau semata.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

“Perbuatan Buraidah tersebut seakan-akan

menunjukkan bahwa beliau menerapkan hadits

tersebut berdasarkan keumumannya dan tidak

beranggapan bahwa hal tersebut hanya

dikhususkan bagi kedua penghuni kubur

tersebut. Ibnu Rusyaid berkata, “Apa yang

dilakukan oleh Al Bukhari menunjukkan bahwa

hal tersebut hanya khusus bagi kedua penghuni

kubur tersebut, oleh karena itu Al Bukhari

mengomentari perbuatan Buraidah tersebut

dengan membawakan perkataan Ibnu ‘Umar,

Sesungguhnya seorang (di alam kubur) hanya

akan dinaungi oleh hasil amalnya (di dunia dan

bukan pelepah kurma yang diletakkan di

kuburnya).” (Fathul Baari 3/223).

Selain itu, pelepah kurma tersebut ditaruh

bersama dengan jasad beliau, bukan diletakkan di

atas pusara beliau.



Alasan keempat, alasan lain yang membatalkan

analogi mereka dan menguatkan bahwa

perbuatan Nabi tersebut merupakan kekhususan

beliau adalah pengetahuan Nabi shallallahu ‘alaihi

wa sallam bahwa kedua penghuni kubur tersebut

tengah diadzab. Hal ini merupakan perkara gaib

yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala dan para

rasul yang diberi keistimewaan oleh-Nya sehingga

mampu mengetahui beberapa perkara gaib

dengan wahyu yang diturunkan kepadanya. Allah

berfirman,

ﻋﺎﻟﻢ ﺍﻟﻐﻴﺐ ﻓﻼ ﻳﻈﻬﺮ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺒﻪ ﺃﺣﺪﺍ

)٢٦(ﺇﻻ ﻣﻦ ﺍﺭﺗﻀﻰ ﻣﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﻓﺈﻧﻪ

ﻳﺴﻠﻚ ﻣﻦ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻳﻪ ﻭﻣﻦ ﺧﻠﻔﻪ ﺭﺻﺪﺍ

)٢٧(

“(Dia adalah Rabb) yang mengetahui yang ghaib,

maka Dia tidak memperlihatkan kepada

seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali

kepada rasul yang diridhai-Nya.” (Q.s. Al Jinn:

26-27).



Kalangan yang menganalogikan tradisi tebar

bunga dengan perbuatan nabi tersebut telah

mengklaim bahwa mereka mengetahui perkara

gaib. Mereka mengklaim mengetahui bahwa

penghuni kubur sedang diadzab sehingga

pusaranya perlu untuk ditaburi bunga. Sungguh

ini klaim tanpa bukti, tidak dilandasi ilmu dan

termasuk menerka-nerka perkara gaib yang

dilarang oleh agama.



Alasan kelima, hal ini mengandung sindiran dan

celaan kepada penghuni kubur, karena jika alasan

mereka demikian, hal tersebut merupakan salah

satu bentuk berburuk sangka (su’uzh zhan)

kepada penghuni kubur karena menganggapnya

sebagai pelaku maksiat yang tengah diadzab oleh

Allah di dalam kuburnya sebagai balasan atas

perbuatannya di dunia. (Rangkuman faidah ini

kami ambil dari Ahkaamul Janaa-iz, Taisirul ‘Allam

dan uraian dari ustadzuna tercinta, Abu Umamah

hafizhahullah ta’ala saat mengkaji kitab ‘Umdatul

Ahkam).



Berdasarkan keterangan di atas, kita dapat

mengetahui bahwa tradisi ini selayaknya

ditinggalkan dan tidak perlu dilakukan ketika

berziarah kubur karena tercakup dalam larangan

nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita juga

mengetahui bahwa tidak terdapat riwayat valid

yang menyatakan bahwa para sahabat dan

generasi salaf melakukan tradisi tebar bunga di

atas pusara. Hal ini menunjukkan bahwa

perbuatan tersebut tidak dituntunkan oleh

syari’at kita.



Oleh karena itu, kita patut merenungkan

pernyataan As Subki, bahwa segala perbuatan

yang tidak pernah diperintahkan dan dilakukan

nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para

sahabatnya merupakan indikasi bahwa amalan

tersebut tidak disyari’atkan. Dalam pernyataan

beliau tersebut terkandung kaidah dasar dalam

pensyari’atan sebuah amalan.



Referensi: ikhwanmuslim dot com

www.KonsultasiSyariah.com
Silakan Login untuk menulis komentar.
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com